Leaders, You are the Message

January 21, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Bayangkan sebuah bangsal besar yang dipenuhi segenap anggota organisasi mulai dari para petinggi, manager, supervisor hingga anak magang. Pada bagian depan terdapat panggung yang tidak bisa tidak menjadi pusat perhatian karena disana terdapat karpet merah, layar besar, banner raksasa dan sorotan lampu. Sang pemimpin tampil meyakinkan di podium, menyesuaikan posisi mikrofon, menarik nafas panjang untuk kemudian memulai pidatonya (baca: pembacaan hal-hal penting). Potret ini terjadi pada banyak organisasi terlebih pada periode awal tahun seperti sekarang. Semua terkesan wajar, lazim dan sebagaimana mestinya hingga muncul pertanyaan semacam ini: “Apakah pesan yang disampaikan oleh sang pemimpin tadi bisa diterima, dimengeriti dan dipahami oleh seluruh peserta?” atau dalam bahasa anak gini hari: “ngefek gak sih?”. Dengan kata lain, apakah peran pemimpin hanya sebatas sebagai penyampai pesan (penting)? Dan apakah berbicara di podium adalah cara terbaik melakukannya?

Jika termasuk golongan kasta pekerja, saya yakin anda pernah duduk dalam acara serupa diatas. Pertanyaannya, apa dan sejauh mana pemahaman anda atas pesan-pesan yang disampaikan? 100% atau 70% atau bahkan kurang dari 50%? Atau model jawaban binary alias paham atau tidak sama sekali? Sejujurnya, boleh jadi pesan yang diterima seringkali bukan apa yang disampaikan oleh sang pemimpin, namun bagaimana kehadirannya dirasakan oleh anda dan segenap anggota team. Contohnya? Dalam pidato berjam-jam – terlebih jika disampaikan secara normatif – bisa jadi yang dirasakan adalah rasa bosan, lapar, ngantuk – atau semuanya! Pesan lain yang dirasakan bisa jadi tahun ini masih akan sama dengan tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Pidato boleh saja bicara soal perubahan namun yang pesan yang dirasakan justru business as usual. So, what’s the problem? What went wrong?

Leaders, you are always on stage because the stage is wherever you are. Pemimpin tidak menjadi pemimpin saat di panggung semata, namun kapanpun dan dimanapun dia berada. Saat memasuki mobil dan menyapa supirnya. Saat melemparkan senyum setiap kali berjumpa orang-orang yang dilewati. Saat menjawab telepon. Saat memesan makan siang. Saat mencetuskan keputusan apapun. Saat membiarkan team berbicara lebih banyak. Saat memilih untuk mengatakan tidak tahu. Saat duduk diam mengamati sekitar – dan seterusnya. Panggung pemimpin bukan podium saat rapat tahunan, namun bergerak mengikuti kemanapun sang pemimpin berada – dan berinteraksi.

Leaders, you are your most important messenger. Pesan pemimpin sepantasnya bukan soal segala hal formal yang disampaikan saat berbicara di podium, namun segala hal yang diucapkan, dilakukan dan dimanifestasikan – termasuk dalam hal ini adalah segala hal yang tidak atau belum diucapkan dan belum dilakukan. Bukan soal pesan penting tertulis yang kemudian dipublikasikan, diedarkan dan diteriakkan, namun tentang bagaimana kehadirannya dirasakan, dipahamkan dan dimaknakan. Pemimpin adalah pembawa pesan utama.

Leaders, you are the message. Apa yang diingat tentang Kepresidenan Jokowi bukan semata soal apa yang beliau ucapkan, tapi soal bagaimana kehadirannya dirasakan. Mulai dari pilihan memakai jaket bomber hingga cukur rambut di barbershop kekinian. Hal yang sama juga berlaku pada Obama, Trump, segenap pemimpin perusahaan dan pemimpin diri alias diri sendiri. Perjalanan panjang berkelanjutan sebagai selalu berawal dari diri sendiri…. namun sama sekali BUKAN tentang diri sendiri.

Kembali pada ilustrasi awal diatas, penggambaran klasik pemimpin bicara di podium butuh keterangan lebih lanjut. Apapun tentang sang pemimpin – akan memberi gambaran tentangnya, terlebih terkait dengan 99% kehadiran diluar panggung. Apapun yang secara konsisten dan berulang-ulang dipikirkan, diucapkan, dikerjakan dan dibiasakan akan mencerminkan pesan sejati yang hendak disampaikan. So, what’s your message is being reflected by who you are as a person.

“Your children… shall not remember what you teach them. But they shall always remember what you are…” – Jim Henson

Bisa sebut nama 1 orang pemimpin yang paling anda hormati dan kagumi? Bisa ceritakan interaksi dengannya? Mohon kirim cerita ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.