Sehat Itu Bukan Keputusan, Tapi Hasil Sebuah Perjalanan.

August 9, 2017 | NIRA

SCROLL TO READ

Sehat itu berbeda-beda bagi setiap orang, tapi penting bagi semua orang.

Dan biasanya, orang menjadi sehat berkat sebuah perjalanan panjang berliku, yang berawal dari alasan-alasan berbeda setiap orang.

Ada yang memilih untuk hidup sehat karena pernah mengalami sakit yang cukup serius, contohnya: sakit kanker.

Setelah berhasil memerangi penyakit kanker, tentunya orang ini menjadi pribadi yang lebih sadar kesehatan.

Dia akan memilih menjalani hidup yang lebih berkualitas supaya dia tidak mengalami sakit kanker atau sakit apapun yang serius.

Hasilnya? Dia menjadi sehat.

Ada juga yang memilih hidup sehat karena pernah melihat orang-orang yang memerangi sakit serius dalam hidupnya.

Contoh, seorang suster di rumah sakit.

Selama bertahun-tahun suster rumah melayani banyak sekali orang sakit, dan tentunya tidak sedikit juga yang berakhir dengan kematian.

Suster ini memilih untuk hidup lebih sehat supaya tidak mengalami apa yang dialami oleh pasien-pasien di rumah sakit tersebut.

Hasilnya? Dia menjadi sehat.

Banyak juga orang yang lebih sadar tentang kesehatan sejak menjadi orang tua.

Banyak sekali faktor yang membuat orang tua menjadi lebih sadar mengenai kesehatan. Salah satunya adalah karena orang tua punya kewajiban untuk memberi contoh yang baik bagi anaknya.

Sebagaimana orang Indonesia pada umumnya, saya adalah orang yang tidak terbiasa makan sehat.

Saya doyan jajan. Banget.  

Makan adalah aktivitas menyenangkan tanpa perlu memikirkan nutrisi yang terkandung di dalamnya.

Makan adalah aktivitas untuk menyenangkan mulut, dan tidak terpikirkan bahwa makan adalah aktivitas untuk memberikan nutrisi bagi tubuh.

Pokoknya, makan itu yang penting enak. Itu moto saya.

Tapi semua berubah pada tahun 2009, ketika anak pertama saya, Anzalna lahir.

Pengalaman membuat makanan untuk anak membuat  saya menjadi lebih sadar tentang asupan makanan untuk saya sendiri.

Pada dasarnya saya memang pribadi yang cukup ambisius dalam menjalankan peran dalam kehidupan. Dalam hal ini, peran saya sebagai seorang ibu.

Saya ngotot untuk memberikan ASI sampai 2 tahun.

Saya ngotot memasak sendiri semua makanan untuk anak saya, no instant baby food.

Padahal, ketika masih single, saya bukan orang yang suka masak, saya suka jajan, remember?

Saya baru belajar masak ketika saya dihadapkan kepada keinginan pribadi untuk memberikan yang terbaik bagi anak saya.

Dengan memasak sendiri semua makanannya,  saya menjadi lebih aware dengan nutrisi, dan juga menjadi lebih berhati-hati dalam memilih jajanan saya.

Things changed even more drastically.

Anak kedua saya, Numma, lahir tahun 2014. Numma terbukti sebagai bayi yang intoleransi terhadap laktosaa atau produk-produk yang berbahan dasar susu sapi.

Reaksi alergi yang terjadi pada dia adalah gatal-gatal pada kedua pipinya, dengan warna merah merona.  

Walau sekilas terlihat lucu dan menggemaskan, saya yang sempat mengidap eksim lebih dari 10 tahun, tahu betul bahwa gatal adalah sesuatu yang sangat tidak nyaman.

Apalagi kalau bersifat permanen dan bukan diakibatkan oleh gigitan serangga yang akan hilang dalam beberapa jam.

Karena saat itu Numma belum genap 6 bulan, artinya dia hanya mengonsumsi full ASI dari saya. Itu berarti saya yang harus berhenti mengkonsumsi dairy product.

Yes, I had to stop eating all my favourite foods, basically. Anybody who knows me well, knows that dairy is one on my most favourite foods.

Tapi semua pengorbanan itu terbayar ketika gatal-gatal dan kemerahan di pipi Numma, atau yang kemudian saya pahami bahwa itu adalah eksim, berangsur menghilang.

Saya pun merasa tanpa beban untuk berhenti mengonsumsi dairy products demi anak saya tercinta.

Berhubung saya cukup ambisius dalam menjalankan peran sebagai ibu, saya memilih untuk menyusui Numma sampai 2 tahun, walaupun Numma agak sulit menyusu (mild lip tie and tounge tie).

Akibatnya, saya merasakan nyeri setiap kali menyusui. Ditambah dengan kenyataan Numma yang lactose intolerant sehingga saya harus puasa makanan apapun yang berbahan dasar susu sapi.

Namun itu semua tidak membuat saya menyerah.

Saya yakin betul semua ibu di muka bumi ini pasti mendapatkan semacam super power untuk bisa melewati segala tantangan dalam melakukan perannya sebaik mungkin.

Selama hampir 2 tahun penuh saya tidak mengkonsumsi produk susu sapi dan itu saya lakukan untuk kepentingan anak saya.

Namun hasil yang saya dapatkan bukan hanya terlihat pada Numma, tapi juga pada saya.

Eksim saya yang sudah saya derita selama lebih dari 10 tahun pun berangsur membaik. Saya juga jarang sekali sakit pilek maupun batuk.

Daya tahan tubuh saya berangsur meningkat walau kenyatannya saya sudah memiliki 2 anak dan usia saat itu 37 tahun. I felt better and healthier, even more than I was 5 years ago.

Sehat itu berbeda bagi setiap orang.

Untuk saya dan Numma, sehat adalah dengan menghindari produk susu sapi karena kami berdua memiliki intoleransi terhadap laktosa.

Sehat bagi orang yang memiliki keturunan diabetes adalah menghindari konsumsi gula berlebihan.

Sehat bagi pekerja kreatif adalah dengan memperhatikan pola kerja dan istirahat yang baik agar tidak menderita typhus beberapa kali dalam setahun.

Sehat itu berbeda bagi setiap orang, tapi itu penting.

Karena dengan menjadi sehat, artinya kita mendengarkan kebutuhan tubuh kita, dan menghargai tubuh kita yang merupakan anugrah tak ternilai dari Sang Pencipta.

It’s a way of saying thank you to our Creator, for giving us this body, this life.

It shouldn’t be that hard, should it?