Apa Yang Salah Dengan Kehidupan Anak Modern?

April 22, 2017 |

SCROLL TO READ

Bersama dengan Kepala Sekolah dan Guru Sekolah Kembang, proyek Project Eating Clean bertajuk “Healthy Schools Project” mulai dijalankan di Sekolah Kembang yang berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan.

Selama 1 bulan di bulan Februari, setiap murid diminta mengisi Food Diary. Dari hasil data terkumpul, kami berhasil mengumpulkan data makanan dan minuman yang dibawa murid ke sekolah ataupun makanan yang disediakan oleh penyedia jasa katering.

Kemarin, saya berkesempatan bertemu dan berdialog langsung dengan para murid TK dan SD sekolah ini. Saya mendapat kesempatan mendengar cerita mereka tentang kebiasaan makan mereka sehari-hari, di rumah maupun di sekolah. Termasuk pula kebiasan jajan atau makan di luar mereka. Sambil duduk lesehan, murid TK dan SD Sekolah Kembang dengan bersemangat bercerita tentang apa yang biasa mereka makan di rumah saat sarapan pagi, makanan dan minuman apa yang mereka sukai dan tidak sukai, makanan apa yang biasa mereka makan di sore hari sepulang sekolah atau pada saat nonton TV di rumah, apa yang biasa mereka konsumsi di malam hari sebelum tidur.

Cerita mereka apa adanya, tanpa diedit, dan kebanyakan membuatku prihatin.

Dari cerita para anak aku mendapat informasi bahwa susu adalah minuman yang sangat digemari kebanyakan anak. Dan, hampir semua anak percaya bahwa susu membuat tubuh kuat dan sehat.

 

Lalu, roti putih dengan selai buah atau selai kacang atau selai cokelat juga menjadi santapan rutin sarapan mereka selain sereal dan pancake tentunya.

 

Mereka juga bercerita bahwa mie instan adalah makanan yang dibatasi karena ada MSG, yang kata mama “membuat sakit”. Tapi, pasta dan mie selain mie instan merupakan makanan sehari-hari, yang (lagi-lagi) kata mama “sehat”.

 

Sayuran yang lumayan populer di antara mereka adalah wortel dan bayam. Ada beberapa anak yang diharuskan orang tua makan sayur 1 kali sehari, tapi banyak anak yang hanya makan sayur sesekali. Bahkan ada anak yang berkomentar bahwa dia tidak mau makan sayur karena rasanya pahit dan karena papa juga tidak makan sayur. Lalu, mata mereka sungguh berbinar ketika bercerita tentang berbagai minuman manis yang merekai disukai dan masih banyak lagi …

Inilah pola makan kebanyakan anak modern di kota-kota modern, termasuk Jakarta.

Pola makan anak modern  saat ini sudah jauh berubah dari pola makan anak di tahun 1950 dan 1960-an. Anak modern sekarang umumnya makan dengan “culture” modern, cepat dan mudah (quick and easy).

Kebanyakan anak modern makan kalori kosong (tidak bergizi) disela-sela kesibukan orang tua dan kesibukan mereka sendiri, sekolah, les, latihan olah raga, bekerja, rapat dan sosialisasi (pergaulan). Pola makan yang dianggap sehat dan diterapkan oleh kebanyakan orang modern umumnya berasal dari “mitos” yang diciptakan oleh iklan industri makanan proses.

 

Alhasil, kebanyakan anak sekarang makan makanan modern, yaitu makanan proses yang dibuat di pabrik dan mengandung berbagai bahan yang membahayakan kesehatan.

Banyak sekali orang tua modern di Indonesia yang terperangkap dalam pandangan “normal” yang salah tentang kesehatan dan makanan sehat. Banyak orang tua modern di Indonesia yang beranggapan bahwa anak yang sering sakit (misalnya sering flu atau terkena infeksi telinga), terlalu aktif, mudah marah atau sedih (emosional), terlambat berbicara, pelan perkembangan motoriknya dan lain sebagainya adalah normal dan kebanyakan orang tua mencari solusi dari obat atau terapi. Masih banyak orang tua di Indonesia yang menganggap makanan proses adalah makanan normal dan sehat dan menurunkan serta mengajarkan pandangan ini kepada anak-anaknya.

Hasilnya?

