The Walls on Our Mind

April 20, 2017 | ELSA

SCROLL TO READ

Hari-hari saya saat ini diisi antara lain dengan mengajar.

Istilah kekiniannya: fasilitasi.

Biasanya dalam tiap kelas, sesi diawali dengan saling memperkenalkan diri. Selain mencairkan suasana, terutama untuk kelas yang partisipannya belum saling kenal, sesi ini juga untuk ‘cek ombak’ bagi saya sebagai fasilitator untuk menyesuaikan approaches dalam menyampaikan materi selanjutnya.

Anyway, akhir-akhir ini saya geregetan dengan pola self introduction yang disampaikan.

Instruksi yang saya berikan simple. Silakan memperkenalkan diri agar kita semua bisa saling kenal dan komunikasi antar kita lebih lancar dan positif.

Reaksinya? Umumnya ‘standar’, lifeless, biasanya disampaikan dalam kalimat-kalimat berikut:

‘hai, nama gue Indah, gue umur 27, saat ini bekerja di PT. xxx, posisi gue saat ini sebagai Customer Service Manager..’

‘perkenalkan, saya Anton, usia 30, sudah menikah, baru punya anak 1, lulusan universitas xxx jurusan xxx, posisi saat ini team member di Divisi Hukum, sudah bekerja 7 tahun..’

‘saya Siwi, wanita, ibu rumah tangga, usia 25 tahun, asal Bogor, anak ketiga dari lima bersaudara, suku xxx, agama xxx…’

Sekian orang dalam satu kelas, hampir semua jawabannya model begini padahal informasi yang disampaikan semuanya tertera dalam daftar absensi.

Geregetan? Iyalah! Hari gini urusan Kenal Diri masih klise begini?

Daripada geregetan sendiri, mending bikin peserta yang geregetan. Instruksi diganti.

Setiap peserta diminta memperkenalkan diri tanpa menyertakan data-data pribadi seperti tertera pada daftar absensi – kecuali nama tentunya.

Let’s introduce ourselves beyond our CV and ID Card, demikian aturan mainnya.

Apa yang terjadi?

Spontanitas mendadak hilang, dan rata-rata setiap peserta merasa harus mencoret-coret sesuatu di kertas, entah merangkai kata atau mungkin membuat pointers. Semakin seru ketika saatnya menyampaikan tiba. Ada yang terbata-bata merangkai kata. Tak sedikit yang mendadak blank lalu garuk-garuk kepala.

Dari observasi terhadap sekian kelas, saya jadi kepikiran…kenapa ya pola ini terbentuk? Mungkinkah proses belajar selama ini yang kurang memberi ruang untuk mengeksplorasi diri sendiri? Atau kita memang terbiasa untuk otomatis menyebutkan atribut klise itu tanpa proses, kan enteng ngga usah pake mikir?

I wish I could bluntly tell them this: kebayang nggak sih gimana rasanya menjadi orang lain yang sedang pasang kuping mendengarkan narasi tentang diri kita; tapi kita hanya menjawab seadanya, nggak mikirin sama sekali gimana caranya supaya orang itu tertarik dan excited mendengarkannya? Supaya waktunya nggak sia-sia?

Karena kepikiran, saya jadi mencari tahu lebih banyak. Ada beberapa hal yang saya temukan, bagaimana kita bisa memperkenalkan diri dengan lebih ‘menggugah’, lebih impactful, lebih diingat oleh orang yang mendengarnya.

  • Manusia cenderung mengidentifikasi diri dengan sederet peran yang dijalaninya. Ini dikenal dalam ilmu Psikologi sebagai Identification. Teorinya di-google sendiri ya. Nggak ada yang salah dalam hal ini, tapi kalau kita mengidentifikasi diri dengan hal-hal statis, seperti peran sebagai karyawan, manajer, ibu rumah tangga dll, kebayang kan, narasi yang keluar ya statis juga.

Supaya nggak terjebak dalam pola ini, salah satu cara mudah adalah meluangkan waktu untuk mendefinisikan sejumlah atribut yang lebih dinamis tentang siapa kita. Misalnya apa yang sedang membuat saya senang, sedih, geregetan? Atau issue sosial yang menarik perhatian saya? Apa headline yang membuat saya berapi-api membahasnya; soal pilkada, human trafficking, sepak-terjang KPK mungkin?

 

  • Mental model seseorang ada yang lebih dapat menerima ambiguity dibanding yang lain. Bagi mereka yang kurang toleran terhadap suatu dikotomi, cenderung berlama-lama memilih kategori mana yang sesuai baginya. Misalnya, “saya suka bekerja sendiri atau dengan team ya? Eh tapi saya juga kurang nyaman sih berbicara di depan banyak orang. Lalu, saya masuk kategori mana ya? Introvert atau ekstrovert?”

Rumit kan kalau harus memilih dalam dikotomi seperti ini. Terima aja bahwa manusia itu unik dan multi-dimensi. Any definition that suits us, bring it on!

  • Saat mengatakan “saya adalah seorang pekerja..” atau “saya lulusan universitas …” ternyata pikiran kita akan otomatis membangun semacam ‘tembok’ sehingga kalimat-kalimat yang muncul selanjutnya akan berkisar diantara dinding imajiner tersebut. Gunakan pendekatan lain, misalnya “saat ini saya sedang tertarik sekali dengan…” atau “sejak dulu saya penasaran dengan …”. Terbayang kan dinamikanya. Biasanya kalimat berikutnya akan mengalir lebih lancar.

Susah? Awalnya bisa jadi.

Tapi ngomongin ini, saya jadi kepikiran sebuah quotes lawas: ‘you are confined only by the walls you build.”

Cuma masalah kebiasaan kok. Runtuhkan dinding-dinding statis dalam pikiran kita, dan mestinya urusan ‘kenal diri’ yang lancar ini bisa jadi avenue yang membawa kita ke banyak tempat.