Serve, Before You Deserve

April 1, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Apakah lulus sarjana secara otomatis memastikan bisa dapat pekerjaan dengan gaji tertentu? Katakanlah bekerja pada sebuah institusi besar bergaji Rp 7 juta. Sehingga dengan demikian gaji lebih rendah akan diterima jika hanya sekolah sampai SMA, dan gaji lebih tinggi akan dinikmati saat lulus jenjang lebih tinggi seperti Master dan Doktor. Logika ini secara sadar ataupun tidak (masih) berlaku pada masyarakat kita saat ini. Tidak mengherankan dalam banyak wawancara kerja entry-level sekalipun muncul kalimat-kalimat yang terkesan wajar namun bisa jadi tidak logis: “Saya merasa berhak memperoleh gaji 7 juta karena itu angka rata-rata yang diterima oleh kawan-kawan sesama lulusan sarjana.” … atau dalam bentuk sedikit berbeda: “Investasi biaya pendidikan hingga pada jenjang ini cukup signifikan sehingga sepantasnya saya memperoleh “pengembalian” senilai minimal 7 juta per bulan.”

Pernyataan itu terdengar wajar karena hampir selalu diucapkan terutama oleh para lulusan perguruan tinggi sebagai argumen angka gaji yang mereka minta – atau lebih tepat, angka gaji yang menurut mereka layak mereka terima. Problemnya argumen tersebut sama sekali tidak logis. Apakah kepemilikan gelar tertentu, atau nilai tertentu akan menentukan ragam dan besaran kontribusi lulusan yang bersangkutan pada organisasi? Apakah ada hubungan antara investasi dana dan waktu pendidikan dengan kinerja saat mulai bekerja? Jika demikian kenapa hanya minta gaji Rp. 7 juta jika ternyata mampu berkontribusi jauh lebih besar dari itu? Kenapa tidak minta diganjar Rp 70 juta atau Rp. 700 juta sekalian – tentu dengan catatan kontribusinya minimal sepuluh kali lipat. Dan bagaimana pula cara memastikan kontribusi berkesinambungan dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun?

Perasaan berhak, layak menerima atau well-deserved sebenarnya sah-sah saja asalkan dibarengi peran dan kiprah nyata pada organisasi / perusahaan. We need to serve well before we allow ourselves to feel deserved about anything. Tanpa kesadaran ini, siapapun akan terjebak pada cara berpikir transaksional dan bermentalitas korban. Kenapa minta diperhatikan, diurus dan dilayani sebelum mampu memperhatikan, mengurus dan melayani?

Menurut cerita beberapa kawan yang pernah berkunjung ke Israel konon profesi pelayan disana dianggap terhormat, dan… tidak digaji. Kenapa? Karena mereka sepenuhnya menerima kompensasi (bukan gaji bulanan dari restoran) langsung dari alokasi uang jasa alias tips dari setiap tamu yang datang dan makan di restoran. Jika layanan mereka prima, terhitung mulai dari pemahaman soal makanan dan minuman, kecepatan dan kecekatan melayani plus keasyikan berinteraksi – maka mereka dipastikan akan memperoleh kompensasi signifikan. Tidak ada gelar atau nilai tertentu yang dibutuhkan dari profesi ini, hanya keinginan, kegigihan dan kegesitan untuk berprofesi sebagai pelayan.

Sebaliknya pada budaya Jepang, tips atas layanan apapun cenderung diharamkan karena sudah diperhitungkan kedalam harga. Tidak jarang mereka yang berprofesi sebagai pelayanan, supir atau lainnya akan merasa terhina saat diberikan tips. Kenapa? Karena mereka telah menemukan keselarasan antara yang mereka kontribusikan dengan yang mereka harapan dan yang mereka terima. Istilah “kodawari” atau niatan yang melandasi setiap tindakan menjadi basis cara berpikir sebagai pemberi – bukan penerima, sebagai pemeran aktif, – bukan korban dan sebagai sebab – bukan akibat.

Siapapun yang bekerja dalam profesi apapun wajib memahami esensi kata profesi yaitu “profesio” yang bermakna “janji publik” – Profesi tidak semata urusan pekerjaan, jabatan, apalagi transaksi, namun sebagai janji yang harus dipenuhi pada publik. Dalam konteks ini hal terpenting adalah pemahaman diri, pengertian tentang peran yang dipilih dalam masyarakat dan segala konsekuensinya. In the end, you reap what you sow – and you deserve whatever you have based on how well you serve others.

Bagaimana anda menegosiasikan gaji pertama anda? Apa argumen anda dan bagaimana respon organisasi? Silahkan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.