(Your) Biz x (Your) Social = (Your) Impact

March 11, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

“Kekayaan empat orang terkaya di Indonesia lebih besar dari total kekayaan 100 juta orang termiskin!” Ini salah satu kalimat menohok dalam publikasi mutakhir (Februari 2017) Oxfam Indonesia, sebuah NGO terkemuka yang kerap menyuarakan pesan keadilan sosial & pengentasan kemiskinan. Nah, apa yang anda rasakan saat membaca pernyataan tersebut? Jika anda tidak termasuk kedalam empat milyarder atau keluarganya – alias warga negara biasa seperti saya –

mungkin reaksi wajar awal adalah… perasaan tidak adil. Bagaimana bisa segelintir orang dibiarkan menguasai begitu banyak kekayaan (termasuk didalamnya kesempatan & kekuasaan) dibandingkan dengan hampir separuh penduduk Indonesia?

Tidak ada larangan untuk merasa apapun, termasuk saat merasakan ketidakadilan. Namun selanjutnya, dan ini yang lebih penting, cara pandang apa yang akan kita pilih untuk menyikapinya? Pilihan untuk menuntut dan menghukum yang kaya dengan mendistribusikan kekayaannya pada kaum miskin jelas tidak realistis. Sejarah membuktikan cara pandang macam ini hanya akan berujung pada konflik berkepanjangan, dan banyak negara pernah mengalaminya. Menghukum kelompok tertentu atas dasar keberhasilannya justru hanya akan mendemotivasi semua orang yang ingin bekerja lebih keras, lebih berani dan lebih gigih. Jika sudah demikian lupakan inovasi dan terobosan karena semua orang lebih memilih untuk pasif tanpa daya juang dan mengandalkan bantuan saja.

Pilihan lain adalah dengan melihat bahwa peluang menjadi milyarder masih sangat besar karena masih terdiri dari segelintir orang. Tentu tidak mudah, namun sama sekali bukan tidak mungkin. Siapapun bisa asal punya kemauan, imajinasi, kegigihan, ketabahan dan keluwesan. Terlebih jika keinginan tersebut tidak terbatas pada ambisi menjadi satu dari segelintir milyarder di tanah air semata, namun dalam prosesnya juga menuntaskan satu problem sosial pada masyarakt.

Opsi ketiga ini kerap kali disebut sebagai pebisnis sosial (entrpreneur sosial) dan bisa jadi adalah pilihan paling waras untuk dunia – dan Indonesia yang penuh dengan gejolak dan tantangan saat ini. Kekayaan bukan untuk dikejar atau dijadikan obsesi namun sekedar sebagai konsekuensi – dan sarana untuk berdampak positif pada lingkungan. Lebih keren lagi jika dalam berproses menjadi independen secara finansial sudah diimbangi niat, rencana dan upaya untuk berdampak secara sosial berkelanjutan.

Contohnya sudah lumayan banyak. Mereka yang bergerak di bidang pengelolaan sampah dan memadukannya dengan usaha perkreditan rakyat dalam bentuk bank sampah yang didirikan Bambang Suwerda misalnya. Atau para penggiat pendidikan yang sekaligus membuka kesempatan bekerja bagi kawan-kawan difabel seperti platform Kerjabilitas. Ragam bentuk perusahaan sosial seperti ini semakin banyak dan perlu lebih digiatkan lagi.

Belum lama ini saya membaca kisah Oscar Ekponimo dari Nigeria. Pernah dengar? Dia seorang software engineer yang dibesarkan di keluarga miskin dengan kemampuan sangat terbatas bahkan untuk makan sehari-hari. Konon Oscar muda hanya bisa makan memadai setiap dua hari saja. Saat ini (2017) dalam usia 30 tahun Oscar baru saja diberi penghargaan global karena telah membangun sebuah aplikasi bernama Chowberry yang menghubungkan antara supermarket dengan rumah asuh untuk menyalurkan beragam jenis makanan olahan yang telah mendekati masa kadaluarsa. Inisiatif bisnis sosial yang telah berdampak pada lebih dari ratusan rumah asuh para yatim piatu, orang tua terlantar dan kaum papa. Oscar kini telah masuk kedalam 1% kelompok paling mampu di Nigeria – namun dengan misi menolong dan memberdayakan 99% lainnya. Soal statistik tentang Indonesia tadi, bayangkan jika hal yang sama juga terjadi disini. Betapa mengharukan dan membanggakan kisah-kisah yang mungkin muncul dari situ. Apapun untuk Indonesia – dan dunia lebih baik. Tulisan ini saya tutup dengan kalimat dari Muhammad Yunus: “I’m encouraging young people to become social business entrepreneurs and contribute to the world, rather than just making money. Making money is no fun. Contributing to and changing the world is a lot more fun.”

Jika anda punya ide atau cerita dari lingkungan sekitar tentang orang-orang yang telah berupaya memadukan antara bisnis dan sosial, silahkan berbagi ceritanya ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.