So… What Comes Next?

April 25, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Jika ada satu pertanyaan bernilai jutaan dolar – bahkan milyaran dolar bisa jadi adalah pertanyaan ini: “Jadi… apa yang akan terjadi selanjutnya?” Jawaban paling jujur – walaupun hampir selalu berat diakui adalah: TIDAK TAHU. Karena memang tidak ada seorangpun yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi.

Siapa yang bisa menyangka penemuan Alexander Graham Bell, anak dari seorang ibu tuli dan juga suami dari seorang istri yang juga tuli, bisa mengubah dunia telekomunikasi… dan bagaimana manusia berinteraksi.

Ya! Telepon yang tidak pernah lepas dari saku dan tangan kita pada awalnya ditujukan untuk membantu sang ibu dan sang istri Bell untuk bisa mendengar lebih baik. Kemunculan telepon telah meredefinisikan konsep jangkauan dan kedekatan.

Bayangkan saat pesan hanya bisa diantar secepat kuda paling cepat untuk kemudian digantikan oleh “sihir” dari kemampuan kawat tembaga dan kode morse. Sekarang, lewat sebuah alat bernama telepon, siapapun dan dimanapun bisa berhubungan dengan siapapun dan di belahan dunia manapun. Walaupun kedekatan yang dimunculkan tidak dengan serta merta menjadi kemesraan dan keintiman. Apakah hal ini pernah diprediksi sebelumnya? Absolutely not.

Cerita-cerita tentang buruknya rekor manusia, bahkan yang paling pakar sekalipun tentang kemampuan menebak masa depan terus berulang. Lihat saja cerita bagaimana personal computer, internet, musik, film, energi dan seabreg lainnya pernah diprediksi… dan SALAH.

Tidak ada yang pernah benar-benar bisa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika dahulu pertarungan hanya antar organisasi dan bisnis yang setara – sekarang ceritanya sudah sama sekali berbeda. Dulu Pepsi hanya khawatir pada Coca Cola, saat ini pertarungan bisnis minuman lebih terbuka dengan siapapun dan dimanapun.

Pernah dengar Craiglist temuan orang iseng bernama Craig Newark? Bisnis rancangan satu orang yang telah menggerus pendapatan semua perusahaan surat kabar raksasa di Amerika Serikat dan dunia. Apa lagi? Banyak jika kita mau menyimak berbagai cerita tentang perusahaan-perusahaan rintisan (startup) di dalam dan luar negeri. Sebut saja bagaimana gojek meredefinisikan industri transportasi. Bagaimana ruangguru meredefinisikan konsep pendidikan dasar-menengah. Dan bagaimana kita bisa meredefinisikan cara-cara penggalangan dana untuk amal dan apapun. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Lagi-lagi, nobody knows. Absolutely not.

Hal yang sama juga terjadi pada dunia perpolitikan termasuk pilkada DKI yang penuh hingar bingar dan sumpah serapah belum lama ini. Tidak ada yang bisa benar-benar menduga hasil yang baru saja kita baca sama-sama pada surat kabar ini. Siapa yang bisa menduga hasil ini satu tahun lalu, atau bahkan enam bulan lalu? Saat ini banyak yang memberikan penjelasan tentang kemenangan paslon penantang dan kekalahan paslon petahana – tapi ya itu tadi, menjelaskan yang sudah terjadi sama sekali berbeda dengan memprediksi apa yang akan terjadi.

Masih terkait dengan hal tersebut, saat ini mulai banyak muncul prediksi-prediksi tentang apa yang akan terjadi setelah Pilkada DKI. Semua yang bersuara tentu punya dalil-dalil dan argumen-argumen yang terasa masuk akal. Semua mendadak muncul sebagai pakar yang paling paham dan menguasai detak nadi dan pola pikir kolektif penduduk Jakarta… bahkan rakyat Indonesia. Tapi sejujurnya, itu semua hanya pendapat, prediksi yang hampir pasti tidak akan terjadi. Tingkat kebenaran berbagai prediksi ini bisa jadi dipastikan sama buruknya dengan prediksi para pakar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Lalu apa yang bisa dilakukan sekarang dong? Pertama, sah-sah saja beropini dan menyimak opini tersebut – namun hal terpenting adalah melihatnya bukan sebagai kebenaran namun sebagai sebuah opini yang perlu dan akan diuji sejalan dengan perkembangan waktu. Kedua, jika harus beropini – maka utarakan dengan kerendah-hatian bahwa ini sekedar opini dari pemikiran satu orang yang hanya mampu mempertimbangkan fakta-fakta terbatas. Dan terakhir, protect hope at all cost. Tidak ada gunanya menyebarkan rasa takut dalam beropini sekedar untuk mencari kawan dalam merasakan ketakutan.

Pernah mengalami bagaimana prediksi berbeda jauh dengan kenyataan? Please elaborate. Silahkan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.