Connecting the Dots: One of the Ways to Innovate

August 9, 2017 | TYO

SCROLL TO READ

Belakangan ini, kata inovasi sering digunakan di berbagai macam industri. Banyak perusahaan berlomba-lomba untuk berinovasi agar stay relevant dengan target market mereka.

Sebetulnya, apa itu inovasi?

Inovasi adalah suatu penemuan atau solusi baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya.

Kadang banyak orang lupa, tujuan utama sebuah inovasi ialah memecahkan satu masalah dengan memberikan solusi yang tepat dan bisa bermanfaat bagi target market.

Di dalam proses memecahkan masalah, ada beberapa langkah yang harus dilakukan:

  1. Mengerti dengan detail dan bisa merasakan masalah tersebut.
  2. Membuat asumsi untuk solusi.
  3. Tes asumsi itu ke pasar, lalu lihat apakah asumsi itu sudah memecahkan masalah atau belum.
  4. Lakukan tiga proses tersebut secara berulang sampai target market merasa bahwa solusi yang kita tawarkan benar-benar memecahkan masalah tersebut.

Setelah itu jangan berhenti.

Untuk tetap berinovasi, kita harus melakukan iterasi itu terus menerus sehingga solusi semakin berguna.

Mendatangkan Ide

Salah satu kendala dari proses tersebut ialah proses mendapatkan ide untuk bisa membuat asumsi atau solusi yang jitu sehingga bisa memecahkan masalah.

Dari tulisan saya sebelumnya “Connecting the dots:It’s a Mindset”,  menghubungkan ide-ide, pengalaman-pengalaman, dan ilmu-ilmu yang kita punya bisa membantu membuahkan ide untuk solusi dari satu masalah.

Toh, sebetulnya, kalau kita perhatikan, semua inovasi-inovasi brilian itu adalah gabungan dari ide-ide yang sudah ada sebelumnya.

Mobil? Gabungan antara mesin dan roda.

Smartphone? Gabungan dari telepon dan komputer.

E-mail? Gabungan dari surat dan internet.

Coba kita perhatikan semua benda-benda yang ada di sekeliling kita.  Kebanyakan dari benda-benda tersebut adalah gabungan dari beberapa ide-ide yang sudah ada sebelumnya.

Teknik melihat benda-benda di sekitar dan menjabarkan ide-ide yang menjadi dasar dari benda tersebut adalah teknik ‘connecting the dots’ yang bisa melatih otak kita untuk terbiasa menggabungkan ide-ide untuk membuat solusi dari suatu masalah.

Case Study: WonderBox

Salah satu pengalaman pribadi saya dalam ‘connecting the dots’ adalah saat membangun aplikasi WonderBox di Silicon Valley.

Saat itu, kami mengamati anak-anak yang bertambah umur, tepatnya tepatnya sewaktu mereka mulai masuk ke bangku sekolah dasar, mulai kurang kreatif. Rasa ingin tahu mereka juga menurun.

Kami juga mengamati, dengan adanya ‘social pressure’ di sekolah, anak-anak lebih ingin mengikuti apa yang teman-temannya kerjakan.

Rasa ingin tahu mulai berkurang. Mereka juga sudah lebih jarang bertanya tentang sesuatu yang menarik atau baru.

Tingkat kreativitas juga turun. Mereka mulai jarang menggambar. Karena merasa bahwa menggambar sudah tidak ‘cool’ lagi.

Kami mencoba memecahkan masalah-masalah tersebut dengan membuat WonderBox.

WonderBox adalah gabungan dari ide-ide yang sudah ada. Yaitu ensiklopedia, alat menggambar, kamera dan social media.

Di dalam aplikasi WonderBox, anak-anak bisa melihat banyak topik-topik seperti Science, Design, Animals, World, Space, Health, Drawin, DIY (Do It Yourself), Kidpreneur, dan masih banyak lagi.

Pada aplikasi itu, mereka bisa memilih salah satu topik dan mengerjakan suatu challenge.

Misalnya mereka memilih kategori Kidpreneur dan mengerjakan Design a Logo Challenge.

Mereka akan dianjurkan untuk membuat logo untuk usaha mereka. Logo itu harus mewakili visi dan apa yang mereka lakukan di bisnis mereka.

Dari tantangan ini, mereka bisa mencari inspirasi-inspirasi layaknya di ensiklopedia. Setiap inspirasi mempunyai detail informasi supaya anak-anak bisa belajar tentang sejarah dan makna dari inspirasi tersebut.

Setelah itu mereka bisa membuat karya logo mereka lewat menggambar atau mengambil foto. Alat gambar yang disediakan cukup bervariasi layaknya menggambar dengan kertas dan pensil warna atau spidol.

Di alat gambar WonderBox juga disediakan banyak sticker untuk membuat anak-anak lebih semangat berkreasi.

Setelah itu mereka bisa membagikan karya logo mereka ke keluarga atau teman-teman secara online layaknya di media sosial. Mereka menyukai hal ini mereka sukai karena mereka bisa mendapatkan feedback dari orang-orang terdekat mereka mengenai karya yang mereka buat.

Aplikasi ini banyak menginspirasi anak-anak di seluruh dunia untuk meningkatkan rasa keingintahuan dan kreativitas mereka.

Apple juga menobatkan aplikasi WonderBox sebagai salah satu aplikasi terbaik bulan Agustus taun 2015 di 105 negara.

Menggabungkan beberapa ide yang sudah ada ternyata bisa menjadi suatu ide baru yang kuat.

Nah, kini saatnya Anda coba membuat ide baru dari gabungan beberapa ide-ide yang sudah ada. Selamat mencoba!