It’s All about the Little Things

September 10, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Saya, mungkin juga anda dan banyak diantara kita, seringkali lebih mementingkan hal-hal besar karena… terasa lebih penting atau patut dipentingkan karena besarannya. Contohnya? Keputusan membela calon tertentu pada Pilpres atau Pilkada – bahkan yang terjadi di negeri lain sekalipun – terkesan lebih penting dari pada menjaga omongan di media sosial. Sehingga kemenangan atau kekalahan calon andalan seolah melegitimasi cuitan atau postingan apapun, bahkan yang paling menyebalkan sekalipun.

Apa lagi?

Keputusan pilihan tempat kuliah atau tempat kerja tampak lebih penting daripada keputusan untuk mengenali diri sendiri lewat percakapan, eksperimen dan kreasi. Sehingga tidak jarang kuliah atau bekerja sekedar untuk meninggikan prestise, bukan untuk memunculkan karya yang bisa dirasakan orang lain. Contoh terakhir: Keputusan untuk segera menikah atau punya anak… sesegera mungkin agar tidak lagi dipertanyakan statusnya seringkali dalam skala prioritas jauh lebih tinggi daripada keputusan untuk tersenyum sekarang… walaupun tanpa kehadiran siapapun, atau siapapun yang kita kenal. Bener nggak?

Siapapun kita dan dimanapun kita saat ini senantiasa ditentukan oleh keputusan-keputusan yang pernah kita ambil sebelumnya. Dan seringkali, keputusan-keputusan kecil tentang hal-hal yang terkesan remeh temeh justru berdampak paling besar dalam kehidupan. Ya, keputusan-keputusan kecil yang seringkali dilupakan atau terlupakan. Keputusan-keputusan kecil untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang terasa simple, trivial dan non essential.

Bukankah keputusan untuk tidak gampang senyum atas nama jaga image yang berakibat pada lingkup pertemanan terbatas dan pencapaian yang begitu-begitu saja? Bukankah keputusan untuk makan gorengan itu yang berujung pada lingkar perut membesar dan rongga dada menyesak? Bukankah keputusan untuk tidak berkata jujur atas hal-hal paling remeh yang bermuara pada segala bentuk ketidakpercayaan dari orang sekitar anda? Jangan khawatir, contoh-contoh ini diperoleh dan ditujukan kepada saya pribadi.

Asumsi bahwa satu keputusan kecil dan remeh tidak berpengaruh harus dibongkar habis. Itu salah besar dan salah total. Sekecil dan seremeh apapun keputusan itu akan berpengaruh dalam hal-hal paling besar dan prinsip dalam pekerjaan, karier dan kehidupan.

Setiap keputusan kecil tidak akan pernah berdiri sendiri karena senantiasa menjadi rangkaian dengan keputusan-keputusan lain setiap hari, setiap saat. In short, every small decision matters because there are so many of them to be made.

Berbeda dengan keputusan besar yang butuh banyak waktu, pemikiran dan pertimbangan, keputusan kecil butuh kecepatan, ketepatan dan komitmen dalam memutuskannya. Memilih untuk membaca Al Quran atau Bible atau kitab suci yang anda yakini selama 15 menit setiap hari bisa jadi tidak berarti banyak. Namun bayangkan saat 15 menit ini terjadi selama seminggu, sebulan, setahun bahkan bertahun-tahun. Saya percaya perbedaannya bakal nyata dan dahsyat.

Nah, sekarang ganti keputusan “membaca kitab suci 15 menit setiap hari” – dengan apapun yang relevan untuk anda. Pahami bahwa keputusan-keputusan kecil mulai dari memilih untuk senyum saat bangun tidur hingga memilih untuk berdoa sebelum
memejamkan mata – adalah rangkaian batu bata pembentuk perilaku, karakter dan kehidupan anda. Be mindful – and be kind at the same time before making any decision.

Tulisan ini saya tutup dengan mengutip ungkapan dari seorang teman: “Small decisions are your training ground to make better, kinder and wiser big decisions in your life.”

Question:
Apa keputusan kecil yang anda ingat pernah anda putuskan? Dan bagaimana dampak keputusan itu pada kehidupan anda? Boleh berbagi cerita dengan saya di IG / Twitter @ReneCC atau email: rene.canoneo@gmail.com. Terima kasih.