Bumbu Rahasia Meraih Sukses: Ask for Help!

April 19, 2017 | DITA

SCROLL TO READ

“Eh, boleh minta tolong nggak?”

Untuk beberapa orang yang mendengar kalimat tersebut, mungkin yang  pertama kali timbul adalah rasa waswas dan curiga.

Apalagi bila ini terjadi di tempat kerja, bisa saja reaksi awal kita adalah, “duh, apa lagi sih nih?” atau, “gue kayaknya nggak ada waktu deh buat ini.” Reaksi ini sebenarnya wajar dan natural. Biasanya rasa enggan itu hadir karena antusiasme serta empati untuk mendengar kesusahan orang lain dan keinginan membantu terlanjur kalah oleh kesibukan dan kekhawatiran tidak dapat menyelesaikan tuntutan pekerjaan.

Lucunya, ketika saya ngobrol bersama teman-teman yang bekerja di beberapa perusahaan teknologi terkenal di Silicon Valley, San Francisco beberapa waktu yang lalu, mereka semua mengkreditkan keberhasilan mereka untuk sampai ke titik kesuksesan sekarang kepada bantuan kolega-kolega di kantor. Bahkan big boss mereka pun ternyata masih mau turun tangan ketika mendengar atau melihat anak buahnya yang kesusahan.

Saya jadi teringat di hari-hari awal sebagai Nooglers*. Selama 2 minggu pertama, manager saya tidak berhenti bertanya ketika berpapasan atau bertemu di ruang rapat, “how are you doing? If you need help, just ping me and we’ll chat.” Wow, pikir saya, ini berbeda dengan pengalaman saya bekerja di tempat lain.

Di beberapa perusahaan sebelumnya, ketika baru masuk biasanya saya disambut oleh kalimat yang kurang lebih seperti ini: “kalau ada pertanyaan dan butuh bantuan, si Kolega A bisa membantu.“ Lalu si Kolega A akan tersenyum pahit seolah-olah saya menjadi bebannya padahal dia sendiri sedang dikejar deadline. Akhirnya saya enggan untuk bertanya dan mencoba mencari tahu semuanya sendiri agar sebisa mungkin tidak mengganggu si kolega A.

Ternyata ketika bergabung dengan salah satu perusahaan teknologi terbesar dunia inilah, di mana saya sebagai anak baru yang harus membuktikan kemampuan diri sendiri di tengah-tengah pressure, ekspektasi, dan persaingan yang besar – justru merasa aman dan nyaman untuk meminta bantuan tanpa merasa bahwa hal ini akan mempengaruhi image dan performance saya.

Di mana bedanya?

Dari pengalaman dan observasi saya, dalam beberapa kultur perusahaan, meminta bantuan dapat dilihat sebagai suatu “kelemahan”. Tidak cuma untuk karyawan, tetapi juga untuk para bos. Para karyawan ngeri dilihat kurang kompeten dalam pekerjaannya, sedangkan para bos merasa bahwa mereka sudah cukup asam garam di pengalaman sehingga tidak butuh lagi bantuan dalam menghadapi berbagai urusan.

Ternyata bagi saya dan teman-teman di Bay Area yang telah merasakan bekerja di Sillicon Valley, di sana meminta bantuan adalah suatu hal yang biasa-biasa saja. Kebanyakan dari kami tidak takut untuk mengutarakan bahwa kami butuh bantuan di saat bertemu dengan kesulitan. Meminta bantuan adalah sesuatu yang sangat dianjurkan, ditanamkan, dan menjadi proses keseharian untuk mencapai keberhasilan.

Tidak hanya para karyawan biasa, para bos pun tidak takut untuk meminta bantuan.

Saya masih ingat ketika big boss saya (yang LinkedIn profile-nya bikin minder, hint: Product Director @Google; Co-founder and CEO of a company acquired by Google; Co-Founder and Chief Product Officer of a company acquired by Twitter; ditambah segudang achievement lainnya), memanggil team meeting untuk meminta bantuan kami menghasilkan ide-ide segar agar dapat membantunya menyelesaikan produk baru kami. Saya ingat beliau mengatakan, “I came to you to ask for help, every idea is precious and highly appreciated. Please don’t look at me as your boss, but rather as your colleague and a friend.”

Termotivasi oleh kata-kata beliau, tim kami pun berdiskusi untuk mencari jalan keluar. Ketika meeting selesai semua orang berpikiran sama: Yes! Solusi ditemukan, masalah terpecahkan. Let’s finish this! Tidak ada yang berpikir Ih si Boss payah ya, masa gitu aja nggak bisa. No. Semua orang senang bisa membantu dan berkontribusi, semua orang senang karena masalah terselesaikan. Titik.

Asking for help, tentunya dilakukan saat kita merasa ada suatu masalah yang tidak dapat dipecahkan sendirian. Kita meminta bantuan orang lain agar masalah tidak menjadi besar dan berdampak lebih buruk. Selain itu, meminta bantuan juga membuat waktu pemecahan masalah semakin cepat dan efisien, sehingga hasil akhir yang kita harapkan akan semakin dekat. Pada akhirnya, keberhasilan yang dicapai oleh kita beserta tim adalah keberhasilan untuk semua orang yang ada di tempat kerja. Jadi mengapa harus sungkan untuk meminta bantuan?

*Nooglers: new employees of Google