Listen to Your Body.

March 18, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Konon salah satu hal paling lazim bagi kita, manusia modern, untuk tidur selama rata-rata 8 jam dalam satu waktu di malam hari – baru mulai dilazimkan sejak revolusi industri abad XVIII. Kenapa? Bisa jadi karena pabrik-pabrik yang mulai bermunculan pada era tersebut butuh pasokan tenaga kerja dengan jam kerja spesifik. Pengaturan jam tidur tertentu akan memastikan pekerja yang lebih segar, sehat dan produktif saat beraktivitas di pabrik. Pola penyeragaman untuk mulai bekerja, makan, bekerja lagi – dan tidur serupa dengan skedul kerja mesin-mesin pabrik yang teratur, terstruktur & terskedul.

Nah, sebelum revolusi industri ternyata hampir-hampir tidak ada pola tidur yang sama antar budaya, keluarga bahkan masing-masing individu. Setiap orang cenderung menyesuaikan waktu tidur dengan kebutuhan biologis tubuh masing-masing. Menurut Roger Ekrich, seorang sejarahwan dalam bukunya At Day’s Close: Night in Times Past, secara umum orang langsung tidur setelah matahari terbenam selama 4 jam untuk kemudian terjaga (dan beraktivitas) lagi selama 2-4 jam sebelum melanjutkan periode tidur kedua 3-4 jam. Aktivitas diantara dua tidur malam menjadi pembahasan menarik dalam buku tersebut. Ternyata banyak hal penting dilakukan oleh orang-orang tempoe doeloe saat terjaga tengah malam termasuk didalamnya berdoa, berinteraksi dan berkarya. Anjuran waktu terbaik untuk beraktivitas suami istri untuk menghasilkan keturunan juga direkomendasikan para dokter untuk dilakukan pada waktu tersebut. Kebiasaan tidur secara berkala saat badan minta untuk diistirahatkan juga berlanjut saat matahari terbit. Beberapa kultur masih mempertahankannya hingga saat ini sebagaimana tercermin dalam istilah “siesta” alias tidur siang yang masih lazim di Spanyol.

Walaupun masih sulit dibuktikan secara ilmiah, pada masa sebelum revolusi industri diyakini sebagai periode saat manusia masih secara sadar menyimak dan mendengarkan “perkataan” tubuhnya. Sehingga boleh jadi mereka lebih menikmati hidup, lebih sadar dan … lebih waras. Sehingga tidak mengherankan jika tingkat kriminalitas, bunuh diri dan depresi kala itu jauh lebih rendah. Bahkan saya berani bertaruh bahwa walaupun tanpa didukung teknologi mumpuni, nenek moyang kita bisa jadi lebih paham esensi bahagia.

Menyoal kondisi dunia ketenagakerjaan dan interaksi antar manusia saat ini, ada baiknya kita belajar dari para pendahulu sebelum revolusi industri. Dunia modern dengan tingkat kompleksitas dan kerentanan yang tinggi bisa jadi butuh kesadaran dari masing-masing orang untuk menyimak jeritan tubuhnya.

Kelesuan tubuh dan kelelahan berpikir tidak bisa dipulihkan dengan training motivasi. ancaman pemecatan atau kompensasi lebih besar. Satu-satunya yang harus diakui, diterima dan dijalankan untuk mengatasinya adalah… istirahat dan tidur. Lagipula, saat biologi tubuh sudah menuntut, hal-hal lain tidaklah penting. Tidak percaya? Silahkan coba tidak tidur selama 24 jam atau lebih dan perhatikan apakah anda masih bisa berfungsi secara normal?

Istirahat, waktu jeda, time off, pause dan tidur adalah kebutuhan alamiah semua manusia. Dan setiap orang punya jam biologisnya masing-masing. Tidak mengherankan saat organisasi-organisasi terkemuka seperti Google, LinkedIn, Facebook dan banyak lainnya menyediakan tempat khusus bagi karyawannya untuk beristirahat. Melalui kajian mendalam mereka telah meyakini bahwa kebutuhan biologis manusia paling mendasar harus terpenuhi sebelum bicara hal-hal lain. Pertanyaannya, apakah anda, saya dan kita semua pada berbagai organisasi di Indonesia sudah menyadarinya? Tidur bukan indikasi kemalasan, namun kelelahan. And there is nothing wrong with that.

Jadi harus bagaimana? Coba mulai belajar menyimak setiap sinyal dari tubuh kita. Tidak ada salahnya memejamkan mata untuk beberapa saat walaupun masih pada jam kerja. Tidak juga ada salahnya saat tengah malam terjaga. After all, prioritizing good sleep is good self love. Listen to your body. It’s your most sacred temple.

Jika anda punya pengalaman tentang pola tidur dan bekerja yang berbeda, silahkan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.