#BukanMotivator

August 28, 2017 | ELSA

SCROLL TO READ

Saya sempat berpikir ulang apakah judul di atas tepat untuk tulisan saya kali ini. Beberapa kali sudah diganti, tapi selalu kembali ke judul ini. Akhirnya, so be it.

Kenapa ribet banget, padahal baru judul?

Begini ceritanya.

Dalam lingkar pertemanan saya dan sejumlah teman yang menekuni profesi sebagai pengajar dan pembicara, sempat beredar internal jokes yang berujung dengan hashtag di atas.

Topik ini mengemuka karena at some points kita sama-sama merasa kurang nyaman ketika profesi yang ditekuni ini membuat sejumlah pihak kerap memberi tambahan label motivator.

Bukan sok asik, bukan juga karena merasa profesi yang satu lebih tinggi dari lainnya. Sederhana saja. Menurut saya, dibalik kata motivator itu sesungguhnya terdapat tanggung jawab yang sangat besar.

Kalau kita mau menyempatkan diri memahami makna besar dibalik penggunaan label tersebut, yakin deh, pasti bakal mikir dua kali untuk menepuk dada dan menyebut diri seorang motivator.

Motivation is a BIG word

Beberapa kali, sejumlah peserta pelatihan yang saya fasilitasi, menghampiri di akhir sesi. Umumnya mereka sharing, betapa sesi itu menginspirasi dan menggugah untuk berubah.

“Makasih ya, Mbak.  Saya termotivasi sekali dengan apa yang disampaikan di kelas tadi.”

Tentu, saya senang dan bersyukur sekali untuk itu. Minimal, apa yang saya sampaikan dapat dicerna dengan baik, atau bahkan menggugah. Itu berarti,  sedikit-banyak berdampak pada yang bersangkutan.

Tapi, tunggu dulu. Yang didengar dan dianggap menginspirasi, belum tentu otomatis berbuah tindakan.

Jadi, sampai di sini, jangan buru-buru mengambil kesimpulan bahwa kita telah berhasil memotivasi mereka.

Ya elah ngapain sih ribet amat?

Iya. Kita harus pastikan dulu, apa kita sudah paham apa dan bagaimana motivasi itu bekerja?

Silakan cari referensi. Banyak sekali para ahli yang menjelaskan hal ini melalui berbagai teori. Biasanya, yang paling sering muncul ialah Teori Herzberg, Maslow, Vroom atau Alderfer.

Mau pakai teori yang mana, tentu tergantung pada konteksnya.

Apakah aplikasinya pada tingkat individual, atau sosial misalnya dalam organisasi? Siapa yang memiliki kebutuhan untuk perubahan ini, diri sendiri atau faktor eksternal? Serta banyak dimensi lainnya.

We can always inspire people to change, but we can never change them.

Motivasi. Tindakan. Perbaikan.

Tentu Anda bisa merasakan kaitan antara tiga kata itu.

Intinya, perubahan.

Ketika seseorang atau sekelompok orang mengambil sejumlah tindakan untuk kemudian berubah, itu murni karena keputusan mereka sendiri.

Coba rasakan dan hayati baik-baik. Tidak ada yang dapat mengubah Anda maupun saya, kecuali keputusan kita sendiri untuk melakukan sejumlah tindakan yang terwujud dalam perubahan tingkah laku.

Artinya, kalau kita memilih menggunakan kata ‘memotivasi’ selayaknya kita mampu membuat perubahan pada mereka yang mengaku termotivasi ini.

How do we know this? We don’t.

Mengubah perilaku, yang dalam Psikologi punya bahasa keren Behavior Intervention, butuh sederet kondisi dan elemen pendukung.

Bayangkan beberapa skenario di bawah ini:

  • Beberapa anggota tim Anda di kantor sering kali terlambat masuk kerja. Anda ingin mengubah perilaku mereka agar tak jadi sorotan manajemen dalam hal disiplin waktu.
  • Anak Anda yang masih duduk di bangku sekolah dasar kerap lupa dan jarang berinisiatif mengerjakan tugas-tugas sekolah. Anda ingin sekali mengubah perilakunya agar ia dapat lebih mandiri, proaktif dan bertanggung-jawab dalam studi.
  • Kinerja para salesforce di perusahaaan Anda (profesi yang kerap menjadi ‘sasaran empuk’ sejumlah kelas ‘Program Motivasi’) lebih diukur dari angka penjualan, bukan dari target. Anda terbebani untuk mengubah perilaku sebagian dari salesforce yang kinerjanya kurang baik agar dapat lebih produktif.

Ingat, perubahan terlihat dalam bentuk perilaku. Adanya tindakan.

Mari kita rasakan apa yang dilakukan dalam sesi-sesi di kelas, atau melalui seminar akbar yang melibatkan banyak peserta.

Biasanya, aktivitas ini dilakukan oleh seorang atau lebih pembicara, dengan durasi berbeda-beda. Mulai dari program setengah hari hingga tiga hari. Ini yang kerap saya dan rekan-rekan lakukan.

Tapi pembicara bukan elemen utama. Program itu sering kali dipadukan dengan sejumlah metode yang semakin berkembang menjadi sangat ‘kreatif’.

Selain melibatkan multimedia yang menggugah, baik dari tampilan visual di layar hingga pilihan lagu-lagu pengiring sesi, ada juga yang bahkan melibatkan fire walking, atau memecahkan asbes, diiringi sejumlah yel-yel dan pekikan semangat.

Aktivitas di atas baru merupakan salah satu treatment atau tindakan yang efeknya memberikan awareness atau menggugah kesadaran. Paling mentok, ya  menginspirasi dan menggugah.

