Organization is Built for Talent – Not the Other Way Around

June 11, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Perusahaan. Organisasi. Company. Bisa jadi salah satu inovasi umat manusia selepas abad pertengahan paling dahsyat dalam hal mengorganisasi sekelompok orang & berbagai sumber daya untuk menyepakati, mengupayakan dan mencapai tujuan bersama. Perhatikan saja istilah “Kumpeni” yang masih menempel pada VOC dari Negeri Belanda, sebuah organisasi swasta & salah satu perusahaan multi nasional pertama di dunia. Bisa bayangkan ampuhnya organisasi VOC yang mampu menguasai kerajaan-kerajaan di Nusantara selama beratus-ratus tahun. Walaupun VOC sudah bubar jalan – sebagaimana nasib banyak perusahaan yang tidak dikelola dengan baik, kehadiran (baca: keampuhan) organisasi masih terus berlanjut hingga sekarang… namun mungkin untuk waktu yang tidak terlalu lama lagi.

Kaget? Kenapa kalimat sebelum ini terkesan menghakimi dan subyektif? Karena memang semakin lama semakin nyata kalau semakin banyak perusahaan yang kehilangan relevansinya. Tentu masih terdapat banyak contoh-contoh perusahaan hebat yang kiprahnya atau power-nya melebihi kota atau negara sekalipun. Lihat saja kapitalisasi Apple Inc sebagai perusahaan paling berharga di dunia yang kini tercatat melebihi USD 550 milyar. Oh ya, angka ini kurang lebih setara dengan 4x APBN pemerintah RI tahun 2016. Ya, perusahaan yang tetap bisa menjaga relevansi akan terus bertumbuh kembang dengan hebat – namun selebihnya tidak lagi bisa biasa-biasa saja. Saat gagal menjaga relevansi, perusahaan akan dengan sangat cepat menghilang atau dihilangkan tanpa peduli pernah sebesar atau setenar apa sebelumnya. Daftarnya panjang dan akan bertambah panjang. Sebut saja VOC, DEC, Kodak, Nokia, Blackberry dan seabreg lain.

Apa alasan semakin sulit bagi perusahaan untuk hanya menjadi biasa-biasa saja pada era perubahan ekstrem seperti sekarang? Karena kecepatan perubahan, kompleksitas dan volatilitas hanya menyisakan sedikit ruang dan waktu bagi perusahaan. Dan jika ditelusuri lebih lanjut, bisa jadi perusahaan sudah menyalahi khitahnya sendiri. Perusahaan tidak lagi dibangun untuk manusia bertalenta. Sebaliknya, manusia (bertalenta ataupun belum) terpaksa dan dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan perusahaan yang semakin tidak relevan.

Relevansi patut dan wajib diperjuangkan setiap saat, terlebih bagi perusahaan. Salah satu caranya adalah dengan menyimak tanda-tanda masa depan saat mulai menampakkan wujudnya. Saat perusahaan tidak menyadari telah menjadi tidak relevan, secara otomatis industri yang melingkupi perusahaan tersebut juga terikut. Contoh klise dengan kemunculan Uber / Gojek / Lyft dan pengaruhnya pada industri transportasi. Contoh lain? Perhatikan industri perbankan yang tengah berusaha keras menjaga relevansinya. Kenapa? Karena generasi millennial adalah generasi paling tidak bankable sepanjang masa dan sama sekali tidak melihat hal ini sebagai problem. Lambang-lambang “kesuksesan” seperti punya mobil, hunian, tabungan, status kepegawaian, jabatan, loyalitas bekerja dan lain-lain – tidak lagi dipentingkan. Dan tergantikan dengan keinginan mutlak untuk jadi global citizen yang bisa pergi kemana saja dan tinggal dimana saja. Kepedulian pada alam & sesama, fleksibilitas kerja, waktu dan peran – telah menjelma jadi lambang-lambang sukses baru.

Perusahaan yang masih berorientasikan semata pada warisan masa lalu dan terobsesi membentuk (to mold) semua talenta kedalam bentuk yang sama dipastikan akan jadi semakin irrelevant, bubar jalan dan … dilupakan. Sebaliknya, perusahaan yang menitikberatkan untuk senantiasa belajar dari setiap perubahan dan merayakan keberagaman talenta yang menjadi bagian organisasi, akan merasakan masa depan sebagai hangat dan bersahabat.

Prinsip perusahaan dibangun khusus untuk manusia – dan bukan sebaliknya menuntut praktek sadar langsung setiap saat akan keistimewaan setiap orang. Kepedulian untuk memberi ruang karya pada setiap orang. Dan kesempatan untuk berkesperimen (baca: melakukan kesalahan) bagi setiap orang. In the end, great organizations are built by people who believe to build something greater than themselves.

Apa perusahaan yang paling Anda kagumi? Bisa jadi tempat Anda bekerja atau perusahaan yang Anda amati. Dan kenapa Anda mengaguminya? Silahkan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya ingin sekali membacanya.