Why We Love to Hate? And What to Do About That.

November 26, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Punya instagram? Saya baru tahu kalau ternyata terdapat banyak akun-akun anonim yang secara spesifik ditujukan untuk mengejek, menjelekkan dan merendahkan orang-orang (baca: artis dan selebritis) tertentu. Apa isinya? Ya, itu tadi, segala hal tentang si obyek dalam kacamata paling negatif dan jelek. Contohnya beragam mulai dari menjelekkan pilihan baju yang nggak matching, kebiasaan tertentu yang kebetulan tertangkap kamera hingga keseharian yang dianggap tidak baik. Lebih mengherankan lagi, banyak akun-akun ini punya followers hingga belasan, puluhan hingga ratusan ribu. Bagian komentar yang bisa diisi oleh siapapun juga menunjukkan interaksi yang dahsyat. Siapapun bisa berkomentar apapun. Tidak ada postingan yang tidak dikomentari mulai dari cemo’ohan, makian, tawa’an hingga bentuk-bentuk lain yang lebih positif seperti dukungan hingga nasihat religius.

Jujur saya heran. Bayangkan upaya yang harus dikeluarkan untuk membuat, meriset, memposting dan mengelola akun yang mempromosikan kebencian terhadap seseorang? Saya lebih heran lagi saat membandingkan jumlah pengikut (follower) akun-akun tersebut yang jauh lebih banyak dari orang-orang keren yang menurut saya lebih patut diikuti. Ini bukan termasuk diri sendiri yaaa… Sebagai informasi, jumlah follower saya di instagram masih jauh lebih sedikit dibandingkan follower akun suster-nya Ashanty :p Keheranan masih berlanjut saat iseng memperhatikan dinamika, polemik dan debat diantara para follower akun-akun tersebut. Nuansanya sungguh negatif dan … menakutkan. Tidak jarang dinamika diantara para pengikut penuh dengan amarah, makian dan bahkan ancaman.

Hate looks like everybody else until it smiles – Tahereh Mafi. Nah, ini bisa jadi pertanyaan naif: Apakah betul memang jauh lebih mudah membenci daripada mencintai? Do we really love to hate that much? Bisa jadi jawabannya YA – terlebih dengan kehadiran internet dan sosial media. Tidak heran jika dalam publikasi beberapa bulan lalu majalah TIME (18 Agustus 2016) mencatat peningkatan hebat budaya kebencian di – dan melalui internet. Terbukti dengan angka-angka mengerikan seperti 70% pengguna internet berusia 18-24 tahun mengalami serangan kebencian di sosial media. Dan 26% dari wanita pengguna sosial media di Amerika Serikat merasa tidak aman.

When we don’t know who to hate, we hate ourselves – Chuck Palahniuk. Bagaimana mungkin kita bisa dengan serta merta bisa menyebar kebencian pada orang-orang yang tidak kita kenal – dan tidak kenal kita? Atau mungkin justru itu alasannya? Kita bisa menyebar kebencian dengan mudah karena tidak mengenal – dan tidak dikenal secara pribadi. Dan manakah esensi diri yang sesungguhnya? Apakah kesantunan normatif yang ditunjukkan sehari-hari adalah refleksi diri yang sesungguhnya? Atau justru kegarangan dan kebencian adalah sebenar-benarnya diri kita yang sejati?

None of us is really immune to hate. Tidak peduli se-OK apapun reaksi kita saat berhadapan dengan kebencian, terutama yang ditujukan secara spesifik pada diri, jika tidak dihadapi dengan benar & baik maka hanya akan berujung pada keresahan, kecemasan dan kehancuran diri. Apa yang bisa dilakukan:

Cuekin. Sebisa mungkin tidak perlu dipedulikan komentar-komentar kebencian. Apapun hal kreatif (terlebih kontroversial) pasti mengundang reaksi. Kebencian – yang paling ekstrem sekalipun, adalah bentuk perhatian.

Analisa. Bedakan antara reaksi kebencian dan kritik membangun. Kritik bisa jadi bermanfaat dalam meningkatkan kinerja dan proses berkarya – perhatikan dan pahami.

Lupakan. Jika sudah dibaca dan dipahami sebagai reaksi kebencian, lupakan saja. Tidak ada gunanya membahas lebih lanjut, apalagi beradu argumen. Haters gonna hate no matter what.

Lanjutkan. Terlalu banyak dan terlalu sering orang mundur melalukan apapun akibat reaksi kebencian. Satu kesalahan tidak akan mendefinisikan kita, kecuali jika kita sendiri izinkan. Saat melakukan sesuatu yang penting dan berdampak pada banyak orang dipastikan akan memunculkan dinamika. Ada yang sepakat atau sebaliknya. Ada yang benci atau sebaliknya. Jalan terus. Tetap belajar dan jangan jadikan kebencian sebagai penghalang untuk berkarya – apalagi mencintai. Tulisan ini saya tutup dengan kutipan keren dari Martin Luther King Jr.: “Darkness cannot drive darkness, only light can do that. Hate cannot drive out hate, only love can do that.”

Pernah harus berhadapan dengan haters? Pilihan-pilihan apa saja yang anda tempuh – dan bagaimana hasilnya? Saya ingin mendengar ceritanya – mohon kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.

You Might Like This