Hasil dari proses ini masih berada pada tingkat wacana, belum menjadi tindakan.

Artinya, melalui treatment di atas, tim Anda yang sering terlambat masuk kantor bisa diingatkan bahwa perilakunya harus diubah.

Anak Anda yang belum juga bisa belajar dengan mandiri bisa jadi terinspirasi bahwa ia harus mulai lebih bertanggungjawab.

Para salesforce bisa saja menjadi lebih bersemangat setelahnya, dan lebih terpacu untuk berprestasi dengan baik.

Apakah setelah itu otomatis terjadi perubahan tingkah laku? Belum tentu.

Ada banyak faktor lain yang dibutuhkan agar perilaku berubah. Ingat istilah behavior intervention tadi kan? Bentuknya macam-macam, mulai dari konsekuensi, reward, hingga peraturan baru.

Bisa jadi,  setelah treatment  itu  Anda harus menegaskan kepada tim di kantor, bahwa terhitung awal bulan depan, keterlambatan hanya akan ditolerir maksimal 15 menit terhitung jam operasional, dan paling banyak tiga kali dalam sebulan.

Kepada anak Anda, disiplin baru dimulai, ketika tugas tidak dikerjakan. Misalnya,  no internet and gadget during weekend.

Lalu kepada para salesforce yang tidak menunjukkan peningkatan kinerja pada sales quarter berikutnya, akan dilakukan pengurangan komisi, atau demosi.

Jelas di sini ada perbedaan yang mendasar antara memotivasi dan menginspirasi seseorang.

Sebagai contoh lagi.

Saya mengikuti dan kagum bagaimana Oprah Winfrey mengatur pola makan dan aktivitas olahraga. Bahkan, saya membeli buku karangan Bob Greene, personal trainer-nya.

Saya terinspirasi bagaimana seorang Oprah Winfrey begitu rupa merawat kesehatannya.

Apakah saya sudah mengubah pola makan dan olah raga saya?
Hehe.. jujur, belum tuh.

Lalu apakah saya menjadi skeptis dengan istilah Motivator?

Sama sekali tidak. Saya justru ingin menekankan betapa proses memotivasi itu tidak sederhana, dan harus dilakukan dengan lebih bertanggung-jawab.

Tentu saja sangat positif, ketika kita mampu memberikan inspirasi pada orang lain. Misalnya, melalui kelas dan forum seperti yang dilakukan saya dan rekan-rekan.

Atau dengan cara berbagi gaya hidup sehat secara konsisten, seperti yang ditunjukkan oleh my fellow coaches @sheggario dan @marrywhoana.

Atau lewat program yang dikampanyekan melalui media sosial demi menjangkau lebih banyak orang  untuk merasakan manfaat, Misalnya program clean eating yang  dikampanyekan oleh @ingetumiwa_bachrens dan @nirashadarusman.

Menginspirasi berarti kita mampu menggugah mereka yang terinspirasi secara mental maupun emosional dengan cara yang berbeda-beda.

Memotivasi, seperti telah diuraikan di atas, adalah proses yang lebih advance lagi yang hanya dapat dikendalikan oleh individu bersangkutan.

Be accountable on who we said we are

Sejak masih bekerja di korporasi,  saya paling geregetan jika ‘sesi motivasi’ yang banyak dijadikan solusi untuk meningkatkan kinerja.

Saya sering mempertanyakan, apakah terdapat korelasi positif antara memberikan sesi sejenis tanpa melakukan studi komprehensif tentang hal-hal yang relevan terhadap para peserta Misalnya, bagaimana kondisi di lapangan, prosedur terkait, dan sebagainya.

Biasanya saya juga menanyakan seberapa besar dampak yang diharapkan dan apakah bisa diukur. Seringkali pertanyaan ini  hanya dijawab dengan senyuman oleh yang bersangkutan.

Dalam fungsi saya membawahi proses Learning & Development, saya harus berhadapan dengan permintaan dari unit bisnis: harus ada pertanggungjawaban efektivitas proses belajar.

Salah satu cara menilai efektivitas program proses pelatihan, adalah melalui evaluasi pencapaian tujuan instruksionalnya. Misalnya:

[1] Dari belum memahami proses pengoperasian sistem XYZ, menjadi memahami dan mampu mengoperasikan sistem XYZ.

[2] Dari tidak mengetahui Product Knowledge ABC menjadi paham dan mampu menjelaskan Product Knowledge ABC.

Tapi bisakah kita dengan tegas menyampaikan hal seperti berikut:

[3] Dari tidak termotivasi untuk menghasilkan kinerja penjualan dengan baik, menjadi termotivasi untuk menghasilkan kinerja penjualan dengan baik.

Ingat, motivasi ditandai dengan perubahan perilaku.

Tentu memberikan penilaian afirmatif atas pernyataan (3) di atas tidak semudah ketika kita mengangguk dengan pasti untuk pernyataan (1) dan (2) di atas.

Mengubah perilaku juga berkaitan dengan dimensi waktu. Perlu proses. Maka sesi motivasi dua hari bahkan seminggu sampai pesertanya pegel, tidak akan pernah bisa bersifat stand alone mengubah perilaku. Banyak studi yang mendukung hal ini.

Dari penjelasan ini, tentu terlihat besar sekali tanggung jawab di balik makna sebuah label Motivator ini. Bahkan panggilan sebagai Motivational Speaker pun masih berasa beratnya.

Lalu sebaiknya bagaimana?

Kalau saya, tetap lebih memilih untuk disebut sebagai pengajar, fasilitator, atau mungkin teman ngobrol.

Jadi, kalau kita ketemu, jangan pernah panggil saya ‘Mbak Motivator’ ya.

Matur suwun.