Amat banyak anak di Indonesia yang sekarang terperangkap dalam pola hidup modern yang sebenarnya tidak sehat, namun sekarang ini justru dianggap “normal” oleh kebanyakan orang, yaitu:

  • makan makanan yang justru sebenarnya tidak sehat (susu, gula, tepung proses, lemak tidak sehat, karbohidrat sederhana, makanan proses, makanan cepat saji);
  • makan dengan cara yang salah (makan tanpa jam yang teratur, makan dengan porsi dan komposisi yang salah, makan sambil nonton TV dan lain sebagainya);
  • tidak mengerti asal-muasal makanan dan cara mengolah makanan yang baik (sehat).

Selain pola makan yang tidak bergizi dan kebiasaan makan yang salah, kebanyakan anak modern di Indonesia juga diterpa dengan berbagai masalah eksternal, antara lain: toksin lingkungan (polusi udara dan air tercemar misalnya), kurang olahraga dan kurang aktif, stres akibat materi akademik yang dijejali di sekolah, stres akibat tuntutan prestasi akademik, social bully, pergaulan yang tidak baik dan lain sebagainya.

Hasilnya lagi?

Akibat dari bergesernya pola hidup, terutama pola makan, masalah kesehatan dan penyakit pada anak di Indonesia semakin meningkat jumlahnya.  Dari mulai alergi sampai penyakit kronis seperti Diabetes Tipe 2 alias Diabetes akibat pola hidup yang tidak sehat. Sayangnya, kebanyakan orang tua di Indonesia, pada saat menghadapi anak yang sakit, masih sering menyalahkan faktor eksternal. Misalnya saat anak terkena flu, perubahan cuaca kerap kali menjadi kambing hitam. Masih sedikit orang tua di Indonesia yang menyadari bahwa sebenarnya daya tahan tubuh anak harus diperkuat melalui makanan bergizi agar tidak mudah sakit dan dapat melawan serta mencegah penyakit.

Ayo berkaca dan jujur pada diri sendiri. Demi anak-anak kita.

Apakah kita termasuk orang tua modern yang menerapkan pola makan modern bagi anak-anak kita? Apakah kita memberi mereka sereal dan roti putih? Apakah kita beri mereka susu dan keju proses? Apakah kita memberi mereka makanan modern yang mudah dan cepat pengolahannya disela-sela kesibukan kita? Makanan yang sebenarnya tidak bermanfaat dan malah membahayakan kesehatan mereka karena banyak mengandung gula, lemak jahat dan zat-zat berbahaya bagi kesehatan lainnya?

Atau, apakah kita termasuk orang tua yang menyempatkan diri untuk berbelanja sendiri bahan makanan sehat untuk anak-anak kita? Menyediakan makanan yang bahannya berasal dari alam, yang kaya serat dan kaya gizi. Apakah kita termasuk orang tua yang menyempatkan diri untuk masuk ke dapur dan memasak sendiri makanan yang benar-benar sehat untuk anak-anak kita? Yang menggunakan cara memasak yang sehat? Apakah kita termasuk orang tua yang terus belajar dan menambah wawasan? Tidak sekedar mengikuti trend, percaya mitos nenek-kakek kita yang sudah tidak lagi relevan dan termakan iklan industri makanan yang mengepung kita dari segala arah?

Bila kita masih termasuk orang tua modern yang menganut “culture” makan modern, cepat dan mudah, ayo kita lakukan perubahan! Ayo berhenti mencari alasan dan pembenaran. Ayo belajar serta ajarkan kebiasaan yang benar, yang sekarang ini malah dicap “aneh” oleh orang pada umumnya. Saya yakin, setiap langkah kecil akan membawa hasil. Usaha kita sekarang akan menyelamatkan generasi anak dan cucu kita. Memberi mereka kesempatan untuk menjadi generasi yang lebih baik. Lebih sehat. Lebih pintar. Hidup lebih berkualitas.

Berhentilah memberi anak-anak kita makanan proses. Jauhkan mereka dari minuman kemasan, susu kemasan, keju proses, gula (apapun bentuknya), makanan yang terbuat dari tepung proses. Buatlah makanan sehat sendiri di rumah dengan menggunakan bahan-bahan natural yang dihasilkan oleh alam. Setiap hari. Buatlah agar memasak makanan sendiri dan makan makanan rumah menjadi bagian dari kehidupan normal, bagian dari kehidupan sehari-hari. Ingat, memberi anak makan bukan hanya sekedar membuat anak kenyang, tapi yang lebih utama adalah agar mereka mendapatkan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh, pikiran dan jiwa mereka. Nutrisi yang mereka butuhkan sekarang dimasa pertumbuhan dan nanti disaat mereka dewasa.