Just be Bigger than Our Problems. Please.

March 18, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Pilkada serentak 2017. Pernah bayangkan problem yang harus dihadapi oleh semua paslon yang menominasikan diri sebagai pemimpin daerah? Sebut saja Pilkada Jakarta yang paling heboh dan bising oleh berbagai silang pendapat. Nah, sekarang bayangkan keseharian masing-masing paslon dengan kesibukan luar biasa dan sorotan nonstop mulai dari mata terbuka di pagi hari hingga kembali terlelap tidur. Bahkan saat mereka tidurpun percakapan dan omongan terus berlangsung.

Bayangkan apa jadinya jika setiap tindakan kita saat ini dan masa lampau dibahas, dibedah dan dipermasalahkan oleh orang-orang terdekat hingga mereka yang sama sekali asing. Setiap salah kata dan salah langkah langsung dijadikan sebagai peluru untuk menyerang. Tidak terhitung ocehan, tulisan dan cuitan sosial media mengomentari berbagai hal… segala hal. Mulai dari perkara paling serius seperti sistem nilai yang dianut, visi & misi serta program yang diusung hingga perkara paling remeh seperti cara jalan, cara berpakaian dan siapa saja yang ditemui. Lebih jauh lagi, hal-hal yang ditulis boleh jadi… tega, kejam dan menyesakkan. Apalagi jika dibaca oleh pasangan atau anak kita. Lebih menyedihkan karena yang mengucap adalah mereka yang seharusnya mengenal secara pribadi. Bayangkan anda pada posisi tersebut. Sulit? Tidak terbayangkan. Atau enggan membayangkan? Bisa jadi itu alasan anda bukan salah satu paslon hehehe.

Menjadi paslon – siapapun itu – adalah panggilan istimewa karena mereka secara sadar memilih untuk menjadi lebih besar dari problem yang harus dihadapi. Selain harus menghadapi berbagai problem pribadi sebagaimana manusia normal seperti kita, mereka harus memikirkan problem-problem lain yang lebih fundamental dan berdampak pada banyak orang. Maksudnya? Selain memikirkan bagaimana kondisi istri dan anak, paslon harus memikirkan beragam rencana aksi untuk menjadikan kondisi kota lebih baik untuk segenap penduduk. Selain menjaga kesehatan & kemaslahatan diri, paslon juga harus memastikan kesehatan & kemaslahatan warga kota. Bagi saya pribadi yang masih sering panas dingin saat membaca segelintir komentar miring di sosial media, tentu tidak akan sanggup berada pada posisi mereka. Bagaimana dengan anda?

To be bigger than your problem is not a condition, it’s a choice.

Perjalanan mereka – para paslon – yang menanjak, berliku dan penuh tantangan sedikit banyak bisa memberikan secercah inspirasi bagi kita semua. Inspirasi untuk mengingatkan bahwa kita bisa senantiasa lebih besar dari problem apapun yang tengah kita hadapi. Problem apa yang anda hadapi sekarang? Keluarga tidak harmonis? Komunikasi dengan anak? Tidak akur dengan teman? Duit kurang? Bekerja gak asyik? Bisnis stagnan? Apapun itu – problem adalah peluang untuk mengenal, mempercayai diri dan bertumbuh kembang.

Different people see the same problem differently. Problem bisa jadi selalu terkesan besar, dahsyat dan sulit dipecahkan. Belum lagi kecenderungan untuk membesarkan problem dan membayangkan solusi yang besarannya setara. Contoh? Solusi untuk problem finansial hampir selalu dikaitkan dengan cara mendapatkan uang lebih banyak ketimbang membentuk money habit yang baik. Solusi hubungan dengan atasan yang buruk seringkali muncul dalam bentuk percakapan super serius dalam ruang meeting, bukan dengan upaya mudah memaafkan dan menerima diri sendiri serta si boss. Dan seterusnya.

Para paslon – dan orang-orang paling berhasil bukan sekedar berpikir dalam konteks menuntaskan problem. Sebaliknya, mereka mendayagunakan segenap daya imajinasi, kesabaran & ketekunan untuk menjadikan problem sebagai sarana melatih diri. Problem – bagi orang-orang itu adalah kesempatan untuk membentuk masa depan yang lebih baik dan asyik. Sebagaimana Elon Musk memunculkan inisiatif Tesla untuk meninggalkan ketergantungan umat manusia pada bahan bakar fosil. Sebagaimana Tjokroaminoto menawarkan cara pandang baru bahwa warna kulit bukan penentu masa depan. Dan sebagaimana para paslon dengan mimpi, ide dan imajinasi untuk kota yang lebih baik – apapun definisinya untuk masing-masing. Now why can’t we do the same for our lives? Tulisan ini saya tutup dengan menyitir ungkapan dari Charles Fletcher Lummis: “I am bigger than anything that can happen to me. All these things; sorrow, misfortune and suffering are outside my door. I am in the house and I have the key.”

Bisa ceritakan problem paling pelik yang pernah anda hadapi? Ceritakan juga langkah-langkah anda untuk tidak sekedar menuntaskannya namun menjadikannya sebagai pelajaran hidup paling berharga sekaligus menata masa depan.

Mohon kirim cerita ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.