Please Read This If You are Not (Yet) Consistent

September 28, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Judul tulisan ini selengkapnya adalah: “Silahkan baca jika anda tidak konsisten… seperti saya!” 😉   Ya, saya akui saya tidak konsisten atau lebih bijak jika dikatakan sebagai … masih berusaha untuk bisa (lebih) konsisten dalam hidup. Siapapun yang kenal dan pernah bekerja dengan saya pasti akan tahu hal fakta ini. Mulai dari hobi photography yang hanya bertahan selama beberapa tahun sebelum akhirnya beralih ke hobi lain, airsoft gun. Ceritanya juga sama, tidak konsisten menjalani airsoft gun hingga kemudian pindah ke hal lain dan menjual (murah) semua piranti yang pernah dibeli. Bukan cuma sekedar hobi, namun juga berlaku untuk hal-hal lain seperti topik pembahasan, model pakaian, makanan kesukaan hingga warna favorit. Daftar “dosa” ketidak-konsistenan” saya lumayan panjang dan mungkin lebih panjang jika ditanyakan ke istri atau rekan kerja saya.

Saya ingin sekali untuk bisa (lebih) konsisten, terlebih terkait beberapa hal yang saya pandang penting dan mendesak. Salah satunya adalah dalam hal beribadah – terlebih setelah menjalani ibadah haji beberapa minggu lalu. Ada keinginan menggebu untuk lebih berkomitmen, lebih berkelanjutan … dan lebih konsisten dalam menjalankan peran sebagai mahluk ciptaanNya. Namun pada sisi lain saya juga khawatir dengan rekam jejak dan komentar orang-orang terdekat tentang konsistensi saya untuk tidak konsisten selama ini. Apakah mungkin saya bisa melatih diri jadi (lebih) konsisten?

Jika jawaban “ya” untuk pertanyaan diatas cukup memadai untuk jadi lebih konsisten, tentu saya tidak akan pernah punya problem konsistensi. Kenyataannya komitmen selalu, dan terlalu mudah diucapkan tapi sulit untuk dijalankan (dengan konsisten). Terlebih apabila komitmen sekedar dilontarkan untuk membuktikan betapa salahnya orang-orang yang mengatakan saya tidak pernah bisa konsisten. Maksudnya? Ya, menjaga konsistensi tidak cukup dengan hanya mengandalkan modal “agar tidak lagi disebut tidak konsisten” atau “agar dibanggakan oleh orang-orang sebagai orang paling konsisten” – No. That would not work. Or that would only work temporarily… inconsistently.

Dalam proses mencari teori atau jawaban agar bisa jadi (lebih) konsisten, saya mendapati sebuah definisi menarik … bahwa manusia (baca: saya, anda dan kita semua) dikenal sebagai mahluk yang senantiasa tergesa-gesa, berprasangka buruk dan … inkonsisten alias tidak konsisten. Tulisan ini paling tidak bisa membuat saya sedikit lebih lega karena paling tidak problem tidak konsisten ini ternyata bukan cuma problem saya seorang, namun problem kita semua sebagai spesies. Dan boleh jadi tulisan saya inipun termasuk kedalam validasi tambahan tentang manusia yang kerap tergesa-gesa dan berprasangka buruk 😉

Nah, dalam proses pencarian “pil konsisten” ini saya memberanikan diri untuk mengajukan sebuah teori bodoh-bodohan. Kenapa? Karena sepertinya baru berlaku untuk saya dan masih harus diujicoba oleh anda jika berkesempatan membaca tulisan ini. Teori tersebut kurang lebih sbb: K = (Lr x Tr x Or)mk

K = Konsistensi untuk apapun adalah hasil perkalian antara Lr = Lokasi Relevan, Tr = Teman Relevan , Or = Obrolan Relevan, dan pangkat m = mindful serta k = kindful.

Mudahnya begini. Jika anda ingin melatih konsistensi – katakanlah seperti saya untuk lebih konsisten beribadah maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah dimana anda membiarkan diri anda hadir (baca: masjid atau mall), dengan siapa (mereka yang mendukung atau menentang) dan membicarakan apa (bahas spiritual atau gosip). Hubungannya perkalian karena jika salah satunya tidak relevan maka angkanya akan nol atau negatif. Fungsi pangkat mindful & kindful artinya jika semua dijalankan dengan sepenuh hati dan welas asih maka hasilnya adalah konsistensi “tingkat dewa.”

Namanya juga teori bodoh-bodohan jadi tidak perlu terlampau dipikirkan namun boleh dicoba untuk melatih konsistensi dalam hal apapun. Paling tidak teori ini menawarkan komponen yang berada dalam kendali diri. Selamat mencoba.

Jika anda punya pendapat atau telah mencoba teori ini – atau punya teori lain tentang melatih konsistensi, bisakah kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih.