Tribe (Suku)

March 20, 2017 | ARIO

SCROLL TO READ

Ini adalah tulisan pertama saya di dalam blog Impact Factory. Untuk yang belum mengenal saya, nama saya Ario Pratomo, dikenal dengan akun @sheggario di beberapa media sosial seperti Twitter, Instagram, SnapChat, ask.fm, Spotify dan tentunya, YouTube.

Dalam keseharian, saya memimpin 3 tribe dan menjadi bagian dari beberapa tribe lainnya. 3 tribe yang saya pimpin itu meliputi keluarga kecil saya yang beranggotakan 3 orang. Saya sebagai ayah, di sini memimpin seorang istri dan 1 anak perempuan. Di kantor, saya memimpin tribe sekitar 20 orang untuk bergemelut di industri kargo udara. Sedangkan di dunia sosial media, saya memiliki beberapa orang yang percaya dengan saya melalui kombinasi sosial media yang saya sebutkan di atas. Di waktu yang sama, saya juga menjadi bagian beberapa tribes seperti Impact Factory, Limitless Campus, #PertemananSehat, tim sepakbola saya, tim basket saya, dan banyak lagi.

Apa itu Tribe? Suku? Kesukuan?

Menurut kamus, mungkin kita bisa mengartikannya seperti di bawah.

“a social division in a traditional society consisting of families or communities linked by social, economic, religious, or blood ties, with a common culture and dialect, typically having a recognized leader.”

Ada 2 kata penting di dalam definisi di atas. “Common” dan “Leader”. Suatu tribe akan memiliki setidaknya 1 hal yang sama. Visi, misi, tujuan, ketertarikan, domisili, apapun itu. Selain itu, tribe harus memiliki pemimpin, atau itu akan menjadi hanya komunitas atau .. nongkrong bareng?

Seth Godin bercerita bahwa Tribe memiliki sejarah terbentuk karena alasan geografis. Suku terbentuk karena mereka yang tinggal berdekatan, berkumpul, dan menentukan pemimpin / ketua suku. Satu hal yang sama? Letak geografis. Namun, seperti yang kita sadari sekarang, batasan geografis itu sedikit demi sedikit menghilang. Boleh dibilang dengan adanya internet, batasan itu sudah hilang. Tribes jaman sekarang terbentuk tanpa batasan geografis. Kita bisa menciptakan tribes dimulai dari email, media sosial, hingga whatsapp group.

Leader terpilih karena adanya kebutuhan untuk mengarahkan tribe menuju objektifnya, hingga membesarkan tribe tersebut. Besarnya tribe menjadi penting lebih karena hal tersebut memudahkan mendekatkan ke tujuan akhir. Gary Vaynerchuk, atau GaryVee memulai karirnya dengan menjadi wine enthusiast dan menghadirkan mendia komunikasi yang kuat. Media tersebut bisa menghasilkan komunikasi dari pemimpin ke anggota tribe dan sebaliknya, komunikasi antar anggota, hingga komunikasi dari anggota ke luar tribe. GaryVee memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan orang tentang wine. Tentunya, semakin banyak anggota tribenya, semakin banyak yang mengerti tentang wine, semakin cepat tujuan peningkatan awareness ke wine tersebut, tercapai.

Ingat, leader bukan berarti harus yang paling atas. Kita tidak harus menjadi presiden, CEO, ketua umum, atau seseorang yang dituakan. Ambil contoh Jhonny Ive, Chief Design Officer Apple yang memiliki “umat”nya sendiri. Betapa menantangnya saat Apple mengubah total design iOS6 ke iOS7, mengubah jenis kabel saat setiap peluncuran Mac baru, betapa banyaknya ketidaksukaan akan hal-hal tersebut, namun karena kuatnya Ive dengan tribenya, toh akhirnya fanboy (dan non-fanboy), berhasil mengangkat nama Apple hingga saat ini. Ive bukanlah CEO, bukan orang pertama di Apple, tapi pengaruh Ive ke tribenya menjadikan pengaruhnya ke luar Apple, signifikan.

Menjadi bagian dalam tribe adalah tahap awal untuk menjadi pemimpin dari tribe tersebut. Namun, menjadi bagian dalam tribe tidaklah cukup. Karena kita secara otomatis, adalah bagian dari tribe, like it or not. Kita bagian dari tribe keluarga kita saat dilahirkan. Kita menjadi bagian dari tribe sekolah saat kita mulai sekolah. Kita menjadi bagian dari tribe organisasi/perusahaan saat kita mulai bekerja.

Tribe di jaman purbakala pun setiap anggota memiliki peran penting dan berbeda. Selain ada yang menjadi ketua suku, ada yang berburu, ada yang bercocok tanam, dan ada yang menjadi dukun. Di jaman sekarang tentu hal mendasar seperti itu baiknya tidak berubah. Kita menjadi bagian dari tribe janganlah pasif. Berperan, berguna, berdaya.

Menjadi bagian dari tribe, berkontribusi untuk tribe, hingga nanti kita akan tiba di waktunya untuk memimpin. Tulisan ini tidak mengarahkan pembaca untuk menjadi GaryVee atau Johnny Ive, apalagi sekedar memotivasi. Tapi, Yes, ini adalah cikal bakal kepemimpinan. Mengerti tribe adalah bibit seoarang pemimpin. Kepemimpinan bisa dibicarakan di tulisan lain. Until then, for the time being, can we live in a tribe and embrace it ?