Culture is not Writings on the Wall

March 25, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Jika anda karyawan, apa values perusahaan tempat anda bekerja? Setiap organisasi pasti punya serangkaian values (atau nilai-nilai) yang dipandang penting oleh organisasi tersebut. Lazimnya values yang dipilih berasal dari pemikiran para pendiri atau pemimpin perusahaan saat merefleksikan diri dan kiprah organisasi sejak dulu hingga sekarang dan masa depan. Punya values tentu bagus – dan values apapun yang dipilih hampir selalu bagus juga, bahkan untuk perusahaan paling katro sekalipun. Pernah dengar Enron? Ini adalah nama sebuah perusahaan energi raksasa Amerika Serikat yang pernah berjaya pada era 90an sebelum harus menyatakan diri bangkrut pada akhir tahun 2001.

Kebangkrutan ini berawal saat publik mulai menyadari kalau Enron (baca: para petingginya) ternyata secara sadar mengelabui regulator, investor & konsumen. Berbagai upaya “kosmetik” keuangan dan public relations dijalankan Enron untuk menampakkan diri sebagai perusahaan paling inovatif & sukses. Salah satunya dengan mencatatkan revenue sebesar USD 101 Milyar – sebuah angka dahysat bahkan untuk ukuran sekarang. Dan, semua itu bohong… alias akal-akalan belaka dari segelintir orang untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Oh, ini semua terjadi saat Enron dengan bangga mengedepankan 3 values utama mereka: Communication, Respect & Integrity. Ironis, bukan?

Culture is not writings on the wall. Punya values tidak secara otomatis langsung tercermin pada budaya perusahaan. Keduanya serupa walaupun tidak sama. Jika values adalah sesuatu yang diperjanjikan atau diharapkan atau diniatkan maka budaya adalah segala sesuatu yang terjadi. Sebenarnya tidak terlampau sulit untuk memahami (baca: merasakan) apakah values organisasi selaras dengan apa yang berlangsung (culture) dalam organisasi tersebut. Values bisa dengan mudah ditampilkan lewat kata-kata menyolok yang ditampilkan dengan sangat megah di lobby ruang tunggu dan dinding-dinding ruangan. Namun apapun yang terjadi dalam organisasi bisa jadi adalah hal yang sama sekali berbeda.

Culture happens! Inilah esensi budaya organisasi – bagaimana setiap orang merasakan peran & kehadiran organisasi. Dengan kata lain, apa yang dirasakan setiap orang saat berinteraksi dengan organisasi (baca: orang-orang lain dalam organisasi)? Asyik – atau membosankan? Memberdayakan – atau memperdayakan? Penuh formalitas, prosesi dan birokrasi – atau apa adanya, intentional dan praktis? Dan seterusnya.

Budaya organisasi bukan soal tampilan, bukan juga segala perkataan atasan, dan bukan tentang desain kantor unik nan keren. Permasalahannya banyak organisasi belum menyadari hal ini dan mencurahkan perhatian sepenuhnya pada hal-hal yang tampak pada permukaan semata. Apa gunanya ruang kerja berdesain keren jika individu yang ada didalamnya masih terkotak-kotak sebagaimana desain kantor cubicle? Apa manfaat berkantor di puncak-puncak gedung elit area SCBD jika harus terhambat lift yang lamban dan terbatas? Apa dampak baik training motivasi saat kelelahan hebat yang tengah dirasakan oleh banyak anggota organisasi? Apa tujuan menempatkan keterbukaan sebagai values jika bertemu dengan atasan harus melewati beberapa pintu?

Transformasi budaya sepatutnya dipandang sebagai prioritas bisnis  yang wajib menjadi perhatian para CEO dan petinggi organisasi. Ini bukan sekedar urusan direktorat sumber daya manusia, apalagi berbagai jenis konsultan yang seringkali diminta untuk menghadirkan keajaiban. Tanpa kepedulian nyata para pemimpin organisasi, tidak peduli sehebat apapun values yang dipilih, budaya yang terbentuk akan sama sekali berbeda. Jadi harus bagaimana? (1) Awali dengan values yang mudah dimengerti & dipahami oleh siapapun, termasuk bagi orang paling awam sekalipun. (2) Jalankan dengan niat dan tekat yang bulat. (3) Komunikasikan secara terus menerus dengan asyik agar… (4) terbentuk kebiasaan baru pada setiap individu yang selaras dengan values. (5) Munculkan mekanisme insentif dan disinsentif (bukan sekedar menghukum ketidaksesuaian lho). Dan (6) pastikan semua upaya dan hasilnya terukur dengan jelas. Semoga tulisan kecil ini bermanfaat setiap kali anda memandangi kata-kata dan kalimat values pada lobby perusahaan. If you get the culture right, most of other stuff like delivering great service, building an enduring brand shall happen naturally – Tony Hsieh, CEO of Zappos.

Punya cerita tentang bagaimana upaya transformasi budaya di organisasi anda? Bisa cerita keberhasilan atau kegagalan. Saya ingin mendengarnya – silahkan kirim cerita anda ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.