Think Positive? Try Feel Positive Instead.

July 24, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

“Coba dong berpikir positif!” – kalimat yang (terlalu) sering kita dengar dari sekitar setiap kali berhadapan dengan persoalan paling sepele hingga paling pelik. Gaji tidak mencukupi untuk kebutuhan bulanan? Belajar berpikir positif dong. Ketinggalan angkutan umum ke kantor? Positif saja lah. Problem dengan pasangan hidup? Ayo! Harus bisa berpikir positif. Mobil kesayangan tabrakan dengan kendaraan lain? Kenapa tidak pikirkan hal-hal yang positif saja walaupun mobil ringsek. Jika anda tengah mengalami kejadian tidak mengenakkan tersebut lantas menerima nasihat berpikir positif, kira-kira apa yang anda rasakan? Senang? Lega? Atau justru boleh jadi menyebalkan. Lha wong si pemberi nasihat tidak berhadapan langsung dengan problemnya… tentu mudah mengucapkan hal simpatik namun minim empati seperti ini. Bukankah begitu? Menariknya, kitapun sering melontarkan nasihat serupa kepada mereka yang tampak kesusahan di sekitar kita. Nah, jika berpikir positif adalah anjuran baik, kenapa kita jarang sekali merasa lebih baik saat mendengarnya?

Coba perhatikan dengan seksama budaya kita saat ini yang sangat mengagungkan positive thinking. Baik itu keluarga, organisasi, komunitas dan berbagai perkumpulan senantiasa mengedepankan ajakan atau anjuran berpikir positif dalam segala situasi. Hal selain itu … alias negatif dipandang tabu dan memalukan. Ada pemahaman seolah-olah pemikiran jelek bisa langsung dihentikan dengan sekedar berpikir positif. Namun jika benar demikian, dengan semakin meluasnya jangkauan manusia kepada satu sama lain, dengan juga mempertimbangkan pemahaman positive thinking yang semakin baik, kenapa tingkat bunuh diri global meningkat tajam? Tercatat satu orang bunuh diri setiap 40 detik di dunia. Angka ini mereferensikan kenaikan 60% sejak 45 tahun lalu menurut data suicide.org, sebuah lembaga nirlaba dalam bidang pencegahan bunuh diri. Selain itu, perluasan pemahaman positive thinking juga tidak – atau bahkan berbanding terbalik dengan tingkat penderita depresi terlebih di kota-kota besar. Sungguh aneh tapi nyata.

Saya sama sekali tidak menyalahkan anjuran untuk berpikir positif. Namun saya justru khawatir anjuran ini tidak dimaknai sebagaimana mestinya. Saya perhatikan orang-orang paling positif dalam hidup saya justru bukan penganjur positive thinking kepada siapapun disekitar mereka. Mereka juga bukan orang-orang yang hanya bisa berpikir positif dan meniadakan segala bentuk pemikiran negatif. Bukan! Mereka sama sekali tidak seperti itu.

Sebaliknya, orang-orang paling positif adalah mereka yang melatih kemampuan diri untuk MELALUKAN segala bentuk pemikiran negatif. Ya.. melalukan, anda tidak salah baca. Terdengar aneh ya? Maksudnya mereka menerima, mengakui dan membiarkan berlalu secara alami setiap pemikiran negatif dengan sadar. Hanya dengan begitu mereka bisa menjadikan diri positif secara hakiki. Dengan kata lain, mereka tidak membesar-besarkan berpikir positif namun menjalani hidup dengan senantiasa memilih rasa positif atau positive feelings.

Kondisi bisa baik atau buruk. Dan bisa bertambah baik atau bertambah buruk kapanpun dan dimanapun. Jika hanya mengandalkan positive thinking artinya membangun ekspektasi agar kondisi harus selalu jadi lebih baik. Itu bagus. Namun seandainya situasi memburuk, pemikiran positif bakal menjelma jadi penjara pikiran. When things get worse, you’re in big trouble – or to be more precise, your mind shall lead you to more troubles.

Positive feelings tidak mengandalkan rasa pada ekspektas hal (lebih) baik yang bakal terjadi. Tidak juga berharap jadi lebih buruk terjadi karena semua kondisi yang mungkin terjadi TELAH diterima untuk dilalukan secara alami. Para penganut positive feelings TELAH memilih dan memutuskan rasa untuk setiap kejadian. Dan rasa yang dipilih adalah positif seperti happy, senang, lega, cerah dan bersih.

Akal senantiasa bisa melogikakan apapun. Jika anda memilih untuk happy maka akal dengan mudah bisa memunculkan serangkaian argumen kenapa anda happy – dan sebaliknya. Pilih rasa dengan hati-hati dalam kondisi apapun yang terjadi. Learn to choose to feel positive – and the thinking shall follow. Smile 🙂

Apa yang anda rasakan setelah membaca tulisan ini? Mungkin jadi teringat sebuah peristiwa menarik terkait pola pikir positif atau pola rasa positif? Ayo kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya. Terima kasih.

  • Fazar Firmansyah

    Keren. Inspiring. Semoga bisa disegerakan bertemu untuk belajar bersama mas Rene