Training People to be Leaders is Impossible

July 28, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Salah satu obsesi terbesar hampir semua organisasi di muka bumi bisa ditampilkan dalam 2 kata: Leadership Training – alias melatih manusia untuk menjadi pemimpin (yang handal untuk organisasi tersebut saat ini atau di masa mendatang). Sehingga tidak mengherankan ribuan jam training, jutaan manusia dan milyaran rupiah bahkan US dollar dialokasikan untuk memenuhi obsesi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan seputar leadership development ini sudah tidak terhitung saya dengar dalam berbagai kesempatan: “Bagaimana melatih pemimpin masa depan?” atau “Apa program paling tepat dan terbukti untuk memunculkan pemimpin organisasi?” atau lebih lebay lagi … “Hal-hal apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan setiap orang pemimpin hebat?” Saya yakin anda juga pernah mendengar atau mungkin ambil bagian dalam diskusi ini. Bener kan? Nah ini problemnya: Melatih orang untuk jadi pemimpin itu nonsense. Atau dijelaskan dengan cara berbeda: Pemimpin tidak bisa dihasilkan dari training apapun.

Sungguh opini menyebalkan ya? Silahkan berhenti membaca jika sudah sedemikian rupa terganggunya oleh pendapat ini. Namun jika penasaran, silahkan lanjut membaca 🙂

Apakah artinya segala bentuk sumber daya yang telah, masih dan akan dialokasikan semua organisasi untuk melatih pemimpin adalah sia-sia belaka? Bisa jadi. Jadi tidak ada satupun pemimpin yang berasal atau muncul dari berbagai sesi leadership training itu? Ya, betul. Kecuali jika orang tersebut sudah memutuskan jadi pemimpin yang tengah kebetulan mengikuti training. Jadi dia sudah menjadi pemimpin bahkan sebelum mengikuti leadership training. Dan kalaupun setelah itu seseorang menjadi pemimpin, hampir dipastikan bukan karena training tersebut. Jadi training tidak perlu? Saya tidak bilang begitu. Saya hanya berpendapat training kepemimpinan senantiasa bukan penyebab munculnya pemimpin. Bentuk dan ragam jenis training lain tentu perlu, apalagi jika melibatkan saya secara profesional alias dibayar :p

OK, here comes the big question: Why? Sebelum berusaha menjawabnya, ayo kita pahami lebih dulu apa atau siapa itu pemimpin? Bagi saya leaders bukan sekedar jabatan seperti CEO, Vice President, Manager atau bahkan Presiden. Leaders juga bukan peran sebagai tukang suruh atau tukang tunjuk dalam organisasi. Secara mudah salah satu keutamaan leaders adalah mereka yang mengambil peran untuk membuat orang-orang disekitarnya merasa lebih mampu, lebih bisa dan lebih berdaya. Pernah berjumpa seseorang dan melalui perjumpaan singkat itu anda merasa (lebih) punya harapan, (lebih) berani mencoba dan (lebih) bisa / sanggup / mampu? Jika jawaban anda ya – Selamat! Berarti anda telah berjumpa seorang pemimpin.

Semudah itu jadi pemimpin? Ya. Tapi percayalah, tidak mudah menjumpai orang-orang tersebut. Masih jauh lebih banyak perjumpaan dengan mereka yang lebih senang bicara tentang diri sendiri, kehebatan diri dan pencapaian diri. Berapa banyak “pemimpin” organisasi yang ternyata lebih ahli membuat orang lain merasa (lebih) kecil, (lebih) tidak berdaya dan (lebih) tidak berguna. Ayo, ngaku? Benar kan? Jangan-jangan anda, saya dan kita juga seringkali masuk kedalam kelompok ini.

Leadership is a calling. Kepemimpinan adalah panggilan bagi mereka yang memutuskan sudah selesai dengan dirinya – dan beranjak untuk mendedikasikan waktu dan energi untuk orang lain. Memampukan orang lain. Membisakan orang lain. Mengilhami orang lain. Bagaimana proses ini bisa direduksi kedalam sebuah training yang hampir tidak pernah bergeser dari pola ini: Pertama, masukkan calon pemimpin (baca: peserta training) kedalam ruangan. Kedua, sampaikan petuah dengan kaliman-kalimat menggugah. Ketiga, bahas studi kasus. Terakhir, selesai.

Menjadi pemimpin butuh keputusan diri untuk selesai dengan diri, terus belajar dan mengadopsi perilaku baru secara terus menerus. Semua ini butuh proses, kesabaran dan kegigihan untuk peduli pada orang lain melebihi dari diri sendiri. Susah? Sudah pasti. Sehingga jangan heran pemimpin sejati tidak mudah dijumpai. Dan jika sudah menjumpai satu orang saja? Syukuri – dan belajar darinya. Saya tutup tulisan ini dengan mengutip kalimat John Quincy Adams: If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader.

Berdasarkan cerita diatas, ceritakan pengalaman anda berjumpa dengan pemimpin sejati? Ayo kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih.