The Future = Endless Possibilities

August 28, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Saya yakin kita semua bisa menyepakati kalau masa depan tidak pasti, kecuali kematian dan pajak… ini menyitir ungkapan Benjamin Franklin yang super cerdas dan jenaka. Pemahaman soal ketidakpastian relatif oke untuk hal-hal besar seperti perekonomian, bisnis dan politik. Contoh? Apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa terus dipertahankan sampai 2 tahun kedepan? Mungkin saja tapi ya itu tadi… tidak pasti. Bisakah Bapak Presiden Jokowi melanjutkan kepresidenan untuk 5 tahun berikut? Bisa tapi tidak bisa dipastikan. Dan apakah prospek industri/bisnis [… silahkan isi sendiri…] bakal terus bersinar untuk 2018? Bisa saja bersinar, bisa juga meredup atau bahkan padam. Nobody knows for certain. And that’s mostly okay for most people. Pengecualian untuk contoh-contoh diatas jika anda ekonom, pendukung garis keras atau mereka yang memperjudikan hasil atau pencapaian tertentu. Hey, percayalah, saya tahu beberapa orang yang cukup gila untuk melakukan hal-hal gila seperti ini.

Nah, pemahaman ketidakpastian cenderung semakin sulit dipahami, dimengerti – terlebih diterima – untuk hal-hal yang semakin dekat pada urusan pribadi. Ketidakpastian pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan lebih mengkhawatirkan dibandingkan ketidakpastian apakah gaji berikut bakal diterima atau tidak. Ketidakpastian siapa yang memimpin negeri ini dalam pilkada atau pilpres berikut memang menggelisahkan namun tidak semenggelisahkan ketidakpastian investasi uang pribadi yang telah dibenamkan dalam bisnis tertentu. Dan ketidakpastian industri perbankan / telekomunikasi / transportasi / digital / makanan atau apapun itu, tidak akan semenakutkan dibandingkan ketidakpastian hubungan percintaan apakah itu masih pacaran atau sudah menikah. Bukankah demikian?

Semakin dekat dengan urusan pribadi, semakin kita mencari kepastian. Bank itu – atau bahkan industri perbankan – boleh saja oleng, tapi jangan sampai uang saya hilang. Jagoan lawan bisa saja memenangkan pertarungan di kancah politik tapi jangan sampai saya kalah dalam kancah pertarungan di hatimu … #lebay. Apa lagi? Lebih pasti pegang uang cash – atau punya sertifikat hak milik untuk tanah dan bangunan milik kita. Ya, tanpa sadar keinginan untuk memastikan banyak hal ditengah kehidupan yang tidak pasti telah menjelma jadi candu. Dan ketidakpastian … telah menjadi momok paling menakutkan dalam menjalani keseharian.

Apapun yang dipikirkan atau dibayangkan tentang masa depan oleh siapapun tidak ada yang pasti. Masa lalu telah terjadi tanpa ada satu kekuatan apapun yang bisa mengubahkan. Sementara masa depan senantiasa dipenuhi countless possibilities (baca: kemungkinan yang tak terhingga) dengan peluang sama untuk terjadi. Namun kenapa anda, saya dan kita saat ini senantiasa memilih untuk melihat kemungkinan buruk hingga terburuk? Atau paling tidak mengkhawatirkan jika yang akan terjadi adalah kemungkinan yang tidak kita dikehendaki? No one is wrong today about the future.

Tidak heran saat kata syukur semakin sulit dirasakan. Tidak aneh jika saat ini dan kini hanya diisi oleh kekhawatiran dan ketakutan.   Jika saja kita – manusia – bisa belajar menerima dan mengakui kalau apapun mungkin terjadi bisa saja terjadi. Dan apapun itu berada di luar kendali diri maka hidup akan lebih asyik, seru dan baik. How the future will be? Good – or bad? Who knows? No one.

Jadi harus gimana dong saat ini? Pertama, relax, you are not in control. Menerima kenyataan kalau kita tidak memegang kendali atas apapun selain diri sendiri itu pilihan yang … sangat waras. Jauh lebih sehat dan menyehatkan jiwa. Kedua, akui apa yang diketahui dan aku juga apapun yang tidak diketahui… termasuk dalam hal ini segala ketidakpastian dan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Terakhir, over communicate – komunikasikan setiap informasi baru, peristiwa baru dan pemahaman baru kepada siapapun yang dipandang perlu tahu dan terlibat. Do these steps… please. Why? Because only fools believe their own predictions.

Pernah punya prediksi tentang masa depan dan salah… atau benar? Apa yang dipelajari dari proses itu? Bagaimana ceritanya? Boleh kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih.