Beware. Hope & Fear – Both Inspires Actions

October 9, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Bayangkan lalu lintas Jakarta setelah hujan deras pada sore hari saat jam pulang kantor. Riuh-ramai. Macet, Chaos. Dalam kondisi tersebut tabrakan antara sebuah mobil dan motor terjadi akibat saling berebut jalur yang menyempit dan tengah super padat. Kedua pengemudi merasa benar sekaligus juga merasa dipersalahkan oleh pihak lain. Tidak ada polisi sebagai penengah. Walhasil, adu argumen berganti dengan saling teriak dan bertukar makian. Dalam kehebohan ini, beberapa pasang mata memperhatikan kejadian yang sama namun dengan asumsi masing-masing… Dan selanjutnya membagi asumsi-asumsi mereka tadi kedalam beragam platform media sosial yang dibaca ribuan hingga jutaan orang lain.

Sepasang mata pertama menulis di tweetnya: “Duh! Teganya pengguna mobil mewah memaki pengemudi motor yang tengah kehujanan…” … tentunya dengan menyertakan photo relevan. Sepasang mata kedua memposting di akun instagramnya: “Motor ugal-ugalan menabrak mobil yang sedang berhenti. Eh, malah minta ganti rugi pula. Kasar lagi!”… juga dengan mengikutkan photo sesuai. Sepasang mata ketiga mengetik di linimasa FB miliknya: “Inilah yang terjadi saat pembangunan fisik tidak diikuti oleh pembangunan moral bangsa. Kekacauan lalu lintas adalah cermin rendahnya kesadaran berbangsa dan bernegara. Mau dibawa kemana negeri ini?” … masih diiringi photo yang lagi-lagi tampak pas dengan tulisan tadi. Setiap pesan dibaca oleh masing-masing followers, teman atau fans sepasang mata-mata itu – sebagian mengomentari dengan berbagai cara. Dan sebagian lain meneruskannya untuk dibaca lebih banyak orang.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya? Satu kekisruhan relatif kecil memicu (banyak) kekisruhan lain… mulai antara pengemudi motor dan mobil hingga urusan politik bernegara. Jika cerita ini diteruskan tidak aneh jika perseteruan berlanjut antara si kaya dan si miskin, antar etnis tertentu, antar agama tertentu bahkan antar golongan tertentu. Satu kejadian diantara dua orang memicu beragam sentimen negatif pada banyak orang. Bayangkan apa yang terjadi saat setiap kejadian tertentu direkam, dinarasikan dan diarahkan untuk semakin menyulut emosi tertentu, dalam hal ini … fear atau ketakutan! Marah sesungguhnya hanyalah refleksi rasa takut. Semakin marah adalah indikasi kuat semakin besar ketakutannya.

Fear drives actions, the same way with hope. Ketakutan dan harapan adalah dua emosi yang akan selalu berujung pada hal sama: actions! Dan media sosial menjadikan proses ini lebih cepat, lebih luas dan lebih mendalam. Yang memilih rasa takut – sebagaimana cerita diatas – akan semakin ketakutan dan menakutkan. Kabar baiknya, demikian pula sebaliknya… yang memilih harapan akan semakin dipenuhi harapan dan menyebarkan harapan. The choice is yours – mine and everyone’s.

Obat ketakutan adalah… harapan. Dan harapan senantiasa dibutuhkan setiap orang yang masih mempunyai nafas dalam tubuhnya – entah mau diakui ataupun tidak. Harapan agar pekerjaan, bisnis dan kehidupan akan menjadi lebih baik. Harapan untuk anak keturunan yang lebih menjanjikan. Harapan akan hari esok yang lebih cerah. Apapun itu, harapan menjadi pemicu keberanian – dan ketahanan dalam menghadapi ketakutan. Jadi bagaimana cara praktis memelihara dan melindungi harapan?

Pertama, sebelum berkomentar, berucap, berargumen – terlebih pada platform media sosial, gunakan pedoman Socrates “Test of 3” atau “Uji yang 3” yaitu: (1) Apakah yang akan disampaikan benar sebenar-benarnya? (2) Apakah yang akan disampaikan baik sebaik-baiknya? (3) Apakah yang akan disampaikan akan membawa manfaat bagi penerimanya? Nah, jika salah satu saja jawabannya TIDAK, maka berita apapun TIDAK PERLU ditulis, dikomentari apalagi diteruskan. Terkait cerita diatas, biarkan dua orang tadi menyelesaikan urusan mereka – atau boleh juga membantu jika diminta. Tidak sepasang matapun tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak sepasang matapun bisa meyakini hal baik dari kejadian itu. Dan tidak sepasang matapun mampu memastikan manfaat berbagi cerita itu.

Akui saja kalau kita sangat jarang bisa memenuhi “Uji yang 3” ala Socrates. Terima saja walaupun linimasa jadi sepi. Nikmati mempunyai harapan dalam kehidupan ini. “It’s not enough to just live – you have to have something to live for.”

Bagaimana anda mengelola media sosial anda? Berita atau informasi apa yang anda teruskan – dan ternyata tidak sesuai dengan Uji yang 3 diatas? Apa ceritanya? Bisakah kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih.