Now is the Time to Learn to Quiet Your Mind

September 21, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Saya tahu anda lelah – terutama sebagian besar dari kita yang menjalani hidup di kota-kota besar seringkali merasa… lelah, letih dan lesu. Kondisi ini bahkan terjadi tanpa disadari oleh sang empu hidup (baca: diri sendiri). Akhir pekan terasa berlangsung terlalu cepat dan hampir selalu dihabiskan dengan tidur, makan dan tidur lagi. Hari-hari kerja berlangsung panjang diantara dua ekstrem yaitu membosankan atau penat. Semua kegiatan dilakukan ala kadarnya atas nama kebutuhan hidup. Hampir-hampir tanpa rasa, tanpa makna, tanpa hikmah. Apapun yang dilakukan hari ini sekedar kelanjutan apa yang dilakukan kemarin. Penyebabnya bukan semata karena jam kerja panjang, beban kerja berlebih atau kemacetan parah yang harus jadi “santapan” rutin setiap hari, bukan itu. Namun, saya duga karena kita semakin sulit menemukan ruang-ruang hening dalam kehidupan.

Apa maksudnya? Ruang hening bukan sekedar tempat yang sepi (walaupun yang ini juga sudah semakin jarang dijumpai), tapi kesempatan untuk menenangkan diri dengan mengamati, mengakui dan merasakan apapun yang terjadi dalam keseharian kita. Ya, ruang hening dalam diri itupun semakin sempit, bahkan menghilang. Pikiran menjelma jadi yang paling berkuasa dalam diri. Dan pikiran senantiasa riuh memikirkan segala hal… apapun itu; reaksi atas linimasa twitter/IG/Snapchat yang berisikan ribuan “teman”, angin topan di Amerika Serikat, berita pembantaian, pembunuhan, artis cerai, kawan buka toko online, mantan menikah, politik (terlebih yang ini) dan berbagai hal lain yang tidak terhitung. Dalam era media sosial seperti sekarang, SELALU ada hal-hal yang “perlu” dipikirkan. Information overload. Bukankah begitu?

Dengan rata-rata 540 menit per hari, konon kita, orang Indonesia, menghabiskan waktu terbanyak dibandingkan bangsa lain didepan layar-layar gadget termasuk smartphone, tablet dan laptop. Angka 540 menit itu setara dengan 9 jam atau kurang lebih 3-4 durasi film bioskop setiap hari oleh setiap orang. Nah, jika kita tidur 8 jam per hari.  maka lebih dari separuh waktu terjaga dihabiskan untuk bekerja, bermain dan berinteraksi secara virtual. Ini angka dahsyat mengingat waktu yang tersisa masih belum memperhitungkan alokasi untuk mandi, makan dan lain-lain. Sehingga jangan heran jika tidak ada ruang hening dalam pikiran.

Kenapa hening dibutuhkan – terlebih sekarang? Because silence is the teacher & the healer – ini menurut Ajahn Brahm. Pemikiran selalu riuh memikirkan segala hal karena dibiarkan melompat-lompat tanpa kendali. Pemikiran juga membuat diri semakin sulit untuk sepenuhnya hadir disini pada saat ini (baca: karena kita tidak pernah hidup pada masa lalu atau masa depan). Dan ini yang sungguh sangat melelahkan. Lelah yang akan berakibat pada fatigue (kelelahan hebat), kekhawatiran, ketakutan dan … depresi.

Berdiam, membiarkan diri berada dalam hening – terlebih hening pemikiran – secara berkala adalah persyaratan utama untuk bisa benar-benar memiliki kesadaran dalam keseharian. Dan kesadaran adalah pintu gerbang kehidupan yang lebih bahagia, lebih damai & lebih bermakna.

Caranya? Banyak sekali teknik-teknik meditasi yang bisa diakses di google atau youtube, namun beberapa prinsip penting yang perlu dipahami: Pertama, pemikiran pada dasarnya hening, terlebih jika tidak senantiasa diprovokasi oleh asupan informasi berlebih seperti media sosial & gadget.

Kedua, hening tidak tergantung kondisi sekitar namun komitmen diri. Artinya keheningan bisa dicapai tidak hanya dalam kelas-kelas meditasi, beribadah atau spa, namun saat diri memilih untuk sepenuhnya hadir. Bisa saat sedang ngopi, jalan kaki, naik kendaraan umum atau bahkan saat bekerja.

Ketiga, terus menerus melatih diri untuk sadar – dan meninggikan kesadaran. Hal paling mudah yang bisa dilakukan adalah dengan tidak menjadikan pikiran sebagai lawan yang harus dikekang, namun sebagai obyek mengasyikan untuk diamati, diakui dan dialami. Percayalah, saat anda sadar tengah memikirkan sesuatu hal, anda sudah tidak hanya berpikir. Sebagaimana orang yang sadar dia sedang marah tidak akan marah-marah. Dan orang yang sadar dia sedang sedih tidak akan depresi. Kendali pikiran kembali pada diri anda.

The nature of your mind is quiet. The nature of your being is well.

Apakah pernah melatih teknik-teknik menenangkan pikiran? Bagaimana hasilnya? Boleh kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih.

  • murti Jr

    “Sejenak hening” bukunya mas Adjie silarus