What & How To (really) Teach Anyone?

May 14, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Istri saya @yamunaa mengajukan pertanyaan menarik sekaligus menohok tempo hari: “Apa sih yang bakal kamu ajarkan pada anak laki-lakimu (baca: anak bungsu laki-laki kami)?” Menarik karena saya baru sadar kalau ternyata saya belum pernah benar-benar memikirkannya. Yeah sure! Saya punya beberapa ide / prinsip / pelajaran tentang beberapa urusan penting yang harus diketahui oleh si bungsu Raviv. Tentang jadi orang baik, tentang pendidikan & bisnis, tentang jadi laki-laki sejati, bertanggung jawab dan tentang jadi kepala keluarga…. banyak deh. Tapi ya itu tadi…  masih normatif dan belum terbayang secara spesifik apa dan bagaimana pola penyampaiannya. Menohok karena pertanyaan ini mungkin saja sinyal kuat dari istri untuk saya segera memikirkan – dan melakukannya. Harus diakui walaupun banyak bercuap-cuap pada banyak anak-anak orang di luar, I’ve not been doing a good job to teach my own son.

Saya jadi teringat “pelajaran-pelajaran” yang pernah disampaikan mendiang ayah pada saya sepanjang interaksi kami. Berbeda dengan saya, beliau bukan termasuk orang yang mudah berekspresi dan berkata-kata. Ilmu-ilmu terpenting yang “diajarkan” oleh ayah hampir selalu tidak muncul dalam bentuk percakapan tapi justru “kena” banget. Contoh? Pelajaran soal uang dan etos kerja diberikan dengan membiarkan saya menerima konsekuensi saat kehabisan uang jajan yang diberikan setahun sekali. Ayah sebenarnya mampu memberikan apapun yang saya minta, termasuk uang jajan, namun beliau justru menjadikan kesembronoan saya dengan uang sebagai… pelajaran. Ketegaan dan kerelaannya melihat anaknya “sengsara” adalah metode pengajaran. Walaupun kala itu saya kesal luar biasa – dan terpaksa harus mulai bekerja (saat duduk di bangku SMA kelas dua), pelajaran penting dari ayah ini telah membentuk dan masih membekas dalam diri hingga sekarang.

Sebagai ayah dari anak-anak yang masih kecil, saya tidak berani sok tahu tentang metode paling efektif dalam hal mengajar anak-anak. Nah, dengan menyimak pengalaman pribadi sebagai anak, saya percaya kalau setiap anak – dan siapapun hampir selalu siap belajar, walaupun hampir selalu juga tidak suka diajar… terlebih oleh orang tua atau guru atau pemimpin mereka. Saya yakin banget jika kala itu pelajaran soal uang dan etos kerja disampaikan oleh ayah dalam bentuk perkataan, wejangan dan ucapan pasti hanya akan masuk dan keluar lagi dari kuping kiri tanpa pernah masuk kepala.

Kalaupun ada yang bisa disampaikan dalam bentuk pengajaran untuk anak bungsu laki-laki saya bisa jadi justru cerita-cerita kegagalan bapaknya. Gagal saat memulai usaha sendiri. Gagal dalam menata keuangan karena boros. Gagal menjaga amanah yang dititipkan. Gagal dalam mengelola hubungan dengan orang lain. Dan bisa jadi, gagal sebagai ayah yang bisa dibanggakan.

Kenapa koq justru cerita kegagalan? Karena cerita sukses bisa dengan mudah disimak dimana-mana mulai dari koran, buku-buku, televisi, media sosial hingga berbagai orang yang akan dia jumpai. Cerita kegagalan, terlebih dari orang yang sangat dikenal seperti ayahnya bisa jadi akan lebih menarik – dan penting untuk didengar, diingat & dimaknai. Tentunya teriring doa semoga si bungsu tidak harus melalui kesalahan yang sama sebagaimana bapaknya.

Apa lagi? Kegagalan bukan hal klise untuk diartikan sebagai keberhasilan yang tertunda. Kegagalan adalah bagian dari cerita hidup yang bisa memberdayakan – atau memperdayakan. Bisa meninggikan – atau merendahkan. Dan bisa menguatkan – atau melemahkan. Semua tergantung sang empu hidup.

Anak bungsu laki-laki saya, anak-anak semua orang dan semua orang di muka bumi akan melakukan banyak kesalahan dalam hidupnya. Bukan karena dia buruk, tapi karena itulah cerita hidupnya. Namun dia juga akan merasakan, menghidupi dan merayakan cerita hidupnya itu… suatu hari nanti. Tulisan ini saya tutup dengan mengutip kalimat Zig Ziglar: “Failure is an event, not a person.”
Ayo berbagi cerita kegagalan. Apa cerita kegagalan Anda dan hikmah apa yang Anda ambil dari situ. Silahkan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.