Stay Relevant at Work Through Collaboration

April 23, 2017 | KEZIA

SCROLL TO READ

Setelah dua tahun meninggalkan dunia korporasi, masih ada pertanyaan dan penasaran di sana yang masih menggelitik perasaan saya. Bagaimana masih ada saja mereka-mereka yang melakukan pekerjaannya dengan cara yang sama tahun demi tahun, tanpa peduli perubahan work environment  yang begitu cepat berubah.

Apakah mereka tidak takut jadi obsolete ataupun dispensable?

Obsolote artinya “tidak terpakai”  sedangkan dispensable artinya “tidak penting”.

Berapa banyak keterampilan yang dulu dipandang sangat penting, sedangkan sekarang sudah jadi tidak terlalu relevan lagi? Atau kadar kepentingannya jadi menurun karena aksesibilitas kita kepada pilihan service dan cara untuk bisa mendapatkan jasa apapun sudah sangat beragam. Dengan adanya aplikasi online untuk segala macam hal. Mau cari dari desainer grafis, event organizer, sampai dengan penjahit dan catering makanan, kita sekarang punya opsi jauh lebih banyak untuk dapat yang terbaik.

Jika kita sensitif, jangankan perubahan di luar, seharusnya perubahan yang ada di dalam korporasi pun menuntut kita untuk memperbaharui cara kerja.

Coba saja kita lihat 3 perubahan besar yang terjadi:

  • Sejalan dengan waktu kita makin banyak harus bekerja dengan orang yang berada di timezone berbeda, secara geografis tidak memungkinkan kita untuk bertemu langsung, berbeda budaya dengan kita.
  • Kita makin sering diminta bekerja dalam proyek, diberikan tugas oleh orang yang bukan manajer lini kita sehingga semakin banyak stakeholders yang perlu di-manage.
  • Kita juga memiliki akses informasi yang jauh lebih banyak, yang di satu sisi dapat membantu kita menjadi resourceful tapi dilain sisi bisa juga mengganggu kita. Distracting dari apa yang seharusnya menjadi prioritas kerja.

Suka atau tidak suka, harus diakui keberhasilan kita dalam bekerja makin banyak bergantung dari hasil kolaborasi dengan orang lain. Keberhasilan kita tidak lagi hanya bisa ditentukan dengan apa yang dikatakan oleh manajer atau anggota tim, tapi juga oleh rekan kerja di luar tim termasuk external partners. Keberhasilan kita tidak lagi ditentukan kinerja kita dalam individual tasks  tapi juga kinerja network.

Sebuah whitepaper yang dibuat oleh CEB Corporate Leadership Council mendefinisikan Kinerja Network sebagai kemampuan  kita untuk meningkatkan kinerja orang lain dan bagaimana kita menggunakan input atau kontribusi orang lain untuk membuat kinerja kita lebih baik. Whitepaper itu menyampaikan bahwa apa yang disebut kinerja baik dulu, sudah tidak lagi relevan saat ini.  Sudah tidak, bisa jadi jago atau keren sendiri. Seseorang sekarang dilihat selain dari kinerja individu juga dari efektivitasnya mengembangkan  ide orang lain.

Nah pertanyaan berikutnya, jika ini yang dibilang cara yang baru,

“Bagaimana perusahaan menerapkan alat ukur yang yang bisa menangkap kedua informasi di atas?”

Jika dulu kinerja individual cukup dilihat dari hal-hal seperti tepat waktu atau tidaknya sebuah pekerjaan diselesaikan, apakah hasilnya error-free dan berkualitas tinggi? Hal ini tentu saja berbeda dengan kondisi sekarang.

Semua hal itu harus digabungkan juga dengan melihat apakah seseorang berkontribusi, misalnya untuk:

  • memberikan saran untuk cara kerja yang lebih baik, mencoba mengimplementasikan ide baru untuk perbaikan pelayanan ataupun produk
  • memberi masukan untuk penggunaan sistem atau peralatan untuk membantu efektifitas kerja, atau
  • apakah seseorang diakui oleh sekitar sebagai orang berperan untuk memungkinkan pertukaran ide lintas organisasi terjadi?

Jika seseorang menunjukan kombinasi antara kinerja individu dan kinerja network, riset CEB ini menyatakan orang tersebut sebagai Enterprise Contributor. Nah orang-orang seperti ini lah yang waktu saya berada di korporasi besar, maupun seperti di start-up sekarang yang bisa menjadi difference maker dan punya peran sangat besar untuk menjadikan sebuah organisasi berkinerja tinggi.

Orang- orang ini berbeda, dan sangat menyenangkan untuk punya kesempatan bekerja dengan mereka.

Gimana sih caranya kita bisa jadi Enterprise Contributor?

  1. Coba prioritaskan aktivitas berdasarkan besar tidaknya kontribusi kepada organisasi. Bukan hanya semata mata menyelesaikan tugas yang diminta oleh manager atau sekedar memenuhi job description saja.
  2. Mulai coba untuk mengerti bagaimana proses informal decision making di organisasi kita, selain daripada pengambilan keputusan formal sesuai struktur yang ada.
  3. Koordinasikan pekerjaan kita dengan orang lain di organisasi untuk mencapai hasil terbaik yang mutual. Tidak menunggu untuk berkolaborasi dengan orang lain atau kalau diminta saja. Take a step back, coba kenali rekan kerja kita lebih baik. Ketahui siapa yang punya skills atau keahlian tertentu, atau siapa yang suka dengan area tertentu.

Biasanya hal-hal di atas ini baru bisa kita mengerti kalau kita secara konsisten dan secara genuine memang ingin tahu apa yang dilakukan orang lain.

Dengan menjalin hubungan baik sebelumnya dan bukan hanya minta mereka terlibat saat kita sedang perlu saja.

Memang ini semua mungkin perlu pembiasaan, dan mungkin akan lebih sulit untuk kita yang biasa melakukan pekerjaan mengandalkan kemampuan kita sendiri.

But in times like this, at work, no one is an island, you cannot afford to be an island. Stay relevant!