No Emotions Is Permanent

May 8, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Pernah marah – atau sedih – atau gembira – dengan sedemikian rupa sehingga tidak sadar kalau sedang marah, atau sedih, atau gembira? Pertanyaan aneh ya? Dengan kata lain, apakah saat naik pitam masih tetap sadar sedang marah? Jika ya – itu bagus. Tidak mampu merasakan saat tengah mengalami emosi ekstrem tertentu bisa jadi indikasi diri sedang dikuasai sepenuhnya oleh emosi tersebut. Banyak sekali contoh-contoh letupan emosi saat di jalan raya, restoran atau tempat publik lainnya. Silahkan tengok akun-akun media sosial kalau tidak percaya. Sulit membayangkan orang-orang terpelajar bisa mengucapkan kata-kata sekasar, sesadis dan seekstrim itu. Orang-orang yang sama itu bahkan mungkin juga tidak habis pikir dengan perilakunya sendiri saat kemarahannya reda dan menonton kegilaan sesaat mereka yang telah terekam (selamanya) di youtube atau instagram. Saat emosi sudah merajai dalam diri, sedikit sekali peluang untuk tampil waras – apalagi untuk benar-benar waras.

Emosi ekstrem sesaat ini bahkan bisa dirasakan secara masal. Contoh? Selepas Pilkada DKI beberapa minggu lalu, tidakkah Anda merasakan emosi ekstrim yang menyelimuti media, masyarakat, orang-orang di sekitar kita, keluarga atau bahkan diri sendiri? Mudah-mudahan saya tidak berlebihan saat mengatakan beberapa pekan terakhir ini pas banget jika diistilahkan “bau bensin” atau “panas membara”… banyak orang cenderung sensi, sinis dan lebih mudah marah. Jika sudah demikian imbasnya bisa terbawa kemana-mana. WhatsApp Group mulai ditinggal oleh beberapa anggotanya karena merasa berbeda pendapat dan tidak terwakili, beberapa kelompok lain malas bertegur sapa hingga putusnya pertemanan. Alasan bisa macam-macam dan mungkin saja logis namun ya itu semua sekedar argumen untuk mewadahi emosi ekstrim yang tengah dirasakan.

Terkait urusan Pilkada DKI, muncul emosi ekstrim yang dipicu karena kalah merasa tidak diperlakukan dengan adil, bijak dan simpatik. Sementara yang menang juga merasa tidak memperoleh pengakuan, apresiasi dan penghormatan sebagaimana mestinya. Berbagai letupan emosi, pertentangan dan perseteruan muncul. Siapapun, kapanpun dan dimanapun bisa memunculkan versi kebenaran mereka… tentunya sebagai bungkus intelektual emosi tertentu yang dirasakan.

Percayalah, tidak ada hal baik yang bisa muncul dari kondisi ini. Extreme emotions cause pain, and pain shall only lead to more pain and suffering. Anda juga merasakannya? Saya juga – dan ini alasan kenapa saya lebih senang menghindari lini masa twitter sejak beberapa bulan terakhir. So toxic and tiring when people intentionally lashes out their anger and disappointment.

Kabar buruknya? Hal-hal semacam ini sulit dihindari oleh siapapun dan apapun kapasitas Anda. Kabar baiknya? Don’t feel so bad. Kita semua hampir pasti pernah merasakannya dalam kehidupan ini – tentunya dalam tingkatan dan intensitas yang berbeda-beda. Pertanyaan terpenting sekarang: Apakah sudah punya pemahaman untuk mengantisipasinya?

Hal pertama yang harus dipahami adalah bahwa tidak ada emosi yang permanen. Saat merasakan sedih, hal ini dijamin tidak akan selamanya melingkupi pemikiran dan perasaan kita – walaupun sepertinya akan mendominasi diri selama 10 tahun kedepan. Kenali saat emosi mulai muncul – dan sebelum mendominasi sehingga kewarasan tetap ada. Saat mulai marah… kenali, akui dan hormati rasa yang muncul.

Kedua, sebelum emosi ekstrim dimanifestasikan dalam tulisan (baca: cercaan) dan perkataan (baca: makian), berikan jeda terlebih dulu. Kenapa? Karena energi dahsyat yang muncul dari emosi ekstrim sebenarnya (selalu) bisa diarahkan untuk hal-hal baik, seru dan asyik.

Terakhir, tidak ada manusia sempurna. Sehingga jika telah terlanjur membiarkan diri didominasi oleh emosi ekstrim, hal paling waras yang bisa dilakukan selanjutnya adalah … minta maaf, berbaikan dan membangun kembali jalinan persahabatan. Saya tutup tulisan ini dengan menyitir perkataan waras sahabat saya @RezaGunawan: “Never make permanent decision based on temporary emotions. Ever.”

Pernah kehilangan kendali diri karena terlampau marah, sedih atau gembira? Apa yang terjadi dan pembelajaran apa yang Anda ambil? Silahkan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.

You Might Like This