Helping Others as a Way of Helping Ourselves

August 9, 2017 | DITA

SCROLL TO READ

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk kembali ke San Francisco setelah hampir setahun meninggalkan kota itu.

San Fransisco, buat saya, ialah kota ke-2 setelah Jakarta tercinta. Di kota itu, saya sempat tinggal 12 tahun.

Saat berkunjung ke sana, tentunya senang sekali dapat berjumpa dengan teman-teman lama. Beberapa dari mereka bekerja di perusahaan teknologi seperti Google, Stubhub, dan LinkedIn.

Saya menodong mereka untuk menjadi narasumber sesi podcast Inspigo – project anyar besutan Tyo Guritno dan Yoris Sebastian. Kebetulan, Tyo ialah suami sendiri dan saya bertanggung jawab untuk urusan konten dalam project ini.

Pertanyaan saya saat itu satu:  apa sih yang mendukung kesuksesan karir di tempat kerja bagi kalian di Sillicon Valley?

Semua menjawab: kolega-kolega di kantor.

Terus terang, saya tidak menyangka bahwa kredit untuk kolega akan terucapkan. Tadinya saya kira mungkin karena etika di kantor, disiplin diri, kreativitas atau motivasi untuk bekerja keras yang tak kenal menyerah.

Ternyata jawaban mereka sama sekali tidak menyentuh hal-hal tersebut.

“Lho, kok kolega kantor?”

“ Tanpa bantuan mereka, produk re-design yang dikerjakan oleh tim engineering kami tidak akan selesai tepat waktu. Bisa jadi malah mundur satu quarter dari yang ditargetkan,” kata teman yang bekerja di LinkedIn.

“ Tanpa bantuan teman-teman kantor, KPI saya quarter ini yang berperan penting dalam untuk feature baru Google News mungkin tidak bisa tercapai,” kata teman yang bekerja di Google.

“Wah, kalau tidak ada teman-teman yang membantu, Dictionary.com waktu itu akan butuh waktu lama sekali untuk bisa dipakai oleh umum,” kata teman yang pernah bekerja di Dictionary.com, Ask.com, dan Stubhub.

Saya tarik benang merahnya.

Ternyata semua merasa bahwa keberhasilan tidak lepas dari bantuan orang-orang di sekitar.

Fakta ini menarik sekali karena jika di blog sebelumnya saya bercerita mengenai asking help, maka sekarang adalah saat yang pas untuk bercerita tentang giving help.

Looking back, the culture of helping begitu banyak saya lihat, rasakan dan lakukan di keseharian saat saya masih seorang Googler.

Budaya ini merupakan salah satu kualitas utama dari komunitas di Sillicon Valley, sebuah tempat yang melahirkan inovasi dan merevolusi cara kita melakukan segalanya.

Mulai dari Uber yang mengganggu industri taksi, hingga Twitter mengganggu industri media dan Facebook mengganggu industri komunikasi.

Sillicon Valley bergantung pada kreativitas dan agility orang-orang di dalam project yang seringkali sangat kompleks.

Perusahaan-perusahaan berkinerja terbaik di Sillicon Valley seperti Google, Facebook, LinkedIn, dan lainnya percaya bahwa tolong menolong serta kolaborasi adalah sebuah norma yang harus di pegang teguh.

Meskipun kedengarannya simple, tetapi sangat powerful dan dapat kita praktekkan di mana saja.

Bayangkan apa yang terjadi ketika para karyawan di encourage untuk saling menolong, mendukung dan berkolaborasi?

Misalnya, ketika kita stuck mengerjakan tugas kantor padahal sudah dekat deadline. Apabila ada seorang kolega yang bersedia membantu – tentunya kita bisa melangkah maju untuk menyelesaikan tugas  dan deadline dapat ditepati.

Nah sekarang bayangkan sebuah ekosistem dimana seluruh karyawan melakukan hal yang sama. Dahsyat bukan?

Dijamin produktivitas dan kualitas kerja dalam pelaksanaan gagasan dapat berkembang jauh dan sebaik mungkin. Sehingga bukan tidak mungkin kita bisa bergerak cepat seperti perusahaan-perusahaan unicorn di Sillicon Valley.

Tidak hanya produktivitas dan agility, helping others juga dapat memberi kegunaan bagi kita seperti:

  1. Belajar hal baru

Masalah yang dihadapi orang lain bisa jadi adalah sesuatu yang belum pernah kita jumpai. Tentunya hal ini akan membuka kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru yang menarik.

  1. Mengembangkan leadership skill

Ketika kita menginvestasikan waktu dan ketrampilan untuk menolong seseorang, maka secara langsung kita mengasah leadership skill kita melalui proses tersebut.

Keinginan untuk mendukung dan mengembangkan orang lain adalah kualitas yang dimiliki seorang pemimpin yang baik.

  1. Networking; meningkatkan reputasi dan relasi

Seorang rekan kerja yang ditolong biasanya merasa berterima kasih dan cenderung akan membantu saat kita membutuhkan sesuatu. Baik di dalam pekerjaan yang sama atau ketika Anda butuh referensi untuk melangkah ke tempat kerja selanjutnya.

Sebagai penolong, reputasi kita pun akan mendapat nilai lebih dan kepercayaan dari lingkungan sekitar. Sehingga hal ini bisa menjadi nilai lebih di saat opportunity datang menghampiri.

Meskipun menjadi kolega yang suka menolong adalah hal yang sangat mulia. Tetapi kita juga harus berhati-hati agar hal ini jangan sampai mempengaruhi kinerja dan produktivitas diri sendiri.

Boleh membantu, tapi harus realistis.

Berikut adalah contoh pertolongan yang realistis tetapi dapat membantu kolega Anda:

  1. Cari tahu apa yang memberi value bagi mereka

Aturan nomor satu sebelum membantu orang adalah mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan mereka.

Jangan sampai kita meluangkan waktu dan usaha untuk membantu seseorang dengan sesuatu yang tidak mereka butuhkan.

Usahakan untuk bertanya, sehingga kita mengerti apa yang dapat kita tawarkan untuk menolong.

  1. Berbagi pengetahuan

Salah satu cara termudah untuk membantu orang lain adalah dengan berbagi pengetahuan yang kita miliki.

Anda tidak harus berada di depan kelas untuk mengajar. Setiap hari pasti ada kesempatan untuk berbagi kepada seseorang mengenai bidang keahlian yang kita punya.

Kuncinya adalah kita harus terus belajar agar bisa tetap ahead of the curve.

 

  • Share your resources

 

Resources yang dimaksud adalah network dan sumber daya yang telah kita miliki.

Coba pikirkan siapa atau apa dari mereka yang ada di list contact kita yang dapat membantu orang lain yang membutuhkan.

  1. Memberikan feedback

Kritik yang transparan untuk beberapa orang bisa menjadi opini yang sulit diterima. Hal ini mungkin karena kritik tersebut tidak konstruktif.

Agar kritik lebih membangun, berikan alasan mengapa menurut kita mereka belum mencapai hasil maksimal. Berikan juga ide atau contoh agar mereka dapat memperbaiki diri.

  1. Menyumbangkan waktu

Waktu sangatlah berharga dan orang mengerti akan hal ini.

Ketika kita meluangkan waktu untuk membantu seorang teman, baik itu hanya untuk sekedar menemani mereka melakukan research misalnya, mereka akan mengingat bahwa anda telah meluangkan waktu berharga untuk membantu.

So, starting now you can ask yourself a question: Have you helped someone today?

Who knows, probably you’ll be the one who will ask for help tomorrow 🙂