Brand dan Ke-Indonesia-an

April 21, 2017 | FEBBY

SCROLL TO READ

Kata “Brand” bukan sesuatu yang asing lagi di telinga kita.

Hidup kita sekarang tidak pernah lepas dari yang namanya brand. Mulai dari kita membuka mata di pagi hari sampai dengan kita mematikan lampu di malam hari. Bahkan sebuah keputusan ditentukan oleh kekuatan sebuah brand yang ada di benak kita.

Begitu pula sebuah perasaan, pernah dalam salah satu group discussion mengenai brand, salah seorang peserta mengatakan pada saat naik pesawat debar jantung bisa berbeda pada saat mengalami turbulence. Dalam pesawat yang satu, doa-doa langsung dipanjatkan, sementara di pesawat lainnya bisa tenang-tenang saja karena yakin dengan pesawat ini all will be just fine.

Sebegitu besarnya kekuatan sebuah brand, ia bisa mempengaruhi hidup kita karena sebegitu percayanya kita akan janji-janji yang diberikan. Janji yang sudah begitu lama melekat di hati dan kita mempercayainya.

Karena memang brand adalah sebuah janji yang harus dipenuhi.

Selain itu kita bisa juga bisa melihat bagaimana peran serta sebuah brand dalam mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang di luar brand purchase yang mereka lakukan. Tentunya in a positive way. Dan memang seharusnya semakin besar sebuah brand, semakin besar pula brand tersebut dapat mempengaruhi sesorang dalam melihat kehidupan mereka dan bahkan sampai kehidupan berkebangsaan.

Terlalu mengada-ngada? Bisa jadi, bisa juga tidak.

Di sini saya akan bercerita sedikit tentang pemikiran dan pengalaman saya bagaimana sebuah brand bisa dan dapat mendorong orang-orang yang percaya padanya.

Bagaimana caranya? Dengan mendorong orang-orang tersebut untuk menjadi orang Indonesia yang berbudaya dalam bersikap dan berperilaku yang semestinya:

 

  • Saling menghargai dan menghormati

 

Bayangkan apabila industri rokok bisa lebih dari hanya sekedar menuliskan bahaya rokok terhadap kesehatan dan dapat menyebabkan kematian. Walaupun ini memang merupakan bagian dari regulasi pemerintah. Ada kemungkinan yang bisa juga dimanfaatkan, misalnya melakukan sebuah kampanye untuk menghargai mereka yang tidak merokok. Merokok adalah hak seseorang, to smoke or not to smoke it is your right.

Demikian pula hak mereka yang tidak merokok, untuk hidup bebas dari asap rokok. Hak untuk menghirup udara sehat dan bersih. Hargai hak sehat orang lain dengan tidak merokok di sekitar mereka. Apalagi sampai merokok di depan anak-anak kita sendiri. Hal ini sepertinya menjadi pemandangan yang biasa di sini. Seorang bapak merokok sambil mengendarai motor sambal membonceng anaknya. Tidak hanya asap knalpot saja, asap rokok sang bapak pun dia hirup.

Saya lihat sendiri, bagaimana ibu-ibu muda di sebuah restoran asik mengobrol dengan rokok di jari mereka, sementara anak-anak mereka duduk di meja yang sama sambil menggambar.

Menyedihkan memang.

Setiap saya bertemu dengan kawan yang bekerja di industri ini atau advertising agency yang terlibat, selalu saya sampaikan ide ini: “Be mindful with your smoke, you may get sick but do not take others with you”, tapi sepertinya belum ada tanggapan atau mungkin mereka lupa.

  1. Kejujuran

Banyak kesempatan dari sebuah brand untuk memberikan contoh dan berani bersikap. Festival sepak bola anak terbesar di Indonesia, AQUA Danone Nations Cup salah satunya. Pada awalnya festival ini penuh dengan kecurangan.

Pencurian umur adalah satu masalah terbesar. Mindset orang tua dan pelatih: yang penting harus menang. Perlu waktu dua tahun untuk akhirnya bisa membuat ajang sepak bola anak-anak ini benar-benar bersih dari pencurian umur. Banyak cara dilakukan oleh orang tua dan juga pelatih untuk sekedar mencari kemenangan. Memalsukan akte kelahiran dan ijasah sekolah sampai tega-teganya mencabut gigi.

Menerima timpukan botol AQUA dan Mizone dari orang tua yang marah karena tim anak mereka terkena black list untuk tiga tahun kedepan, pernah saya rasakan. Cibiran, amarah, dan sumpah serapah pun kami terima.

Tapi kami semua berkeyakinan bahwa AQUA DNC bukan hanya sekedar event sepak bola agar brand ini semakin keren. Momen ini adalah kesempatan bagi sebuah brand untuk berkontribusi dalam pembentukan karakter anak Indonesia yang jujur, percaya diri, dan selalu bersemangat. Nantinya tidak hanya mereka hebat dalam bermain bola, namun juga sebagai pemain yang memiliki akhlak yang baik.

  1. Santun dan bertata krama

Adakalanya seseorang dapat berubah karena melihat contoh yang baik. Di depan matanya. Setiap harinya.

Jakarta… Jakarta… if I can make it there I’ll make it anywhere

Tapi lagu yang satu ini untuk konteks berkendaraan. Sebagai salah satu kota termacet di dunia, diperlukan skill khusus untuk survive dari satu titik ke titik lainnya. Sehingga akhirnya segala cara dihalalkan demi sampai ke tempat tujuan dengan on time.

Berkendara di bahu jalan, jalan pelan di jalan tol tapi menggunakan lajur kanan, atau ada yang minta jalan untuk memotong tetapi tidak diberikan. Ada mobil yang minta jalan karena mau menyebrang pun kita pura-pura tidak lihat. Mau belok kanan tapi memotong dari kiri. Belum lagi yang lawan arah. Keadaan ini sebenarnya bisa dijadikan kesempatan bagi perusahaan transportasi seperti taksi dengan memberikan contoh bagaimana seharusnya bertata krama di jalan raya.

Sesederhana dengan membuat stiker seperti:

“Look at me, this how you should behave on the road.”

Dan tentu saja didukung dengan brand activation lainnya. Yes, ini bukan sekedar kampanye mencari popularitas semata. Tetapi juga memerlukan komitmen yang luar biasa, tidak hanya dari sisi brand saja. Yang terutama adalah dari pengemudi taksi yang drive the talk. Dan ini, memang tidak mudah. Bila berhasil, momentum ini bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Baik bagi brand yang bersangkutan juga bagi masyarakat luas.

Tiga cerita ini adalah sebagian contoh. Masih banyak values atau nilai nilai berkebangsaan yang bisa diangkat oleh sebuah Brand. Dari sini bisa kita lihat bukan tidak mungkin sebuah Brand berperan serta dalam menjaga maupun mengingatkan nilai-nilai luhur bangsa.

Kuncinya hanya satu: “Be genuine on your action and stay true to your brand DNA.”

Dan juga menanamkan dalam mindset:

“It’s not about what you will get, but what you can give as a brand to make a better Indonesia.”

It is so yesteryear apabila sebuah brand besar masih bertanya: “Terus kita dapat apa?” Sebuah reward pasti akan diterima pada waktunya. Bayangkan bila brand brand besar di negeri ini bisa dan mau melakukan hal ini. How beautiful life can be…