Ukur Diri dengan Mendokumentasikan.. Segalanya!

August 9, 2017 | ARIO

SCROLL TO READ

Seberapa sering kita bertemu orang dengan perasaan pernah kenal di suatu tempat tapi benar-benar lupa namanya? Seperti ada di ujung lidah hendak terucap, tapi tidak keluar juga?

Kalau Anda menjawab sering, ya sama, saya juga kok.

Mungkin kita merasa overload, karena memang begitu banyak informasi yang hadir masuk ke otak kita, atau sekadar lewat.

Otak kita bekerja dengan memberi prioritas mana yang lebih penting untuk diingat. Ini berhubungan dengan mana yang menyentuh limbic system di otak.

Artinya, mana yang membuat kita merasa bahagia, mana yang bisa membuat kita menangis, takut, atau marah. Secara otomatis, otak akan memberi ruang penyimpanan untuk kita mengingat hal yang lebih penting bagi kita.

Lalu bagaimana dengan hal yang dianggap otak kita kurang penting saat itu? We document everything. As much as we can.

Begitu banyak sarana dalam bentuk teknologi yang bisa membantu kita untuk mendokumentasi seluruh aspek hidup kita.

Bertemu dengan siapa, travel ke tempat baru, belajar ilmu baru, atau bahkan suatu milestones dalam hidup. Ambil foto, tulis di notes, rekam audio notes, podcast dan, rekam video lalu jadikan tolak ukur pengembangan diri.

Contoh sederhana adalah berlari.

Berlari tampak sederhana. Tapi tanpa bantuan teknologi, hanya yang serius jadi atlet lah yang berniat mencatat perkembangan dirinya.

Dengan GPS di dalam smartphone atau smartwatch kita, kita jadi tahu kemajuan kita. Yang awalnya bisa berlari beberapa kilometer, sampai ke mengikuti ajang lomba lari, dan akhirnya tanpa disadari, menyelesaikan maraton pertama. Yay!

Bayangkan bila kita bisa menerapkan cara itu ke banyak aspek lain dalam hidup.

Mengambil foto, misalnya, sudah menjadi kegiatan rutin dalam keseharian. Tapi berapa banyak foto yang kita unggah ke media sosial? Kalau mengkompilasinya dalam bentuk album lalu mencetaknya terlalu ekstrim, bagaimana dengan sekadar memberinya nama (caption)?

Lebih dari setahun ini saya membawa kegiatan pendokumentasian ini ke level selanjutnya, video.

Pada bulan November 2015, Vloggario lahir. Sebanyak mungkin saya masukan kejadian-kejadian dalam hidup saya ke bentuk vlog, atau video blog.

Sesekali saya melihat video lama untuk melihat perkembangan yang terjadi dalam hidup saya.

Lebih dari 200 video telah saya produksi yang bisa disaksikan di youtube.com/sheggario.

Vlogging mungkin cocok untuk saya, dan belum tentu untuk Anda, dan tidak ada yang salah dengan itu.

Beberapa orang lebih cocok menulis, mengambil foto atau mungkin berbicara. Apapun itu, sebaiknya Anda menemukan bentuk terbaik Anda dalam mendokumentasikan hidup Anda.

Setiap bentuk media ada kelebihan dan kekurangannya. Diunggah atau tidak ke media sosial, menjadi urusan kedua.

Yang penting, document and organize and do it now!