Parents: Dream Killers No More!

January 7, 2017 | RENE

SCROLL TO READ

“Saya sudah putuskan untuk tidak melanjutkan kuliah jurusan akuntansi dan menekuni bidang fashion namun orang tua mengancam tidak akan lagi mendukung saya secara moral ataupun finansial. Harus bagaimana ya, Coach?” … “Kerja di kantor sudah hambar rasanya… cuma sekedar memastikan kelangsungan hidup lewat duit yang diterima setiap akhir bulan. Ingin sekali jadi petani urban dengan memanfaatkan lahan kosong yang ada di pelosok kota, namun orang tua istri saya khawatir akan kemaslahatan keluarga kami. Apa yang bisa saya perbuat, Coach?”

Hampir setiap minggu saya menerima email dan pesan pada berbagai platform media sosial sebagaimana tertulis pada alinea diatas. Mulai dari yang berusia sangat muda belasan tahun hingga yang sudah jauh lebih senior dari saya. Impian, angan-angan, keinginan bukan sekedar bunga tidur, namun bisa jadi adalah pesan yang dititipkan Sang Pencipta agar anda, saya dan kita semua bisa hidup sesuai dengan kodrat yang telah digariskan.

Kodrat terkait dengan arah kehidupan yang bersifat dinamis, bukan sekedar tujuan yang stasioner. Kodrat adalah soal paham diri dan lingkungan untuk selanjutnya menjalani kehidupan sesuai dengan potensi diri. Apa yang terjadi sehingga sebagian besar dari kita kemudian meninggalkan semua itu atas nama pemenuhan kebutuhan hidup – dan kepatuhan menaati standar kenormalan yang ditetapkan oleh masyarakat? Siapa yang paling bertanggung jawab atas … perlahan namun pasti dan konsisten … semakin kaburnya impian kita menjalani kehidupan sejati sebagai diri yang sejati? Jawaban versi saya bisa jadi menyesakkan. Siap terus membaca?

Pembunuh mimpi-mimpi anak paling utama adalah orang tua mereka sendiri – dan orang-orang yang dituakan. Bukan karena jahat, bengis atau tega, justru sebaliknya, karena rasa sayang pada anak tanpa dilengkapi oleh ilmu-ilmu relevan. Lagipula jadi orang tua selalu terjadi secara alamiah tanpa persiapan apapun. Sehingga cara mendidik sangat tergantung pada bagaimana kita dulu dididik plus tambahan pengetahuan praktis sana sini lewat teman, buku dan media sosial. Ini problemnya: Dunia yang akan dihadapi oleh anak-anak kita sudah sangat berbeda dengan dunia yang kita – atau yang orang tua kita hadapi dulu.

Keinginan agar anak bisa selamat, sukses dan bahagia dalam menjalani kehidupan diadopsi total dari standar minimal masyarakat tentang selamat, sukses dan bahagia. Sehingga tidak heran jika didalamnya termasuk argumen-argumen seperti ini: Bahwa harus sekolah formal dengan nilai minimal 7. Bahwa mata pelajaran matematika, fisika dan bahasa Inggris jauh lebih penting dari musik, agama dan seni. Bahwa wajib minimal punya gelar S1 pada bidang yang dibutuhkan industri (baca: bidang yang gampang dapat kerja).

Dalam kondisi ini tidak ada pembahasan soal paham diri (baca: Apa kekuatan saya? Apa misi hidup saya? Apa nilai-nilai yang saya yakini? Bagaimana berkomunikasi otentik? Dst. Awam soal teknik-teknik mengenal lingkungan. Dan selalu enggan luar biasa untuk mengambil peran dalam kancah dunia jika tidak terlebih dulu dipersiapkan “kotak-kotak”nya. Anak-anak hanya diajarkan untuk menjadi normal, ala kadarnya dan memenuhi standar minimal. Tidak ada keasyikan bekerja, tidak ada kegigihan berkarya, apalagi kenikmatan berkontribusi.

Disruption is the new order of this era. Padahal kecepatan perubahan yang difasilitasi oleh teknologi digital sudah tidak lagi bisa diprediksi. Industri berubah karena pasar bergeser dan konsumen selalu berubah. Kompetitor tidak lagi hanya datang dari industri yang sama namun dari mana-mana dengan pendekatan segar, berani dan gila. Tantangan baru terus muncul dan solusi baru terus dicari. Apa peluang mereka yang awam pada dirinya sendiri, hanya terlatih dalam fixed mindset dan senantiasa merasa sebagai korban?

Jadi harus bagaimana sebagai orang tua – dan yang dituakan? Jawabannya tidak tahu. Banyak. Dan harus dimulai oleh semua dan dari mana-mana. Satu hal yang pasti, menggunakan pendekatan yang sama adalah resep bencana. Apa lagi? Jangan sok tahu hanya karena telah lebih lama hidup – dan sebagaimana disampaikan oleh Professor Otto Scharmer, belajarlah terutama dari masa depan, saat mulai menampakkan wujudnya. Untuk sekarang? Ayo sama-sama kita copot gelar pembunuh mimpi anak-anak kita. Dan belajar mendengar suara anak-anak kita, aspirasi mereka dan impian-impian mereka. Sekarang!

Punya cerita tentang bagaimana anda menumbuhkembangkan mimpi anak-anak anda? Bagaimana anda menguliknya, membangkitkannya dan merawatnya? Atau mungkin justru cerita sebaliknya. Anda belajar dari kesalahan-kesalahan pada anak-anak anda? Saya ingin tahu ceritanya – mohon kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.