Just Say It: “I Have a Problem…”

May 22, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Bisa jadi problem terbesar bukan terletak pada problemnya. Mulai dari problem bisnis, problem korporasi, problem keluarga, problem pertemanan, problem keuangan, problem bernegara… Apapun itu! Problem terbesar justru terjadi saat sang empu hidup tidak (baca: belum) mau mengakui kalau punya problem. Uang menipis, gaji pas-pasan dan hutang menggunung? Buat sementara waktu pakai saja dulu kartu kredit atau ambil hutang baru dari penawaran kredit tanpa agunan yang cepat dan menggiurkan itu. Nanti juga bakal ada bonus dan kenaikan gaji.

Sudah seminggu tidak bertegur sapa dengan teman satu team? Itu masalah dia, rugi dia… dan bukan problem saya. Toh saya masih punya banyak teman lain jika butuh kawan ngobrol atau jalan bareng. Hubungan dengan pasangan semakin berasa vanila dan mendingin? Gakpapa… wajar kan jika sudah menikah sekian lama? Asalkan tidak ada keributan dan selama masih bisa bertahan hidup bareng di bawah atap genteng yang sama harusnya OK-OK saja dong. Apa lagi? Bisnis bertumbuh inkrimental alias ala kadarnya 5%-10% sepanjang tahun kemarin karena munculnya layanan alternatif. Sementara biaya dan ongkos terus meningkat. Kenapa musti risau? Syukuri saja pertumbuhan sekecil apapun – toh, organisasi ini sudah seperti keluarga sendiri.

Mengakui punya problem itu… susah banget. Bener kan? Ayo ngaku saja. Alasannya juga seabreg dan semua terkesan sahih. Bukankah mengakui problem itu sama dengan mempertontonkan kelemahan? Bagaimana jika pengakuan ini justru dimanfaatkan oleh pihak lain untuk menghantam kita di kemudian hari? Ada lagi argumen yang beranggapan kalau mengakui problem adalah indikasi manusia cengeng dan minta dikasihani. Nah, jika mengakui saja sulit bisa dipastikan problem akan menetap, mengakar hingga pada saatnya mendominasi melebihi kemampuan kita menutupinya. Percayalah! Bukan karena saya layak dipercaya, namun karena saya kerap terjebak dalam situasi meremehkan hingga menutupi problem.

Kabar baiknya jika diperhatikan secara mendalam, hampir tidak ada problem yang tidak berawal dari problem manusia. Dengan kata lain: (Almost) Every problem is a human problem. Dan jika demikian maka selama anda, saya dan kita semua masih menyandang status sebagai manusia seharusnya harapan untuk menyelesaikannya masih terbuka lebar.

Salah satu rekomendasi paling bermanfaat untuk mengakui, menerima dan memahami problem dikemukakan oleh Taiichi Ohno – industrialis Jepang dan penemu Toyota Production System & Lean Manufacturing. Dalam tulisannya, jika sang empu hidup berani terus mempertanyakan “Kenapa” untuk setiap problem yang muncul maka titik awalnya pasti problem (sikap, perilaku & cara pandang) manusianya. Contoh dalam problem bisnis:

  • Kenapa pertumbuhan penjualan melambat? Karena divisi penjualan tidak melakukan tugasnya dengan baik.
  • Kenapa divisi penjualan tidak melakukan tugasnya dengan baik? Karena munculnya layanan alternatif yang lebih baik dari kompetitor.
  • Kenapa muncul layanan altertnatif yang lebih baik dari kompetitor dan bukan perusahaan kita? Karena perusahaan ktia terpaku pada bisnis konvensional yang masih berkontribusi 95% dari total pemasukan.
  • Kenapa perusahaan kita dibiarkan terpaku pada bisnis konvensional yang masih berkontribusi 95% dari total pemasukan? Karena tidak ada alokasi memadai untuk memunculkan inovasi baru.
  • Kenapa tidak ada alokasi memadai untuk memunculkan inovasi baru? Karena bakal berdampak pada pembengkakan biaya R&D yang tidak bakal disepakati oleh manajemen & pemegang saham.

Kesimpulan: Problem penjualan diawali oleh cara pandang manajemen dan pemegang saham yang hanya mengedepankan tujuan jangka pendek. Dalam konteks tertentu sebenarnya layak juga disebut sebagai keserakahan dan anti growth mindset.

Sehingga siapapun Anda… dan problem apapun yang Anda tengah hadapi, hal pertama adalah belajar mengucapkan kalimat ini: “I have a problem …. , I don’t know how to solve it myself …, and I need help…” Lagipula, seorang bijak pernah menyampaikan ini pada saya belum lama ini: “You can never fix a problem that you refuse to acknowledge. ”

Pernah mengalami hal serupa terkait dengan keberanian mengungkapkan problem yang tengah Anda alami?  Silahkan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Saya ingin sekali membacanya.