Seriously, Why Work?

June 19, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Pertanyaan klise – dan bisa jadi membosankan: Kenapa kita bekerja? Sudah puluhan atau mungkin ratusan buku ditulis, ribuan bahasan dikaji, jutaan percakapan dilangsungkan untuk menjawabnya, namun tetap saja… masih saja terlalu banyak pekerja yang clueless. Ya, jawaban paling lazim tentang kenapa bekerja adalah…  agar berpenghasilan (baca: dapat duit). Tapi apa benar esensi bekerja… (dan hidup) semata tereduksi sedemikian rupa kedalam saldo rekening koran? Jika demikian kenapa orang yang sudah sedemikan kaya raya dan tidak perlu lagi bekerja untuk mendapatkan penghidupan tetap saja memilih untuk bekerja? Bahkan orang-orang seperti ini sepertinya justru lebih terpacu bekerja dan seringkali melupakan aspek kehidupan yang lain.

Apa lagi? Bekerja agar punya jati diri – atau lebih jujur mungkin kebanggaan. Bukankah selalu lebih menyenangkan saat ditanya: “Kerja apa?” atau “Kerja dimana?” kita bisa menjawab dengan lantang dan bangga? Pekerjaan adalah tatanan kasta baru yang diperkenalkan sejak revolusi industri untuk menggantikan tatanan kerajaan yang telah mendominasi selama ribuan tahun. Tidak sepenuhnya salah namun apa jadinya saat harus dicukupkan dari pekerjaan seperti saat PHK atau pensiun. Apakah artinya tidak punya lagi kebanggaan? Tidak ada lagi jati diri? After all, your job description is not and should not be your self-description.

Sebelum beranjak jauh kedalam obrolan filosofis, saat meriset kecil-kecilan tentang manusia dan pekerjaan saya mendapati beberapa fakta menarik. Jika Anda merasa sekarang sudah sangat sibuk dengan apapun yang Anda kerjakan, ketahuilah bahwa secara rata-rata waktu kerja kita saat ini kurang lebih 50% dari waktu kerja rata-rata pekerja 100 tahun lalu. Ya, waktu kerja 8 jam setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore (belum dipotong makan siang) cuma 50% dari waktu kerja rata-rata pekerja tahun 1917. Nah, menariknya, dalam kondisi lebih santai seperti sekarang pun banyak yang merasa kepayahan… dan menuntut work-life balance.

Jadi kenapa bekerja? Apapun jawaban Anda sebenarnya adalah cerminan kesadaran dan pemahaman anda atas diri sendiri dan sekitar. Jawaban apapun sahih namun punya konsekuensi langsung atas persepsi hidup dan bagaimana Anda menavigasi kehidupan. Bekerja sekedar untuk uang – atau bekerja untuk merayakan kekuatan, kebisaan dan kepiawaian Anda? Bekerja untuk prestise agar tampak keren di mata orang lain – atau bekerja untuk menjadikan kelemahan Anda tidak lagi relevan? Bekerja untuk menghabiskan waktu – atau bekerja sebagai bagian dari penuntasan misi hidup dan menyempurnakan kodrat? You are what you choose.

So, again, why work? Saya paham kita tidak hidup di nirwana kapitalisme dimana uang tumbuh di pucuk-pucuk pohon. Fakta: Anda, saya & kita semua butuh uang untuk sandang, pangan, papan, gadget dan wifi. Problemnya, tidak semua jenis pekerjaan – terlebih pekerjaan yang kita jalani sekarang bisa memberikan imbalan sesuai kebutuhan – apalagi keinginan. Jika demikian kapan kerja bisa lebih dari sekedar ajang mencari uang? Bagaimana bisa memilih pekerjaan yang juga bisa membangun & menumbuhkembangkan diri?

Beberapa hal mudah ini bisa jadi pertimbangan:

Pertama, jalani hidup sesuai dengan kebutuhan (bukan keinginan). Perhatikan barang-barang yang kita miliki saat ini, mana yang refleksi kebutuhan dan mana yang cuma pengen belaka. Apakah benar-benar butuh beli mobil atau rumah itu? Jika ya, apakah harus sekarang? Buat daftar 100 benda yang paling dibutuhkan (berguna, terpakai dan teruji). Hidup semacam ini akan meringankan, memudahkan dan memberdayakan.

Kedua, temukan kompromi antara yang pekerjaan yang harus dijalankan demi memenuhi kebutuhan dan aktivitas yang membuat diri merasa berdaya. Semakin besar irisan diantara keduanya semakin baik.

Terakhir, alokasikan lebih banyak waktu dan sumber daya untuk mengasah diri menjalankan aktivitas yang membuat diri merasa berdaya. Cari, minta dan tuntut ruang karya relevan untuk mengasah aktivitas jadi kebisaan dan akhirnya kepiawaian. Dan terus menerus munculkan karya.

This is your one and only life. Do not wait for it to happen, claim your role to make it happen.

Apa pekerjaan – dan kenapa Anda bekerja? Silahkan sebut alasan dan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya tertarik membacanya.