Just Speak Up – Not Only Your Minds, But on How You Feel

August 21, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Sungkan. Satu kata yang bisa jadi mendasari berbagai ketidak-asyikan, kerepotan hingga kekisruhan pada banyak organisasi di negeri ini. Ya, sungkan – alias perasaan nggak enak untuk ngomong (padahal belum dicoba) atau segan untuk bertindak karena berbagai asumsi (baca: keriuhan pikiran yang hanya terjadi pada pemikiran). Mau tahu penampakan problem-problem organisasi akibat sungkan? Coba perhatikan suasana ruang meeting yang hanya didominasi oleh suara si boss. Anak-anak buah terdiam seribu bahasa sambil menyibukkan diri dengan pemikiran masing-masing dan gadgetnya. Apa lagi? Perhatikan 2-3 baris paling depan saat sesi-sesi training yang kosong melompong. Kursi-kursi terdepan hanya untuk orang-orang penting dalam organisasi dan mereka yang dianggap penting oleh orang-orang penting itu. Dalam kondisi ini formalitas merajalela, asumsi menjelma menjadi norma dan berbagi rasa menjadi sesuatu yang asing. Nah, kalau ditanya kenapa musti sungkan? Jawaban-jawaban berikut yang paling sering saya dengar:

“Gak bakal didengar karena gak pernah didengar juga…”

“Percuma… Gak ada untungnya.”

“Kenapa musti saya yang ngomong. Nanti ada yang tersinggung lagi.”

“Ujung-ujungnya nanti saya juga yang dipersalahkan. Terus dipecat.”

“Bingung musti ngomong apa sama siapa, kapan dan gimana…”

Bicara – terlebih bicara terbuka apa adanya dalam banyak organisasi sama sekali bukan hal mudah. Kenapa? Karena sungkan memicu percakapan antara role to role (baca: peran ke peran lain), bukan person to person (baca: manusia ke manusia lain). Sehingga Sang Presiden Direktur bicara pada Manager. Boss bicara pada anak buah. Pengguna jasa bicara pada pemberi jasa. Perwakilan satu institusi bicara pada perwakilan institusi lain. Sungguh tidak manusiawi. Tidak ada ruang untuk empati. Tidak ada kepedulian. Tidak ada kasih sayang.

Maka jangan heran jika letupan emosi kerap kali muncul saat satu peran bersinggungan dengan peran lain walaupun untuk perkara yang paling sepele sekalipun. Lebih heboh lagi karena luapan emosi ini seringkali dicurahkan lewat media sosial… alias drama oh drama. Nggak percaya? Silahkan simak path, twitter atau IG stories yang seringkali jadi ajang curhat soal organisasi dan hubungan kerja dengan si boss, anak buah dan/atau rekan kerja.

Lebih lanjut, suasana kerja jauh dari perasaan hangat dan semata transaksional (baca: kerja karena masih dibayar). Sebuah iklim subur untuk melatih siapapun menjadi passive-aggressive. Ini dianggap sebagai satu-satunya cara untuk bisa bertahan. Kalaupun kinerja individu dan organisai (masih) baik, itu tidak akan berlangsung lama – dan ongkos yang dibayarkan bisa jadi teramat mahal. Maksudnya? Berapa sih harga kedamaian hati, kesadaran dan kewarasan? Bagaimana dengan price-tag inisiatif dan inovasi? Mungkin organisasi juga perlu mempertimbangkan hal-hal tersebut selain obrolan soal profit dan KPIs.

Jadi apa dong yang bisa dilakukan? Nah, berdasarkan percakapan dengan banyak pemegang amanah organisasi dan dalam sesi-sesi coaching one on one, terdapat dua pendekatan yang perlu dilakukan secara simultan.

Pertama, fundamental untuk diri – thinking about it is so much more tiring than talking – or doing it. Memikirkan apapun yang berada di luar kendali diri hanya akan berujung pada kegelisahan. Apapun yang telah terjadi tidak bisa diubah. Apapun yang belum terjadi penuh ketidakpastian. Apapun yang tentang kondisi dan orang lain juga tidak berada didalam kendali diri. So why worry? Jika mau berucap, ucapkan dengan baik dan santun. Jika punya ide, sampaikan sebagai langkah pertama mewujudkannya. Jika hendak bertindak, lakukan atas dasar kepedulian dan kasih sayang. Itu saja.

Kedua, fundamental untuk organisasi – pekerjaan rumah terbesar organisasi adalah memanusiakan manusia. Kenapa? Karena manusia tidak diciptakan untuk organisasi, namun sebaliknya, organisasi justru dimunculkan untuk manusia. Organisasi-organisasi paling unggul dan relevan di dunia adalah tempat-tempat berkarya, bersama & bermakna. Caranya? Munculkan ruang, kesempatan dan rasa untuk interaksi antara sesama manusia. Hal ini sama sekali tidak mudah karena artinya memercayakan manusia untuk berproses menjadi dirinya sendiri dalam versi terbaik. So, just speak up. And it all begins when you talk to yourself like you would to someone you love – Brene Brown.

Pernah coba mengkomunikasikan rasa dalam organisasi? Bagaimana hasil dan ceritanya? Boleh kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih.