It is Neither Good – nor Bad. It’s Both. Always.

October 15, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Gagal. Kalah. Buruk. Kata-kata bersentimen negatif yang kerap muncul sebagai momok dalam hidup kita. Yakinlah, tidak ada satu manusiapun yang tidak pernah tidak gagal dalam hidupnya. Tidak anda. Tidak saya. Tidak semua. Ya, kan? Mungkin saat gagal dalam ujian kelulusan yang super penting itu. Mungkin juga sewaktu harus menelan kekalahan di pertandingan final. Atau mungkin saat pertemanan atau pernikahan harus kandas ditengah jalan. Bad things happen all the time – and when it happens, it seems that all we can do is to feel… bad. Saya yakin kita sama-sama menyadari fakta ini, tapi tetap saja tidak pernah mudah menerima kegagalan, kekalahan dan segala hal buruk sebagai sebuah… kewajaran hidup. Sehingga tidak heran saat berbagai upaya, apapun itu, dijalankan untuk mencegah hal buruk terjadi.  Ini adalah wujud penolakan manusia atas apapun yang dipersepsikan sebagai… buruk (baca: gagal, kalah, kandas dll).

Entah sejak kapan istilah baik – buruk diperkenalkan dan ditetapkan dalam peradaban manusia. Satu hal yang pasti, dikotomi ini hampir selalu melekat dan dilekatkan pada segala hal seperti kejadian, keputusan, keadaan sampai urusan yang terasa remeh seperti pakaian, makanan atau… potongan rambut. Baju jelek (baca: dipersepsikan jelek) bisa membuat seharian berjalan… jelek. Keputusan untuk pindah rumah ke yang lebih kecil dan sederhana bisa dilihat sebagai buah kegagalan. Lebih ekstrem dari itu mungkin bencana alam, kecelakaan hingga kematian senantiasa dikaitkan dengan hal buruk. Tapi benarkah harus selalu demikian? Well, tidak demikian. Paling tidak menurut Ajahn Brahm, seorang biksu Budha dalam bukunya Good? Bad? Who knows? – yang menginspirasi tulisan ini.

Sebagaimana buku Ajahn Brahm, ilustrasi lebih mudah disampaikan lewat sebuah cerita klasik. Dahulu kala hiduplah seorang petani bijak dengan kudanya. Suatu saat kuda miliknya itu melarikan diri. Dan para tetangga petani itupun datang menyatakan simpatinya: “Maaf sekali kudamu kabur…” Nah, ini jawaban petani itu: “Baik? Atau buruk? Siapa yang bisa tahu?” tentunya disampaikan dengan santai dibarengi senyum tanpa beban. Para tetanggapun bingung karena mereka tahu kuda itu adalah satu-satunya harta paling berharga yang dimiliki si petani.

Keesokan harinya kuda itu kembali bersama selusin kuda liar betina. Para tetanggapun kembali dan mengucapkan selamat atas rezeki tak terduga si petani. Lagi-lagi jawaban yang diberikan si petani tetap sama: “Baik? Atau buruk? Siapa yang bisa tahu?” Lagi-lagi para tetangga kebingungan.

Cerita masih berlanjut… saat si anak petani berusaha melatih salah satu kuda liar, ia terjatuh dan kakinya patah. Para tetangga kembali datang menyampaikan bela sungkawa. Apa jawaban si petani? Masih sama: “Baik? Atau buruk? Siapa yang bisa tahu?” Dan benar saja, karena keesokan harinya datanglah tentara kerajaan untuk memaksa semua orang muda yang sehat untuk pergi berperang. Karena kakinya patah, anak si petani tidak termasuk dalam rombongan itu. Cerita ini bisa diteruskan sampai kapanpun namun moral ceritanya sama: tidak ada yang tahu apakah sesuatu itu baik atau buruk. Tentunya dengan pengecualian Sang Pencipta yang Maha Mengetahui.

Bisa jadi manusia perlu mengakui keterbatasan panca indra dan pemikirannya untuk mengelompokkan apapun kedalam dikotomi baik-buruk. Apapun yang dianggap baik belum tentu demikian adanya… contoh: Kekayaan, ketenaran dan kekuasaan itu baik? Bisa ya. – Tapi bisa juga justru membuat orang jauh dari perasaan bahagia. Sebaliknya, apapun yang dianggap buruk boleh jadi … justru baik bahkan membaikkan. Apa contohnya? Bencana alam… seringkali justru merekatkan tali persaudaraan antar manusia. Dan pembanguan pasca bencana seringkali melebihi kondisi sebelum bencana. Sejujurnya apapun bisa baik dan membaikkan – sebagaimana apapun juga bisa buruk dan memburukkan… semua hanya ada dalam pikiran sebagaimana celoteh Shakespeare: “There is nothing good – or bad, but thinking makes it so.”

Pernah mengalami kondisi good.. bad.. who knows? dalam hidup anda? Apa ceritanya? Bisakah kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih | Photo via @instagram by @dave.krugman