Connecting the Dots: It’s a Mindset

April 27, 2017 | TYO

SCROLL TO READ

Mungkin beberapa dari kalian sudah sering mendengar istilah ‘connecting the dots’. Connecting the dots adalah kemampuan untuk mengaitkan satu ide dengan ide yang lain untuk menemukan “the big picture”.

Proses ini saya aplikasikan di keseharian saya, dan saya gunakan juga sebagai mindset dalam menjalani hidup.

Ini 3 hal yang saya pegang dari konsep ‘connecting the dots’:

  1. Percaya bahwa semua pengetahuan dan pengalaman itu berguna; dan di waktu yang akan datang akan terhubung satu sama lain untuk menjadi sesuatu yang bahkan lebih berguna.
  2. Mempunyai spirit untuk selalu ingin belajar pengetahuan baru dan mendapatkan pengalaman baru untuk membuat ‘dots’ yang lebih banyak.
  3. Percaya bahwa semua itu dihadirkan, tidak ada sesuatu yang kebetulan. Selalu belajar dari apa yang dihadirkan.

Oke, kita mulai bahas satu satu ya.

Untuk bisa percaya bahwa pengetahuan, pengalaman dan titik-titik yang lain yang kita punyai bisa terkoneksi di masa depan itu butuh proses.

Ini cerita saya.

Cerita awal memilih jurusan kuliah tahun 1998. Saya memilih jurusan Computer Science. Kenapa? Saat itu adalah jaman Internet Boom yang pertama. Saya tertarik banget dengan tech companies seperti Pets.com, Ebay.com, dan Amazon.com yang sukses di jaman itu sehingga selesai kuliah saya ingin mendapat kesempatan untuk bekerja buat mereka. Kenyataannya: saya tidak lulus beberapa kelas computer science. Failed! Tapi ada benang merah yang saya temukan dari pengalaman itu. Ternyata yang saya suka adalah mata kuliah yang berhubungan dengan website design, bukan kelas programming-nya.

Lalu saya banting setir ke jurusan Bisnis, jurusan yang pastinya aman dan (kalau kata orang tua) pasti berguna bagi masa depan saya. Sembari membereskan kuliah S1 & S2 di jurusan Finance and Marketing, ternyata cinta pertama saya terhadap web dan graphic design masih terus membara. Sehingga saya menjadikan seluruh waktu luang saya untuk belajar desain otodidak lewat Lynda.com dan berbagai kursus online lainnya, ambil kelas di akhir pekan, serta nodong belajar dari teman-teman yang mengambil jurusan seni.

Akhirnya ketika lulus S2 Marketing dan harus mencari kerja, saya mencoba mencari kerja di dunia marketing. Ternyata untuk mendapat pekerjaan di bidang ini sangatlah kompetitif, terutama di kota San Francisco, tempat di mana saat itu saya tinggal. Saya pun memutar otak, berarti untuk bersaing dengan kandidat lain kita harus punya nilai lebih. Ternyata skill desain yang saya pelajari secara otodidak dapat menjadi competitive advantage saya untuk mencari pekerjaan. Lewat perpaduan marketing degree dan skill desain inilah akhirnya EA (Electronic Arts) melirik saya. Di perusahaan ini saya memulai journey saya di Silicon Valley. Ketertarikan saya terhadap dunia desain terus bertumbuh dan pada akhirnya saya memutuskan untuk berkarir di dunia desain dan teknologi.

Kalau saya tidak mengambil jurusan computer science, saya tidak terekspos oleh dunia desain. Kalau saya tidak mendalami dan mencari pengalaman desain secara otodidak sewaktu kuliah, saya akan lebih susah mencari pekerjaan, berkarir dan pada akhirnya membuat bisnis sendiri di Silicon Valley.

Kalau Steve Jobs bilang “You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future.”

Steve Jobs membagikan kata-kata ini pada tahun 2005, dan pada saat  itu saya sudah mengalami perjalanan yang saya ceritakan di atas. Namun, perkataan Jobs mengkonfirmasikan apa yang pelan-pelan menjadi kepercayaan saya ternyata cukup logis dan terjadi pada orang lain juga. Sejak saat itu saya percaya bahwa titik-titik di dalam kehidupan saya itu harus diperbanyak dan diperdalam sehingga suatu saat dibutuhkan, saya bisa mengambil titik-titik itu dan mengkoneksikannya.

Saya merasa bahwa seluruh pengetahuan, ide, and pengalaman yang kita miliki merepresentasikan beberapa titik-titik kecil di hidup kita (dots). Elemen-elemen tersebut telah kita kumpulkan sedikit demi sedikit semenjak kecil hingga saat ini – dan masih akan terus bertambah seiring dengan perjalanan umur manusia. Kita sendiri yang menciptakan titik-titik tersebut dimana nantinya bisa kita hubungkan satu sama lain untuk membuat pola dalam kehidupan kita. Semakin banyak titik yang kita punya, semakin banyak pilihan untuk membuat pola/gambar yang bagus dan berbeda bentuk. Maka dari itu saya percaya bahwa saya harus tetap belajar pengetahuan baru dan juga mendapatkan pengalaman baru sehingga titik-titik saya akan lebih banyak.

Dalam membuat titik, saya membedakan antara pengetahuan dan pengalaman. Awalnya dari pengetahuan dulu. Kalau saya benar-benar tertarik dengan pengetahuan tersebut,  saya terjun langsung untuk mengalami. Di gambaran saya, titik pengetahuan itu ukurannya relatif kecil tergantung kepada seberapa banyak pengetahuan yang kita punya. Semakin banyak pengetahuan di topik tertentu, semakin besar titiknya. Tapi kalau titik untuk pengalaman saya menggambarkan ukurannya cukup besar karena pengalaman memberikan kita ilmu dan pengetahuan yang levelnya cukup dalam. Pengalaman biasanya memberikan kita ilmu seumur hidup.

Kata-kata ini saya kutip dari teman saya Ivandeva Wing. Saya punya prinsip yang sama karena saya percaya bahwa semua yang dihadirkan kepada kita adalah ilmu untuk kita pelajari. Semua kesusahan, kesenangan, kesedihan yang kita alami adalah ilmu dan pengetahuan yang dihantarkan kepada kita setiap saat. Kadang kalau saya menerangkan ke teman-teman point nomor 2 tentang memperbanyak pengetahuan dan pengalaman, mereka suka bertanya “gue belajar apa lagi dong ya?”. Setiap kita membuka mata sewaktu bangun tidur, pasti banyak hal-hal baru yang dihadirkan ke kita untuk kita pelajari: kesuksesan teman, masalah yang dihadapi keluarga, perjalanan macet, dan lainnya. Pelajaran-pelajaran ini bisa membuat kita terinspirasi untuk membuat titik-titik baru. Titik-titik yang akan menjadi sesuatu yang berguna di masa depan kita.

Sebagai penutup, apabila ‘connecting the dots’ ini kita jadikan sebuah mindset di keseharian, maka kedepannya, keterampilan yang perlu kita pelajari sebenarnya adalah keterampilan untuk bisa melihat gambar yang lebih besar, serta ruang yang lebih besar di mana kita dapat membuat koneksi baru – dan kemudian untuk membuat koneksi baru yang unik, menarik, tidak biasa, khas, dan berguna. Ini akan kupas di tulisan saya berikutnya.
But meanwhile, explore more and connect your dots!