Bring in Compassion in Training Sessions. PLEASE.

August 4, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Apa sih problem utama pada semua organisasi sejak dulu sampai sekarang? Manusia – lebih tepatnya interaksi antar manusia dalam organisasi. Ini selalu muncul dalam berbagai diskusi dengan para petinggi perusahaan setiap kali mereka berniat mengundang saya untuk bicara dalam forum internal. Pemilihan kata dan content-nya bisa berbeda-beda namun context-nya hampir selalu sama: Perilaku anggota organisasi yang dianggap tidak (baca: belum) sejalan dengan keinginan pemimpin organisasi dan/atau budaya organisasi. Dan harapan agar saya mengubah mindset tersebut lewat sebuah sesi public speaking.

Kenapa karyawan tidak menunjukkan sense of urgency, sense of belonging dan sense of responsibility? Bagaimana menjembatani gap antar unit kerja yang masing-masing punya kepentingan berbeda? Apakah resep ampuh untuk menjadikan setiap anggota organisasi loyal, termotivasi dan gigih bekerja (baca: mencapai segala target yang dibebankan)? Lebih jauh, bukankah para karyawan telah menerima kesepakatan kerja dan menikmati gaji setiap bulan? Jika organisasi telah memberikan hal yang penting untuk kehidupan karyawan, kenapa karyawan tidak juga mementingkan tugas-tugas mereka? Bagian ini bisa jadi satu buku tersendiri jika dilanjutkan.

Biasanya saya berupaya menjawab setiap pertanyaan secara perlahan agar bisa dipahami. Namun prinsipnya sama. Saya bukan nabi – dan bahkan para Nabi dan Wali Allah juga tidak dengan serta merta diterima, didengar dan diikuti oleh manusia. Apalah arti omongan mahluk penuh cela seperti Rene Suhardono? Tidak ada yang bisa mengubah mindset kecuali sang empu pemilik mindset atas izin Sang Pencipta sebagai satu-satunya zat yang mampu membolak-balikkan hati. Tidak ada resep atau tips yang bisa diikuti dengan mudah untuk mengubah pemikiran dan perilaku karyawan, terlebih semua karyawan (baca: manusia). Walau mungkin terdengar tidak menjanjikan hal ini penting untuk disampaikan agar tidak ada salah persepsi yang bisa memunculkan ekspektasi berlebihan.

Jadi training / workshop dengan tidak penting? Saya tidak bilang begitu… terlebih jika saya diminta jadi pembicaranya :p  Namun training / workshop apapun baru akan bermanfaat perlu dilandasi pemahaman berikut ini:

(1) Training adalah ajang untuk mengkomunikasikan rasa, bukan sekedar ilmu. Ingat tulisan minggu lalu tentang Positive Feelings, not positive thinking? Tidak perlulah meneriakkan “Selamat Pagi!” setelah lewat jam 12 siang. Sebagaimana tidak penting juga mengukur keberhasilan training dengan berapa keras jeritan “luar biasa” disuarakan setiap beberapa saat. “Rasa” disini tercermin pada apa yang dirasakan para karyawan, bukan hanya para pemimpin. Bukankah training ditujukan untuk mereka? Kalau begitu kenapa masih saja ada pemisahan lokasi dan jenis bangku untuk para pemimpin dan karyawan? Bukankah lebih asyik mengkomunikasikan “saya peduli” dengan duduk bersama, hadir lebih awal & menyimak bareng? Ditempuhnya opsi ini bakal jauh lebih bisa dirasakan oleh karyawan dibandingkan argumen apapun dari pembicara tamu.

(2) Pembelajaran training sesungguhnya TIDAK terjadi pada sesi training namun dalam pemikiran setiap orang – saat memutuskan untuk belajar atau tenggelam dalam pemikiran lain. Kehadiran bukan indikator pembelajaran. Organisasi (baca: petinggi organisasi) perlu berlatih menerima kenyataan bahwa tidak ada satupun karyawan berada dibawah kendalinya… and that’s okay! Jangan bertempur memperjuangkan karyawan untuk menyimak, belajar dan mengubah perilaku. Biarkan pertempuran itu terjadi dalam pemikiran setiap karyawan. Tugas organisasi semata menyiapkan berbagai alasan agar manusia bisa menikmati moment-moment dalam organisasi secara sadar untuk bekerja, belajar dan berkarya.

(3) Sehingga dengan mempertimbangkan dua point diatas, manusia secara umum lebih suka, lebih tergerak, lebih terdorong oleh apapun yang asyik, bukan yang penting. Training / workshop perlu belajar jadi asyik, bukan sekedar penting. Ini alasan yang sama kenapa karyawan secara umum lebih senang nonton film atau hadir di konser, ketimbang lembur atau hadir di training. Bener kan? Ayo, ngaku! 🙂

Rasa adalah bahasa paling universal. Komunikasikan rasa – dan sebaik-baiknya rasa adalah welas dan asih. Teko welas. Teko asih. Kersane Allah.

Pernah melalui training yang tidak sekedar penting namun juga asyik? Ayo dong berbagi cerita dak kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih.