2017: The Year of Mastering Yourself

December 31, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Tahun 2016 telah berlalu begitu cepat… bahkan terlalu cepat bagi saya. Seorang sahabat yang juga merasakan hal serupa belum lama ini berujar kalau 2016 itu tak ubahnya ibarat kita sedang permisi sebentar ke toilet kemudian balik lagi. Ya… waktu rasanya melintas secepat itu. Hampir-hampir tanpa sadar satu tahun sudah lewat dan sekarang harus belajar menuliskan angka tahun 2017. Jika anda seperti saya, kecepatan dan kehebohan cepatnya waktu berlalu tidak selalu seimbang dengan hal-hal yang hendak dicapai. Saya merasa dengan terus mengerjakan banyak hal sekaligus – atau istilah kerennya multitasking – dalam rangka mengejar target-target 2016, saya justru tidak produktif. Lebih buruk lagi, saya lebih mudah stress tentang banyak hal dan banyak orang. Tuntutan akan kehadiran, keterlibatan dan keikutsertaan diri kita secara fisik ataupun virtual oleh keluarga, organisasi dan komunitas membuat waktu 24 jam terasa seperti 24 menit saja. Apakah anda juga merasakan hal yang sama?

Nah, dalam sebuah obrolan ringan saat liburan Natal awal minggu ini saya berjumpa dengan seseorang yang sudah tidak perlu lagi dipertanyakan kesuksesannya. Singkatnya dia masuk kategori taipan (baca: pemilik usaha berskala besar) yang kalau mau tidur seharian sepanjang sisa hidupnya kemudian ditambah 7 kehidupan lain yaaa bisa saja. Berbeda dengan rata-rata dari kita – termasuk saya – yang kalau tidak kerja artinya tidak makan. Siapa namanya tentu tidak perlu disebutkan namun pelajarannya sangat relevan buat kita semua. Terutama terkait dengan pandangan dan perilakunya atas waktu, fokus dan energi. Beliau sibuk? Tentu saja. Namun semata untuk satu hal dalam satu waktu. Berikutnya adalah soal kehati-hatian dalam meluangkan waktu untuk apapun mulai dari siapa yang ditemui, apa yang hendak dilakukan hingga film apa yang mau ditonton. Bisa jadi ini kunci mengapa walaupun semua orang punya 1,440 menit dalam sehari namun impact-nya bisa sangat berbeda.

We have been unconsciously trained ourselves to get busier but less productive and … and less happy. Sibuk, multitasking dan kehabisan waktu sama sekali bukan indikator produktivitas, apalagi keberhasilan. Hanya karena kerap kali dibiarkan sama sekali tidak bisa dipandang sebagai hal normal bagi individu ataupun organisasi. Bahkan sebaliknya, organisasi-organisasi paling produktif (baca: impactful) justru memberikan ruang pada individu untuk merasakan sambil berekspresi, menetapkan fokus relevan dan berkarya sembari terus bertumbuh kembang.

Future work is about time, focus and energy. Beragam kajian telah memberikan referensi tempat kerja masa depan yang bertumpu pada fundamental memanusiakan manusia. Saat kehadiran setiap individu tidak sekedar dilihat sebagai faktor produksi atau sumber daya, namun sebagai bagian tidak terpisahkan dalam sebuah ekosistem. Kabar baiknya semakin banyak organisasi yang telah memperhatikan kajian time & motion untuk pengaturan ruang dan cara kerja. Sebagian kecil bahkan telah juga mengembangkan perekrutan inovatif dan pengelolaan energi melalui teknik mindfulness. Kabar buruknya, masih lebih banyak perusahaan yang belum move on dalam cara pandang mereka tentang manusia.

Sehingga hal terbaik yang bisa anda, saya dan kita lakukan, terlebih saat menapaki tahun baru 2017, adalah dengan mengawali dari diri sendiri. Apa saja yang bisa dilakukan? Pertama, fokus pada sedikit hal yang penting (baca: berdampak dan bermakna). Kedua, fokus pada menit, bukan sekedar jam. Ketiga, selektif terhadap penggunaan waktu – terlebih untuk apa dan dengan siapa waktu tersebut diluangkan. Keempat, bangun dan pertahankan ruang untuk tidak diisi apapun alias me-time. Kelima, latih energi untuk memastikan setiap saat terisi dengan niat, antusiasme dan kegigihan. Selamat Tahun Baru 2017 dan semoga tahun ini diakhiri dengan pemahaman diri sendiri yang jauh lebih baik. “One can have no smaller, or greater mastery than mastery of oneself” – Leonardo Da Vinci.

Apa resolusi, target dan sasaran anda saat memasuki tahun baru 2017? Dan kenapa? Silahkan berbagi cerita melalui email rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.