Diversity is a Necessity!

November 19, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Berhubung para boss perusahaan ini lulusan perguruan tinggi negeri tertentu maka sedapat mungkin karyawan yang masuk juga berasal dari perguruan tinggi yang sama. Pernah dengar cerita seperti ini? Tidak heran jika ada istilah “mafia” UI, UGM atau IPB yang mendominasi organisasi bahkan industri tertentu. Sekarang sudah jauh lebih baik terlebih dengan munculnya berbagai perguruan-perguruan tinggi swasta yang tidak kalah keren. Namun problem serupa masih menghantui banyak organisasi: minimnya keberagaman dalam organisasi. Dan lebih buruk lagi, masih banyak organisasi belum menyadari pentingnya mengupayakan, mempertahankan dan membiasakan keberagaman dalam organisasi. Masih terlalu banyak organisasi yang didominasi kelompok umur, gender, ras, suku, agama, kelebihan atau keterbatasan fisik tertentu hingga soal cara pandang hidup. Para Direktur didominasi kelompok 50 tahun keatas, General Manager 40an, Manager 30an dan millenials mengisi posisi-posisi junior. Nuansa keseragaman bisa dirasakan dengan mudah saat mendengar bahasa daerah tertentu seolah telah menjelma jadi tiket untuk bisa diterima sepenuhnya. Atau coba perhatikan wajah-wajah dalam ruang meeting – dominasi tersebut dengan mudah dan cepat bisa terbaca.

Apa salahnya mempekerjakan orang-orang dari perguruan tinggi tertentu saja yang notabene punya sejarah panjang menghasilkan lulusan terbaik? Bukankah lebih baik – atau lebih tidak beresiko jika mengandalkan lulusan berkualitas dari perguruan tinggi tertentu? Jawaban mudahnya orang-orang yang berasal dari perguruan tinggi atau punya latar belakang sama cenderung berpikir dan bekerja dengan cara yang sama. Artinya hampir pasti tidak akan ada terobosoan kreatif dan inovasi relevan. Tidak terlalu masalah jika organisasi tidak tengah menghadapi iklim bisnis yang berubah-ubah. Nah, problemnya, hampir tidak ada bisnis yang tidak terpengaruh perubahan dahsyat yang telah, masih dan akan terus berlangsung. Sebut saja apps economy, sharing economy dan gig economy yang telah mengubah wajah industri transportasi, perhotelan, keuangan dan seterusnya.

Diversity is no longer a choice to compete – it has become a necessity. Secara intuitif kita tahu keberagaman punya banyak manfaat namun terkadang dikalahkan oleh faktor kenyamanan – dan kebiasaan.

Banyak sekali kajian dan laporan tentang pentingnya keberagaman (diversity) dalam organisasi – dan industri. Sebut saja kajian McKinsey yang menyebutkan bahwa perusahaan dengan keberagaman gender berpeluang 15% melebihi kinerja perusahaan secara rata-rata. Prosentase lebih besar, 35% terjadi pada perusahaan yang memperjuangkan keberagaman etnis.

Diversity: the art of thinking independently together – Malcolm Forbes. Dunia yang telah dan akan semakin mengglobal mempersyaratkan keharusan bagi organisasi – dan individu manapun untuk bisa menerima keberagaman. Terlebih untuk Indonesia yang relatif tergolong homogen dalam hal agama, suku, bahasa dan struktur sosial politik. Sekarang sudah bukan lagi bagaimana menjembatani hubungan antara masyarakat di Jakarta dan daerah lain – atau Jawa dan luar Jawa. Jauh lebih luas dari itu, bagaimana sebuah inisiatif dari Silicon Valley, California, Amerika Serikat bisa sedemikian berpengaruh pada kehidupan seluruh supir taksi di kota-kota Indonesia.

If we cannot now end our differences, at least we can help make the world safe for diversity – John F. Kennedy. Keberagaman adalah konsep dinamis yang keseimbangannya wajib terus dijaga. Dominasi kelompok tertentu hanya akan memastikan keseragaman yang sudah pasti berujung pada eksklusivitas, stagnasi bahkan kemunduran.

Pada akhirnya keberagaman dirayakan dengan memberi peluang bagi segenap individu untuk mengekspresikan individuality, authenticity and creativity masing-masing. Ini bukan semata soal berapa prosen orang Islam berbanding agama lain, suku Jawa berbanding suku lain atau perempuan berbanding laki-laki – atau mereka yang berorientasi seksual lain. Ini soal bagaimana seorang Islam, Jawa & perempuan diberi peluang untuk menjadi dirinya sendiri seutuhnya. Keberagaman dirayakan dengan menerima, menghargai dan mensyukuri setiap perbedaan. Strength lies in differences, not similarities – Stephen Covey.

Apakah anda punya kesempatan dalam mengekspresikan keunikan diri? Bagaimana juga dengan situasi keberagaman di tempat kerja anda dan pengaruhnya pada kinerja organisasi? Saya ingin mendengar ceritanya – mohon kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.