Responding, Not Reacting.

November 12, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Heboh! Akhir pekan lalu saya dapat pelajaran berharga. Berawal dari kekhawatiran demonstrasi besar yang melanda Jakarta, saya merasa perlu bereaksi dengan mengungkapkan pemikiran melalui sosial media. Tanpa perlu membahas ulang isi twit saya, namun reaksi yang saya terima sungguh heboh. Bagi sebagian teman dan kenalan, saya dipersepsikan memperkeruh suasana, tidak sensitif terhadap ketakutan orang lain hingga mengamini tindakan anarkis pada warga minoritas. Malam itu saya menerima ratusan twit bermacam-macam mulai dari dukungan hingga makian, celotehan hingga hujatan dan sapaan agar tabah hingga komentar penuh amarah. Jika makian, tuduhan & serangan datang dari orang tidak dikenal tentu bisa tidak terlampau dihiraukan, namun justru komentar dari orang-orang yang saya anggap kenal dan dekat. Itu lebih menyesakkan. Dan tidak bisa tidak pendapat mereka penting untuk disimak dan diperhatikan.

Awalnya sempat tergoda untuk membela diri dengan menawarkan berbagai fakta dan argumen. Namun reaksi tersebut saya rasa justru hanya akan menambah panjang keriuhan – yang notabene juga diawali oleh saya. Walhasil.. setelah menunggu beberapa saat untuk berdiam diri saya minta maaf setulus mungkin dan menerima semua makian dan tuduhan dengan degub jantung lebih kencang. Apa boleh buat? It’s time to bite the bullets.

I reacted and in turn, I received inevitable consequent reactions. Pelajaran penting disini bisa dirangkumkan kedalam satu kata: REAKSI. Saya beREAKSI atas suatu kejadian untuk kemudian memperoleh REAKSI susulan dari banyak orang lain. Disebut reaksi karena dilakukan tanpa pemikiran panjang, minim kepedulian dan semata untuk memuaskan ego. Reaksi seringkali dipicu oleh emosi negatif seperti takut, amarah dan kecewa. Sekedar bereaksi hampir selalu hanya akan menambah kisruh suasana.

Responding is never about just reacting. Berbeda dengan reaksi, respon muncul dari pertimbangan untuk tidak sekedar bereaksi. Respon terkait dengan upaya berempati atas apa yang mungkin dirasakan orang lain saat kita mengatakan atau melakukan hal tertentu. Dalam merangkai respon terdapat elemen logika, kepedulian dan kasih sayang. Berdasarkan ilustrasi ini sudah jelas saya mengawali huru-hara dengan hanya sekedar bereaksi, bukan merespon – yang kemudian disambut secara berantai dengan rangkaian reaksi lain.

Do you have the patience to wait until your mud settles and the water is clear – Lao Tzu. Bagaimana supaya tidak sekedar bereaksi dan mengalami apa yang saya alami minggu? Ternyata ada beberapa cara mudah yang saya pelajari melalui beberapa video mindfulness dari berbagai praktisi di seluruh dunia. Walaupun terdapat banyak pendekatan namun beberapa prinsip yang sama dalah sebagai berikut:

Pertama, saat terjadi suatu keadaan yang mengusik emosi, hal pertama yang hendak kita lakukan / tulis / kerjakan adalah REAKSI. Cegah. Tunda. Apapun itu, jangan dilakukan, jangan ditulis dan jangan dikerjakan.

Kedua, berdiam diri sejenak – jangan bertindak apapun, pusatkan perhatian pada sekedar bernafas. Kenali dan akui saja pemikiran yang berputar keras. Proses ini bisa berlangsung beberapa detik, menit atau jika perlu jam.

Terakhir, amati bagaimana setiap saat berlalu maka keinginan untuk bereaksi akan semakin berkurang. Pada akhirnya mungkin tidak lagi ada niat untuk melakukan / menuliskan / mengatakan apapun – bisa jadi memang lebih baik begitu. Dan jika harus melakukan / menuliskan / mengatakan sesuatu akan didasari oleh pertimbangan yang didasari oleh logika, kasih sayang dan kepedulian.

Dalam hidup berbagai situasi akan muncul di hadapan kita. Mulai dari urusan paling remeh hingga kompleks. Pilihan untuk bereaksi – atau menunda sejenak untuk merespon senantiasa terbuka setiap saat untuk setiap orang. Bereaksi selalu lebih cepat dan mudah. Namun merespon akan menjadikan banyak hal sedikit lebih baik setiap saat. How people treat you is their karma, how you react is yours – Wayne Dyer.

Nah, setelah membaca tulisan diatas apakah pernah hanya sekedar bereaksi dan berujung pada keruwetan? Atau sebaliknya, mampu berhenti sejenak sebelum merespon dengan baik? Saya ingin mendengar ceritanya – mohon kirim ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.

You Might Like This