You Define You!

August 15, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Bayangkan anda membintangi dua film papan atas yang ditayangkan pada waktu yang sama. Ya, bolehlah sekali-kali ngayal jadi setenar Reza Rahadian, Lukman Sardi atau bahkan Oscar Isaac (jika anda tidak mengenal nama-nama ini karena telah bertapa bertahun-tahun didalam gua, mereka adalah bintang film lokal dan Hollywood yang tengah naik daun. Silahkan google kalau penasaran). Nah, pada teater pertama anda muncul sebagai tokoh pahlawan yang baik hati, berkekuatan dahsyat dan tabah berjuang membebaskan mereka yang tertindas. Kemampuan seni peran dan penokohan anda pada film ini sedemikian rupa hebat sehingga hampir semua penonton jatuh hati. Anda diidolakan! Tidak sedikit yang berharap anda juga akan muncul menyelamatkan mereka yang tertindas di dunia nyata.   

Berbeda dengan teater pertama, penampilan anda sebagai tokoh jahat antagonis pada film lain di teater kedua berujung pada kesan yang berbeda 180 derajad. Masih dengan mengandalkan kemampuan akting mumpuni, kali ini anda berhasil menjadikan kesan jahat pada tokoh antagonis tampak bengis, tega dan … nyata! Penonton bukan saja tidak habis pikir dan ketakutan, tapi juga kecewa dan marah pada anda. Ya, marah karena sakit hati! Mereka terbawa emosi membayangkan kejahatan anda. Dan tidak sedikit pula yang merasa sepak terjang anda harus dihentikan sebelum benar-benar jadi kenyataan.

Sekarang bayangkan saat kedua film itu selesai. Penonton teater satu dan teater dua berbaur. Apa yang terjadi? Mereka bersilang pendapat, berdebat bahkan berperkara tentang … anda. Anda pahlawan? Ya. Anda penjahat? Ya juga. Mereka yang mengidolakan anda tidak terima anda dibilang jahat. Sebaliknya, mereka yang sudah terlanjur sebal dengan anda tidak mau paham kenapa anda diidolakan. Kedua kubu punya argumen memadai dari film yang mereka tonton masing-masing.

Lebay? Kenapa nonton film harus seheboh itu? Bisa jadi. Ini sekedar gambaran bagaimana dunia (baca: orang-orang di sekeliling anda yang kenal baik, kenal sembari lalu, sok kenal atau tidak kenal) bakal bereaksi pada anda – termasuk segala hal yang telah atau belum dilakukan. Bukan cuma perilaku yang disorot namun persepsi atas perilaku anda.

Siapapun, dimanapun dan kapanpun anda tidak akan bisa melarikan diri dari kenyataan ini. Jika anda masih muda – atau tampak muda, anda akan selalu memperoleh label tidak berpengalaman, belum matang, naif hingga… bodoh. Jika anda telah menua atau tampak tua ditandai dengan pemunculan rambut putih – seperti saya, anda akan dilabeli senior, ketinggalan zaman hingga… dinosaurus. Tanpa perlu ditanya, opini tentang anda terus berlanjut terkait dengan gender, penampilan, bentuk tubuh, status pernikahan, jabatan, pekerjaan warna kulit, suku, agama… dan silahkan lanjutkan sendiri.

Jadi harus bagaimana? Pertama, tidak perlu memusingkan segala hal yang berada diluar kendali kita, termasuk opini orang tentang diri. Kenapa harus tersinggung jika diberi label tertentu? Itu sekedar opini tentang kita. Hak dia untuk beropini. Hak kita untuk menyepakatinya – atau tidak. Sehingga sebelum tersinggung atas ucapan orang lain, sampaikan saja, “Terima kasih untuk opinimu tentang aku.” Bukankah dengan beropini – apapun opininya, berarti orang tersebut telah memikirkan dan meluangkan waktu untuk kita?

Kedua, let you define you. Siapapun itu, termasuk orang-orang terdekat dalam hidup kita hanya berinteraksi atau – sebagaimana ilustrasi film diatas – sekedar menyaksikan penggalan diri kita. Orang yang sepatutnya paling mengerti karena senantiasa mendampingi kita dalam segala kondisi adalah: Diri sendiri. Akui, rasakan dan pahamkan anda menurut diri sendiri. Sehingga julukan pemarah dari teman kerja bukan sebuah kebenaran hingga anda memilih untuk meresponnya dengan marah-marah.

Terakhir, bahkan saat mendefinisikan diri sendiri tidak ada kata final. Kenapa? Karena hidup terus bergerak. Dan diri terus bertumbuh kembang. Semoga setiap hari membuka peluang diri untuk menjadi lebih baik, lebih sabar, lebih bijak, lebih keren, lebih welas dan lebih asih. Dan semoga diri diberi kesadaran untuk senantiasa mengambil pilihan-pilihan itu setiap saat.

Apa definisi anda saat ini tentang diri sendiri? Dan kenapa anda menggunakan definisi tersebut? Ayo dong berbagi cerita dan kirimkan ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih.