People Make Mistakes. Don’t Punish the Everyone

May 24, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Saya yakin Anda pernah mampir ke tempat-tempat yang dipenuhi oleh banyak tanda larangan dan peringatan. Sebut saja pada toilet pria – karena saya hampir tidak pernah ke toilet wanita kecuali saat tidak sengaja – terdapat tulisan berhuruf besar semua: TOILET INI HANYA UNTUK CUSTOMER atau saat mulai beranjak masuk DILARANG BUANG PUNTUNG ROKOK DISINI. Pernah saat iseng saya hitung terdapat tidak kurang dari 5 ragam larangan dalam satu toilet. Budaya menampilkan larangan sepertinya sudah lazim – atau dilazimkan oleh berbagai orang / organisasi sebagai satu-satunya cara memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik. Coba perhatikan sekitar Anda jika tidak percaya.

Salah satu larangan paling ironis adalah soal buang sampah sembarangan. Mungkin karena sudah sedemikian kesal maka pembuatnya membuat tanda larangan raksasa bertuliskan tinta merah dengan huruf besar semua: BILA KAMU BERPENDIDIKAN JANGAN BUANG SAMPAH DISINI. Nah, ironisnya persis dibawah tanda itu terdapat tumpukan sampah yang meninggi. Entah bentuk larangan atau kata-kata apa lagi yang akan ditulis saat dia menyadari larangan sebelumnya tidak dipatuhi.

Lebih lanjut, jika anda mampir ke restoran, tempat wisata atau tempat ngumpul gini hari seringkali pada pintu masuk terdapat tanda-tanda larangan seperti DILARANG BERPHOTO. KAOS OBLONG & SANDAL TIDAK DITERIMA. MATIKAN SUARA CELLPHONE dan lain-lain. Terkadang saya jadi terpikir siapapun yang membuat larangan seperti itu bisa jadi butuh teman ngobrol. Kasihan juga mereka lho! Kenapa? Karena setiap kali terjadi kejadian yang mengecewakan, mereka menghukum semua orang – termasuk didalamnya calon konsumen mereka. Apakah ini bagus dan penting untuk mempertahankan bisnis? Mungkin saja, namun saya yakin pendekatan dengan melarang adalah satu-satunya cara. Bukan saja tidak asyik, lebih dari itu seringkali tidak efektif.

Pernah harus mencopot sepatu saat hendak masuk pesawat? Ternyata penyebabnya konon akibat satu orang tidak waras pernah berusaha membakar sepatunya yang sebelumnya direndam kerosin. Akibat satu kejadian itu sekarang semua orang harus menanggung konsekuensinya. Tentu saja ada alasan keamanan karena khawatir ada orang sakit jiwa lain yang berusaha menyelundupkan bahan peledak atau senjata tajam di sepatu. Namun tetap saja yang terjadi adalah akibat ulah satu atau segelintir orang maka semua orang lain setelahnya harus menanggung dampaknya.

Jika Anda pelaku usaha atau pemegang amanah organisasi, naluri untuk menghindari kejadian tidak mengenakkan akibat ulah satu orang / satu kejadian – adalah dengan merancang kebijakan yang berlaku umum. Nah, walaupun diniatkan dengan baik, bisa jadi hasilnya kontra produktif.  Karena satu karyawan pernah menumpahkan makanan berkuah di kantor, bukan berarti kebijakan dilarang makan selain di pantry adalah kebijakan tepat. Karena satu orang pernah salah parkir dan mobil si bos tidak bisa keluar, tidak berarti kebijakan dilarang membawa mobil pribadi tepat dijalankan. Dan seterusnya.

Hal terpenting dalam cerita ini adalah untuk tidak tunduk pada rasa takut, kecewa dan amarah dalam mengambil keputusan berikutnya yang akan diberlakukan secara umum. Tidak ada baiknya menghukum semua orang akibat ulah satu orang. Tidak ada bagusnya berasumsi satu kejadian buruk akan terjadi pada semua kejadian lain. Pemikiran bahwa ini adalah soal anda melawan semua orang di dunia dan semua orang (tertentu) adalah jelek harus dibuang jauh-jauh.

Banyak cara-cara kreatif lain yang asyik bisa dilakukan untuk mencapai tujuan yang sama. Soal toilet tadi? Jika khawatir aliran urin tidak tepat sasaran, pernah lihat gambar lalat yang dilukis pada urinoir? Selain itu, kenapa harus membedakan antara customer dengan pegawai? Apakah yang satu lebih penting dari yang lain? Soal sampah? Kenapa tidak dibuatkan tanaman bunga di lahan-lahan kosong agar tidak dijadikan tempat pembuangan sampah sementara. Banyak cara saat pemikiran tidak terfokus pada satu kesalahan dari satu orang. Small things make me smile. Good people make me laugh. Life is good.

Pernah melihat atau mengalami hal-hal terkait larang-melarang dan efektivitasnya? Please elaborate. Silahkan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC

You Might Like This