Important VS Fun

May 2, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Sekolah itu penting. Siapa saja yang waras pasti sepakat dengan pernyataan ini. Dan karena sekolah itu penting maka sudah sepantasnya siapapun yang terlibat dalam proses belajar dan mengajar di sekolah mementingkannya. Artinya? Para murid belajar dengan cermat, rajin dan tekun. Para guru mengajar dengan sabar, konsisten dan berdedikasi tinggi… Inikah yang terjadi? Atau justru terdengar seperti iklan wajib belajar zaman orde baru? Kenyataan yang terjadi sehari-hari seringkali sangat berbeda dengan kelaziman pemahaman tentang pentingnya sekolah. Silahkan tanya ke anak, ponakan atau adik Anda yang masih bersekolah: Apakah mereka menikmati saat-saat berada di sekolah? Atau coba Anda mengingat saat dulu masih duduk di bangku sekolah. Apakah menikmati proses belajar mengajar atau lebih asyik bergaul dengan teman sebangku? Apakah ingat pelajaran-pelajaran dan ujian-ujian penting atau justru lebih ingat interaksi seru saat sedang eskul, darmawisata dan pentas seni? Saya yakin jawaban Anda, saya dan kita semua tidak berbeda. Boleh saja sekolah penting tapi seringkali tidak asyik.

Bagaimana dengan dunia pekerjaan? Bukankah bekerja agar bermata pencarian itu penting? Terlebih bagi mereka yang sudah punya tanggung jawab menafkahi istri, anak dan keluarga. Lagi-lagi tidak ada seorang waras pun yang bisa menyangkal pentingnya bekerja – dan punya pekerjaan. Nah, tapi apa jadinya kalau saat menjalankan hal penting ini justru banyak yang merasa demotivasi saat berada di kantor? Tidak yakin? Silahkan simak pemaparan riset Harvard Business Review tahun 2014 dengan tajuk “Energy Project” yang menyebutkan kalau 74% pekerja kantoran tergolong low energy. Dengan kata lain 74 dari 100 orang atau 3 dari 4 orang yang bekerja pada organisasi tidak merasa berdaya, berproduktivitas rendah dan mudah cemas. Sekali lagi ini bentuk kegagalan dalam menjalankan, menjadikan dan mewujudkan hal penting sesuai dengan derajat kepentingannya.

Sejujurnya apapun bisa dianggap penting (bagi segelintir orang), namun pada kenyataannya justru tidak dipedulikan oleh orang lain. Menjadikan sesuatu penting sama sekali bukan jaminan atau jawaban agar diperhatikan dan dipedulikan orang lain… apalagi jika sekedar dipenting-pentingkan.

Sebaliknya hal-hal paling remeh bisa jadi justru lebih dipentingkan oleh banyak orang saat disampaikan dengan seru, asyik dan fun! Silahkan cek berapa jumlah follower instagram, twitter dan youtube para content creator mumpuni di tanah air dan mancanegara. Perkara pilihan baju hari ini, foto makanan tertentu dan bedah permainan online bisa menyita perhatian dari jutaan orang dan memunculkan banyak percakapan.

Mendiang Perdana Menteri Inggris Raya, Winston Churchill, pernah berujar kalau dia selalu siap belajar walaupun tidak selalu siap diajari. Ini sebenarnya penanda bahwa sistem pendidikan (baca: hal penting yang patut dipentingkan) sejak zaman Churchill masih menguap kebosanan di kelas … ternyata masih juga belum berubah hingga kini. Dunia pendidikan, korporasi dan bahkan keluarga masih terjebak pada pola pikir mementingkan hal yang dianggap penting agar didengar dan dipatuhi. This just doesn’t work because it didn’t work and shall never work.

Jadi mana yang harus didahulukan? Penting atau asyik? Percayalah, tidak ada hal yang lebih penting selain mengasyikkan semua hal penting. Berbagai pelajaran akan lebih mudah dipahami oleh murid saat justru tidak sekedar diajarkan, namun diobrolkan, dijalankan dan dimainkan … dengan asyik.

Tidak perlu terpenjara dengan kata dan berbagai hal penting. Belajar merayakan berbagai bentuk keasyikan. Tidak semua hal di dunia pendidikan harus semata tentang … pengajaran. Tidak segala urusan di dunia korporat harus dijalankan secara korporat. Kenapa tidak lakukan lebih banyak hal-hal spontan? Kenapa tidak coba meeting sambil berdiri atau jalan kaki? In the end, normal is overratednobody remembers normal people and normal things. Feel good. Be true. Go crazy and have fun!

Pernah melakukan hal unik, aneh dan gila saat anda sedang di kantor atau di sekolah? Apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda rasakan? Silahkan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.