Are We Doing It For The Bosses or Masses?

November 24, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

 

Ini opini pribadi yang bisa jadi muncul pada banyak tempat: Para pemimpin (baca: boss) hampir selalu tidak menyadari saat orang-orang terbaik meninggalkan organisasi.

Lebih jauh lagi, si boss bahkan tidak sadar telah ditinggalkan. Tidak paham siapa saja yang masuk kategori orang terbaik. Dan apa alasan orang-orang terbaik itu memilih pergi.

Khusus untuk pertanyaan terakhir jawabannya sangat gamblang walaupun tidak selalu diungkapkan dengan jujur dan terbuka: Orang-orang terbaik pergi yaaa… (seringkali) karena si boss itu sendiri. Bukan tentang perusahaan, bukan soal gaji dan bukan (cuma) karena ditawari pekerjaan baru yang lebih kinclong. Itu sekedar alasan yang dimunculkan saat exit interview. Secara umum orang-orang terbaik keluar karena TIDAK merasa (pilih salah satu atau lebih: dihargai, dihormati, dipercayai, dipedulikan, dipimpin atau di-tumbuhkembangkan) oleh pemimpin mereka.

Ini masih opini – walaupun saya duga lagi-lagi terjadi pada banyak tempat. Sebagian besar organisasi, perusahaan dan perkumpulan dibentuk untuk melayani para pemimpinnya, bukan mayoritas karyawannya.

Tidak percaya?

Coba jawab dan renungkan beberapa hal berikut:

Berapa banyak sambutan setiap kali dilangsungkan acara internal organisasi?

Siapa penikmat utama setiap acara-acara tersebut?

Mana yang lebih banyak menyita perhatian: antisipasi keinginan, kebiasaan & kemauan si boss – atau pembahasan soal hal-hal apa yang kira-kira disukai oleh karyawan?

Terakhir, mana yang lebih sering mendominasi dalam meeting-meeting: perintah dan pernyataan para boss – atau obrolan dan interaksi karyawan?

People quit people, not companies – John C. Maxwell.

Tidak ada yang lebih buruk daripada organisasi yang harus terus menerus mencari orang-orang baru untuk menggantikan orang-orang terbaik yang memilih untuk pergi.

Selain boros dari segi duit dan waktu, kondisi ini mempertegas kepedulian pemimpin organisasi semata pada urusan angka, bukan para pelakunya (baca: manusia).

Nah, ini adalah indikasi jelas pemimpin buruk yang sedang mengelola organisasi buruk.

The loss of your organization = the gain for other organizations.

Kepergian orang-orang terbaik juga berarti organisasi akan semakin dijejali oleh mereka yang hanya bisa patuh, taat dan puas dengan apapun ala kadarnya. Dan termasuk dalam kategori ini sebenarnya adalah para boss itu sendiri. Sementara orang-orang terbaik yang pergi tadi justru akan bekerja, berkiprah dan berkontribusi pada organisasi-organisasi lain.

Organizations are built for the masses, not just for the people on top.

Tulisan ini sama sekali bukan untuk ajang nyinyir bagi para boss… oh, walau mungkin juga ada benarnya… namun ditujukan bagi para pemimpin yang belum masuk kategori keren namun ingin memperbaiki diri.

Bagaimana caranya?

Pahami kalau organisasi dibangun untuk seluruh anggotanya, bukan sekedar anggota senior atau anggota khusus atau anggota tertentu.

Bagaimana dengan para boss? Mereka memang orang-orang istimewa, bukan karena status atau posisi dalam organisasi. Namun karena pilihan untuk mengambil peran dan tanggung jawab atas kehidupan setiap orang yang tergabung dalam organisasi. Bahkan bisa jadi lebih luas dari itu.

Para boss sebaiknya segera menanggalkan status boss dan mengambil peran sebagai pemimpin. Dan pemimpin sudah istimewa tanpa harus minta diistimewakan. Sang pemimpin semakin istimewa saat tidak melihat dirinya istimewa – dan justru mengistimewakan semua orang selain dirinya. Betapa indahnya jika desain organisasi, inisiatif dan kegiatan senantiasa memegang pedoman ini.

Leadership is about taking responsibility for lives, not numbers. Managers look after our numbers & results. While leaders look after us” – Simon Sinek.

Photo #WHPrealemojis by @caramarie.ny

Pernah mengamati punya pengalaman dengan si boss yang senantiasa menuntut untuk diistimewakan? Atau sang pemimpin yang justru mengistimewakan anda?

Saya tertarik menyimaknya. Kirim tulisan, cerita dan komentar ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.