Why Compassion Matters in Work, Biz & Life?

December 24, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Hidup itu keras, betul? Siapapun yang tidak pernah merasakannya bisa jadi belum benar-benar hidup. Terkadang muncul masa-masa sulit mulai dari urusan keuangan, pekerjaan, bisnis hingga kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat (baca: percintaan). Silahkan tanya kerasnya hidup pada yang pernah terlilit hutang hingga gaji sekedar numpang lewat untuk membayar cicilan. Atau pada mereka yang pernah harus menutup bisnis dan memberhentikan seluruh karyawan. Atau pada pasangan yang harus berpisah dengan berbagai alasan. Kerasnya hidup semakin terasa bukan hanya karena ragam jenis pengalamannya namun bagaimana kapasitas emosi pribadi saat harus mengalami setiap kejadian.

Ya, kapasitas emosi memegang peranan penting dalam proses tumbuh kembang diri – disamping juga membentuk cara pandang soal hidup saat harus berhadapan dengan berbagai peristiwa. Apakah kehidupan sekedar dipandang keras, berat dan menyulitkan atau justru keras namun juga seru dan mengasyikkan. Tidak jarang saya berjumpa orang-orang yang menurut standar manusia normal sudah sangat pantas untuk tidak waras. Bagaimana tidak? Kehilangan orang tua dalam usia sangat muda. Harus berupaya menghidupi diri sendiri bahkan saudara-saudaranya. Dan telah mengalami jatuh bangun dalam kehidupan pribadi dan bisnis berkali-kali. Hebatnya, orang-orang yang telah melalui kerasnya hidup ini justru cenderung rileks, positif dan penuh harapan. Sebaliknya tidak jarang juga saya berjumpa orang-orang yang sudah patah arang saat baru mengalami putus cinta atau melalui satu kegagalan.

Emotion capacity uses compassion as its building blocks. Nah, elemen terpenting dalam kapasitas emosi adalah kasih sayang, belas kasih – atau compassion. Mereka yang berkapasitas emosi besar, yang senantiasa berbelas kasih – cenderung lebih mampu, lebih tenang dan lebih sabar menghadapi berbagai situasi hidup. Sehingga tidak heran jika orang-orang ini cenderung akan lebih… sukses menjalani hidup. Tidak yakin? Coba tanya kepada diri sendiri siapa yang akan dipilih sebagai teman kerja – atau teman bisnis anda. Apakah mereka yang berbelas kasih atau sebaliknya, yang kejam dan tega? Jawaban anda juga akan merefleksikan keinginan orang-orang lain untuk bekerja dengan anda. In short, compassion matters in work, business and life.

Compassion is kindness, forgiveness and empathy. Jika anda khawatir orang berbelas kasih akan selalu dikalahkan oleh mereka yang kejam dan tega – pahami bahwa tatanan dunia sudah berubah dan akan semakin menyulitkan mereka yang sekedar bekerja & berbisnis semata untuk keserakahan diri. Ya benar, orang baik juga tetap bisa kalah, namun secara keseluruhan dan dalam horizon waktu panjang, mereka (orang baik) semakin tidak terkalahkan.

Compassion breeds trust – and trust is essential for growth. Pembahasan menarik ini pernah ditampilkan dalam buku Give & Take karya Adam Grant. Melalui sebuah kajian mendalam terhadap ribuan orang dari 2000+ organisasi, didapati kalau orang berbelas kasih mendominasi tangga kepemimpinan organisasi-organisasi keren. Penjelasan mudahnya begini: Walaupun dalam perjalanan karier dan bisnis mereka (orang baik) pernah dikalahkan (oleh mereka yang tidak baik), secara umum orang baik selalu lebih dipercaya, lebih disukai dan lebih dipilih. Kualitas ini mendudukkan orang-orang baik sebagai orang-orang yang lebih berpengaruh dan akan semakin berpengaruh sejalan dengan waktu.

Nice guys finish first – as long as they learn how not to let others take advantage of them. Syaratnya hanya satu: Orang baik harus belajar untuk tidak membiarkan diri dimanfaatkan orang lain. Lagipula, unjuk belas kasih itu menular. Siapapun yang menunjukkannya akan mendapatkannya. Budaya dalam keluarga, organisasi, kota dan bahkan negara akan menggambarkan bagaimana masing-masing warganya memandang, meyakini dan menjalani belas kasih terhadap satu sama lain. Dan tidak ada waktu yang lebih tepat untuk unjuk belas kasih menjelang hari besar Natal ini. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? After all, it’s called compassion because it shelters & embraces the distressed – Budha. Selamat Hari Raya Natal 2016 bagi para pembaca yang merayakannya.

Unjuk belas kasih. Pernah merasakan rasa hangat akibat unjuk belas kasih dari orang lain secara tidak terduga? Atau mungkin justru anda sendiri pelakunya. Bisa ceritakan pada saya? Mohon kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.