Dilarang Goblok: Overcoming the Discomfort of Humility

January 14, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

Bahasa Indonesia punya cara unik dalam membedakan tingkat kepandiran seseorang. Ya, pandir! Ini istilah baku untuk menggambarkan kebodohan atau kebebalan seseorang. Berbeda dengan bahasa Inggris yang hampir-hampir tidak membedakan antara kata “stupid”, “dumb” atau “idiot”, sebagai pengguna bahasa Indonesia, kita punya dua kata yang serupa namun jika dipahami lebih mendalam bisa jadi sangat berbeda maknanya. Dua kata itu adalah… maaf harus menuliskan apa adanya ya … “bodoh” dan “goblok.” Sebelum saya jelaskan lebih lanjut coba ucapkan dan rasakan bedanya. Jangan cuma sekedar berbisik… suarakan dengan lantang. Dan jika ditanya orang-orang di sekitar anda, salahkan saya… eh, bukan… salahkan saja Harian Kompas 😉

Sudah diucapkan dan disuarakan? Bisa merasakan bedanya? Saat menyebutkan “bodoh”, emosi yang muncul cenderung kasihan, gemas dan peduli – bukan kesal apalagi marah. Karena memang mungkin esensi “bodoh” adalah tidak tahu… akibat belum pernah ada yang kasih tahu… mungkin karena tidak atau belum terdidik. Bodoh itu awam. Sekedar contoh, apakah kita akan marah-marah pada orang suku pedalaman karena tidak bisa menggunakan sendok garpu dengan benar? Lah wong seumur hidup belum pernah melihat sendok garpu tentu wajar saja jika awam, lugu dan bodoh saat harus memakainya.

Overcoming the discomfort of humility. Nah, “goblok” itu beda urusannya. Coba perhatikan emosi anda saat mengucapkannya, terlebih dengan lantang. Bukankah terasa lebih ganas, gahar dan merepresentasikan… amarah? Goblok itu sudah tahu, sudah diajari, sudah dididik bahkan berkali-kali – namun tetap saja ngeyel, sok tahu dan … goblok. Dalam konteks ini, jika harus mendefinisikan goblok maka paling pas adalah: “Pilihan sadar untuk menggunakan hak menjadi bodoh.” Contohnya? Korupsi – sudah jelas salah, jahat dan ngawur, tetap saja dilakukan. Dan saya yakin tidak ada satupun pelaku korupsi yang tidak tahu kalau itu perbuatan tercela. Sehingga orang bodoh wajib dibantu, sementara orang goblok wajib… dibasmi (baca: perilakunya yang harus diberantas).

The first test of a truly great man – and woman is in his / her humility – John Ruskin. Dilarang goblok! Bagi saya ini satu-satunya larangan paling relevan saat ini. Berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan dimana saja – larangan yang perlu dicamkan terlebih untuk diri sendiri. Kegoblokan adalah bentuk kesombongan dan ketinggihatian saat membutakan diri dalam hal mencari, menerima dan meyakini kebenaran absolut.

Pride makes us artificial while humility makes us real – Thomas Merton. Goblok muncul dalam pemikiran, keyakinan dan perkataan seperti ini: “Saya sudah ngerti semuanya”, “Saya tidak perlu tanya tentang apapun pada siapapun karena saya selalu bisa menemukan jawabannya sendiri”, “Saya punya segalanya dan tidak butuh apapun dari siapapun.”, “Saya lebih baik dari banyak orang lain – coba lihat saja pencapaian-pencapaian saya!” dan seterusnya.

Obat tinggi hati, sombong dan … goblok sebenarnya mudah diucapkan, namun sangat menantang untuk dijalankan dengan konsisten. Tiga hal penting berikut bisa jadi langkah awal yang baik dalam menjalani anjuran “dilarang goblok”: Pertama, belajar mendenger untuk paham, bukan mendengar untuk merespon. Melalui proses pendidikan dan interaksi kultural, telinga kita sudah sudah sangat terlatih untuk mendengar agar bisa menjawab. Padahal tidak semua percakapan butuh jawaban, butuh pendapat dan butuh solusi. Mendengar dengan hati bukan sekedar menggunakan telinga. Mendengar untuk memahami, merasakan dan memaknai sedikit lebih baik bukan sekedar untuk menuntaskan percakapan.

Kedua, belajar untuk merasa jadi orang paling bodoh dalam setiap pertemuan – atau paling tidak jangan pernah merasa jadi paling pintar. Perasaan paling tahu, paling senior, paling beken – semuanya adalah kendala utama bertumbuh kembang sesuai kodrat masing-masing. Setiap saat adalah kesempatan untuk belajar apapun, dari siapapun.

Terakhir, belajar melayani minimal 3 kali lebih banyak sebelum menerima pelayanan. Tulisan ini saya tutup dengan menyitir ungkapan dari Doug Clay yang sangat indah tentang kerendahhatian, “Humility is never about thinking less of yourself, but thinking of yourself less.”

Pernah punya pengalaman dengan seseorang yang sepantasnya sombong karena kepandaian / kekayaan atau ketenarannya, namun justru rendah hati? Boleh cerita? Mohon kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.