Problem Finding + Problem Solving = Well Designed Life.

December 3, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

“Ya Allah Sang Pencipta, ringankanlah beban hidup kami, mudahkanlah perkara kami dan kuatkan diri kami untuk menghadapi berbagai cobaan hidup di dunia milikMu ini…” Ini doa yang lazim diucapkan kepada Sang Pencipta oleh banyak orang. Terdengar lazim dan familiar? Sama sekali tidak ada yang salah – bahkan berdoa terbukti sangat baik untuk kewarasan dan kesehatan. Satu-satunya hal yang perlu diingat terkait dengan doa semacam ini adalah persepsi yang muncul atas masalah, perkara dan beban hidup. Kenapa? Karena hidup tanpa mengalami masalah sama sekali tidak bisa dikategorikan kehidupan.

Karena jangan-jangan problem justru dihadirkan agar diri bisa menemukan sejatinya (baca: makna kehidupan). Dan karena perkara dan cobaan hidup mungkin saja adalah alasan penciptaan yang sesungguhnya. Tua – muda. Kaya – miskin. Perempuan – laki-laki. Single – berpasangan. Berkuasa – rakyat, semua pasti tengah menghadapi masalah, problem dan … cobaan hidup.

Berapa banyak manusia yang masih bernafas namun gagal merasakan kehadiran diri sendiri? Hidup terasa sangat sesak, galau – atau bahkan sama sekali hambar tidak ada rasanya. Keseharian tidak ubahnya sebagai rangkaian rutinitas tanpa makna yang harus terus, dan terus, dan terus dijalani tanpa jalan keluar. Segala pilihan hidup terasa sudah dipilihkan oleh orang selain kita, sebelum kita, negara dan masyarakat. Kapan harus sekolah. Sekolah dimana. Kapan harus bekerja. Kapan harus menikah (dan menikah dengan siapa). Kapan harus punya anak. Dan seterusnya. Tidak ada alasan lain bekerja selain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak ada alasan makan dan minum selain karena lapar dan haus. Tidak ada keasyikan berkreasi. Tidak ada kepedulian … Tidak ada kehidupan.

We need to learn to love our problems – and to solve them. Saya berargumen doa pada alinea pertama sah-sah saja selama tidak diucapkan sekedar untuk menghindari problem, masalah dan cobaan. Anda, saya dan kita semua BUTUH mengalami problem, masalah dan cobaan tanpa harus menjadikan diri sebagai pencari masalah, apalagi pembuat onar. Tidak ada yang istimewa – dan bahkan tidak ada yang baik dengan terus menghindari problem, masalah dan cobaan.

Start with where you are, who you are and what you have. Tidak ada yang terlambat sebagaimana tidak ada yang terlalu cepat. Semua – segalanya termasuk masalah problem dan cobaan hidup – dihadirkan tepat pada waktunya dan sesuai pada porsinya. Bukan untuk menyulitkan diri, sebaliknya justru untuk menguatkan. Bayangkan Nelson Mandela tanpa melalui puluhan tahun dibalik jeruji? Bayangkan Thomas Edison saat menghadapi kegagalan ke 7903 dalam proses menciptakan bohlam lampu. Bayangkan siapapun tanpa melalui masalah, problem dan cobaan hidup yang justru mendefinisikan kehidupan dan pencapaian mereka.

Selecting problems to solve = your growth plan | By Bill Burnett. Esensi perjalanan panjang bernama kehidupan, bisnis, dan karier senantiasa diawali dari pemahaman diri dan problem apa yang hendak dipecahkan. Paham diri, keingintahuan akan problem tertentu, kepedulian untuk terus menerus belajar dan kegigihan untuk mencari solusi adalah langkah maju berkesinambungan.

Problem finding + problem solving = Well-designed life. Memahami mana problem yang perlu dipilih – sama, atau bahkan lebih penting dari mencari pemecahannya. Kesalahan memilih, mendefinisikan dan menetapkan problem hanya akan berujung pada waktu dan energi terbuang. Seiring dengan contoh diatas, Nelson Mandela tidak memilih dipenjara sebagai problem yang harus dipecahkan. Sebaliknya, dia memilih problem ini: Bagaimana menyatukan masyarakat Afrika Selatan yang terpecah akibat apartheid. Bagaimana dengan anda?

Terkait dengan hal ini saya jadi teringat ucapan Anies Baswedan: “Pilih jalan mendaki karena itu akan mengantar kita pada puncak-puncak baru.” Ini berlaku untuk siapa saja yang memilih untuk memahami diri dan senantiasa berproses menjadikan diri sendiri dalam versi terbaik.

Apa masalah, problem dan cobaan hidup paling berat – dan anda pilih untuk hadapi? Bagaimana proses pemilihan masalah? Dan bagaimana proses anda menemukan solusinya? Saya ingin mendengar ceritanya – mohon kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.