Not Knowing is Not a Problem. Not Caring is.

December 10, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Coba jawab 3 pertanyaan ini: (1) Siapa nama anda? (2) Apa misi hidup anda? Dan (3) Berapa jarak antara Banda Aceh dan Jayapura? Jika anda masuk kategori orang normal rata-rata maka dua dari tiga pertanyaan ini bisa dengan relatif muda dijawab. Kecuali anda sedang kena serangan amnesia mendadak, penyebutan nama sendiri sudah pasti bisa dijawab dengan mudah tanpa perlu berpikir panjang. Soal berapa jarak antara Banda Aceh dan Jayapura juga tidak terlampau sulit asalkan ada koneksi internet untuk cari jawabannya di mesin pencari Google. Supaya mudah saya sebut saja sekarang: 5.123 km atau setara dengan 3.073 mil. Gampang kan? Nah, masalah bisa jadi muncul saat harus menjawab pertanyaan terakhir soal misi hidup. Dalam survey informal saya mendapati hanya 1 dari 20 orang yang saya temui bisa menyebutkan dengan tegas dan gamblang misi hidupnya. Selebihnya tidak tahu – atau bahkan lebih menyedihkan lagi, sama sekali tidak peduli. Beberapa alasan yang sering saya dengar: Hidup hari ini saja sudah susah, kenapa harus terlalu memikirkan besok dan masa depan?

Pertanyaan terkait diri dan kehidupan memang tidak pernah mudah dijawab – oleh siapapun. Pemikiran soal siapa saya, apa makna kehidupan bagi saya, apa yang saya cari – dan bagaimana dengan pilihan-pilihan hidup saya dulu, sekarang dan nanti? Lebih lanjut lagi… apakah saya sudah melakukan hal yang benar dengan sekolah disini, punya gelar itu dan bekerja disana? Ini masih belum bicara soal cinta dan pilihan pasangan hidup lho. Bisa jadi waktu yang dihabiskan untuk membahas kehidupan lebih besar dari waktu yang dialokasikan untuk benar-benar hidup.

You can never design your life when you are obsessed with your life. Saya percaya kita semua peduli dengan kehidupan kita masing-masing. Obrolan tentang diri sendiri hampir selalu lebih menarik walaupun jarang diakui. Berapa jam waktu dalam sehari dihabiskan untuk memikirkan, mengkhawatirkan dan memusingkan hidup? Disana ada kalkulasi, spekulasi, analisa tentang bagaimana menjalani kehidupan. Sejujurnya cara-cara lazim seperti ini adalah resep terbaik untuk terobsesi dengan kehidupan, namun resep terburuk untuk menatanya (baca: mendesainnya).

In life: Think less – feel more. Worry less – live more. Sama sekali tidak ada yang aneh saat masih belum tahu siapa saya, tidak paham misi hidup dan masih gamang saat harus menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar diri dalam kehidupan. Kuncinya bukan dengan terobsesi sekedar mencari jawaban jawaban melalui analisa, kalkulasi dan spekulasi. Namun lewat kejujuran, keberanian dan kepedulian saat menjalani setiap saat dalam kehidupan.

It is time to create your very own compass. Ya, semua jawaban akan dihadirkan pada waktu yang tepat setelah terus-menerus menjalani kehidupan yang jujur, berani dan peduli. Ketiga elemen ini adalah pembentuk kompas dalam diri dalam mengarungi kehidupan. Pahami esensi kompas sebagai penunjuk arah, bukan peta yang menunjukkan segala tempat yang terdata. Artinya, kompas bermanfaat untuk membantu memahami sedang berada dimana dan akan mengambil arah mana untuk menuju kemana.

Kebisaan mendesain hidup bermanfaat untuk senantiasa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan tanpa harus menjadikannya terlampau rumit. Jawaban saya tentang “Siapa saya?” – “Kenapa saya ada disini?”… “Apa yang saya yakini?” … dan “Apa yang bisa saya lakukan untuk memaknai kehidupan?” – akan sama sekali berbeda dengan jawaban anda – dan semua orang lain. Makna kehidupan akan muncul bukan saat kita berusaha menjawabnya dengan tepat, namun saat kita menjalani keseharian yang bermakna. We shall not always know where we are going – and that’s okay. But by having our own’s life compass, we can always know whether we are going in the right direction – Bill Burnett.

Siapa anda? Apa misi hidup anda? Apa yang anda yakini dalam kehidupan? Dan bagaimana proses anda menemukan jawabannya? Saya ingin tahu ceritanya – mohon kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.