Prototyping: Go Beyond Your Assumptions

April 26, 2017 | RONI

SCROLL TO READ

“Bu, aku pengen sepeda BMX!”

Percakapan di atas terjadi sekitar tahun 1984 setelah saya diajak Bapak menonton film BMX Bandits.

Buat yang belum tahu BMX Bandits, film ini dibuat di Australia dan dibintangi oleh Nicole Kidman yang memerankan karakter Judy. Terus terang kalo ditanya sekarang jalan ceritanya seperti apa, saya udah pasti lupa. Tapi yang saya ingat betul adalah scene Judy main BMX di jalur landai dan trotoar.

Berlatar belakang pantai dan suasana musim semi Australia, saya ingat cuaca saat itu sangat berangin, langit biru, dan matahari bersinar terang. Untuk seorang anak lelaki yang lahir dan berkembang di daerah pegunungan Bandung, melihat cewek pulling tricks on BMX di pinggir pantai Australia dengan cuaca seperti itu, rasanya AWESOMEEE!!

Sejak momen ini, hasrat untuk punya BMX instantly saya rengekkan.

Sebelumnya, saya punya sepeda mini trail. Karena kami tinggal di daerah Dago, Bandung, maka jalan berbukit dan area berlumpur bukan hal yang asing. Setiap hari saya harus berjalan sekitar 400-500 meter melewati pematang sawah, tanjakan, dan  lapangan badminton tanah untuk menunggu angkot ke sekolah. Waktu tempuh saat itu, jalan kaki sekitar 15-20 menit baru kemudian ketemu angkot. Sedangkan dengan naik sepeda, saya bisa sampai sekolah dengan durasi lebih singkat!

Untuk teman-teman sebaya, jalur tersebut merupakan surga ketika habis hujan. Jalan tanah yang berubah menjadi trek lumpur itu seru banget untuk balapan atau playing tricks. Jika terjatuh pun resiko lebam berkurang karena jatuh di atas lumpur.

Kami dulu latihan wheelie, jumping melewati kayu, dan jumping melewati kubangan yang terinspirasi dari balapan motorcross yang sering dilihat di film, televisi, atau majalah. Tentu saja, lintasan tadi dalam keadaan berkubang lumpur sangat cocok untuk kami yang masih belajar. Yang bikin repotnya, setiap habis main, ya jadi punya kewajiban untuk mencuci sepeda.

Pengennya sih ada jalur untuk bisa main sepeda, kering, dan dengan pemandangan yang bagus. Inilah yang membuat saya ‘pede’ untuk minta BMX karena yakin sebagian trick di BMX Bandits itu bisa dilakukan atau dipelajari. Bayangkan, ketika itu saya berasumsi BMX secara ergonomis lebih baik dari mini trail, sehingga semua trick yang saya lihat di film maupun dari majalah bisa dicoba dengan lebih mudah.

“Ya sudah, kita buat perjanjian”.

Ibu meminta saya untuk menuliskannya dalam kertas. Jadi, saya ambil kertas tengahan dari buku dan menulis kurang lebih isinya adalah; kalau sampai ranking saya turun dari 5 besar, sepeda disita sampai ranking saya naik di semester berikutnya.

Sekarang saya tahu, kalau anak cowok umur 8 tahun dikasih mainan yang dia mau, itu  adalah resep bencana di sektor akademis. Jadi saat dibagikan rapor, ranking saya drop ke peringkat 11. Akibatnya? Seperti tertulis di perjanjian, si BMX Kuwahara digembok oleh Ibu. Bapak saya hanya bisa tertawa melihat kejadian ini.

Kebetulan, saat itu pas masuk bulan puasa dan ngabuburit pake BMX adalah pride and joy anak-anak di sekolah maupun komplek rumah. That was the worse puasa ever buat saya. I had what it takes, but then I blew it. I was left devastated, sad and humiliated. Gak cuma di sekolah tapi juga sekitar rumah.

Did you see what had happened? Ini adalah kali pertama saya membuat business proposal and the business failed.

Let me break it down. Kertas tengahan itu adalah perjanjian kerjasama antara saya dan Ibu. Di sini saya sebagai pemohon fasilitas olahraga dan transportasi, dengan agunan berupa peningkatan ranking. Ibu saya tentu saja berperan sebagai pemodal yang melihat potensi bisnis.

Apa bisnisnya? Bahwa jika ada fasilitas penunjang, maka saya bisa mengalami peningkatan prestasi akademis, efisiensi transportasi, peningkatan kesehatan, dan  keterampilan berolahraga di saat yang sama.

That sounds like bullshit. But that was what happened.

Apa yang diajarkan disini? Bahwa janji, apapun bentuknya, harus ditepati regardless any external circumstances. Bahwa investasi, apapun bentuknya harus diamankan. Bahwa fasilitas, kadang bisa berbalik memanjakan, dan berakhir dengan kemunduran. Bukan untuk berkembang seperti yang diharapkan dari tujuan utamanya.

Kejadian ini menjadi latar belakang saya berpikir dalam menjalankan proyek apa pun itu.

Mulai dari project non-profit, business development process, prototyping, sampai actual development process.

Pernah suatu hari, beberapa rekan muda usul ke management untuk membuat project ‘Waste to Education’. Sounds like a good idea ketika sampah yang kita hasilkan dapat menjadi tabungan untuk membantu sebuah program beasiswa.

Tapi saya gak semerta-merta menyetujui.

Saya minta mereka untuk canvasing dulu. Membuat semua kemungkinan gagalnya. Mulai dari supply chain sampah, transportation, sampai harga dari sampah tersebut. Di awal, mereka mendeteksi kesulitan menjual. Kemudian terdeteksi kesulitan lainnya adalah supply chain dari sampah-sampah itu. Sampai pada kesimpulan bahwa supply chain dan market teratasi, tapi ternyata keuntungan tidak cukup untuk menutup operasional sekalipun berbasis relawan.

Ha! Untung belum jadi proyek! Sebagian kecewa karena idealisme mereka tidak terlaksana. Dan sebagian kecil gue berkata “Now you feel what i feel ketika BMX saya digembok”.

Mengutip Ruby Wax, “Your brain is designed to keep you alive. It doesn’t give a shit about your happiness”.

Kekecewaan itulah yang membuat saya selalu berhati-hati dalam memulai melangkah. Dan sejak itu pula,  saya fascinated dengan hal-hal yang bersifat fast and general approach, seperti prototyping.

Kebanyakan orang hanya berasumsi untuk memulai sebuah bisnis. Padahal yang sebenarnya dibutuhkan bukan hanya sekedar perkiraan. Hal ini menjadi salah satu faktor besar yang membuat banyak bisnis dan bisnis model tidak bisa berkelanjutan.
Saya akan bahas lebih mendalam soal poin ini di tulisan berikutnya.