Say This to Yourself: I am Enough.

October 20, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Cukup. Sebuah kata indah yang apabila digunakan dengan benar dan baik bisa melegakan diri dan hidup ini. Cukup tidak merujuk pada besaran atau jumlah tertentu, namun konteks kesesuaian dengan apapun yang dibutuhkan. Cukup adalah soal kebutuhan, bukan keinginan, apalagi kerakusan. Ayo bereksperimen sebentar, coba buka lemari pakaian anda dan hitung berapa lembar kemeja / gaun / celana tergantung, berapa tinggi tumpukan kaos dan beragam jenis pakaian lain. Apakah sudah cukup? Jika ya, kenapa masih juga terus belanja atas nama “kebutuhan” agar fashionable? Hal yang sama berlaku untuk makanan, kendaraan, tempat tinggal dan segala bentuk kepemilikan lain. Berapa banyak mobil harus dimiliki (ini belum membahas merek, model dan tahun keluaran lho)? Berapa luas atau jumlah rumah yang harus dimiliki dengan sertifikat hak milik yang secara tegas menyebut nama kita – atau paling tidak anggota keluarga inti? Sampai kapan kita benar-benar bisa merasa … cukup?

Cukup berbanding terbalik dengan satu kata lain yang telah menjelma jadi epidemi menyesakkan… terlebih belakangan ini. Kata itu adalah… sukses. Demi kesuksesan (baca: agar disebut sukses oleh keluarga, teman, orang lain media dan masyarakat), berapa banyak diantara kita yang tidak pernah pernah merasa cukup cerdas, cukup berani, cukup kreatif, cukup inovatif dan cukup hebat? Sukses adalah pencapaian yang dibanggakan… sehingga semakin tampak membanggakan semakin baik. Contohnya jabatan mentereng, gelar berderet hingga seabreg penghargaan. Ini semua menjadi standar minimal hidup sukses. Tanpa itu hidup seolah biasa saja. Cukup menjelma jadi kondisi yang harus dihindari. But what do we really have to pay for our success? When can we really say to ourselves: This is enough. I am enough!

Maaf ya… Ini sama sekali bukan cercaan bagi mereka yang sudah  sukses atau merasa perlu lebih sukses. Ini juga bukan anjuran untuk hidup serampangan tanpa rencana dan minim usaha. Bukan, bukan itu maksudnya. Tidak ada yang salah dengan punya keinginan atau ambisi terlebih untuk hal-hal baik dan membaikkan. Namun punya ambisi tanpa dibarengi kemampuan merasakan – dan mengatakan “cukup!” sama saja dengan naik mobil, tancap gas namun tanpa rem. Bisa celaka. Baik itu mencelakai diri sendiri dan atau orang lain.

Kalau menyitir buku istimewa “the History of Humankind” karya Juval Harari tentang sejarah homo sapiens (baca: manusia modern), species kita memang sangat sulit merasa puas… bisa jadi karena selalu merasa terancam dari predator lain, alam, species manusia lain dan sesama manusia. Kenapa? Karena berbeda dengan species dominan lain yang pernah berada di puncak mata rantai makanan, manusia (baca: kita) hanya perlu waktu kurang dari 10,000 tahun untuk mencapainya. Jadi ada semacam perasaan insecure untuk berada pada posisi ini. Bandingkan dengan waktu ratusan ribu bahkan jutaan tahun yang dibutuhkan oleh singa, hiu atau dinosaurus pemangsa.

Rasa takut telah terbentuk sebagai faktor pendorong bagi manusia untuk waktu yang lama. Kenyataannya manusia, kita, telah menjadi puncak mata rantai makanan di bumi. Kenyataannya, kita telah mengkonsumsi kira-kira dua kali lebih banyak dari yang mampu dihasilkan oleh planet bumi. Kenyataannya juga, kita bertanggungjawab menjaga keberlangsungan hidup mahluk hidup lain dan ekosistem.  Sebuah peran besar yang mutlak butuh kebisaan, kemauan dan keberanian untuk mengatakan “cukup!”

Sudah saatnya ambisi yang didasari ketakutan diganti oleh kecukupan yang didasari rasa cinta. Jika anda naik motor, tidak perlu iri dengan yang naik mobil karena bisa jadi sudah lebih beruntung dibandingkan mereka yang berjalan kaki. “Cukup” is a constant mindset with regards to results, not the effort. Semua sudah cukup. Semua sudah dicukupkan. Dunia sudah diciptakan oleh Sang Pencipta untuk memenuhi semua kebutuhan kita, namun bukan kerakusan kita. Say this to yourself: “I do enough, I have enough, I am enough.”

Apakah hal yang paling anda syukuri dalam hidup ini dan kenapa? Bisakah kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih | Photo via @instagram by @thegoodly