Let’s Reimagine Education. Together.

November 5, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Belum lama ini seorang teman bercerita kalau anaknya yang akan segera menuntaskan pendidikan menengah berniat untuk ikut program beasiswa sebuah perguruan tinggi terkemuka di Jakarta. Wah! Keren dong pastinya. Paham mau lanjut kuliah ke kampus mana. Sudah tahu jurusan yang diminati. Dan hendak ambil beasiswa. Orang tua mana yang tidak bangga. Nah, menariknya ternyata formulir keikutsertaan program beasiswa ini harus dibeli dengan harga ratusan ribu. Hmmm… sekarang mulai terasa aneh. Jika peruntukannya beasiswa, kenapa harus dijual? Namun karena sudah terlanjur, teman saya mengiyakan saja dan memberikan uang yang dibutuhkan. Saat diteliti ternyata besaran “beasiswa” yang mungkin diterima adalah sebesar maksimal 20%, tergantung dari nilai ujian masuk yang diperoleh. Kami – teman saya tadi dan saya jadi berandai-andai seandainya formulir seharga ratusan ribu tadi laku terjual ribuan, maka dana yang diperoleh sudah lebih dari mencukupi kebutuhan membayarkan biaya beasiswa yang sudah pasti tidak akan diberikan kepada seluruh pendaftar. Bahkan dana terkumpul juga sudah cukup memadai untuk punya laba yang sehat. Katakanlah formulir seharga Rp. 300,000 jika dikalikan 5000 sudah Rp. 1.5 M. Wow. Hebat juga cara kerja institusi (baca: bisnis) pendidikan tinggi.

Cerita nyata diatas adalah potret dunia pendidikan tinggi di negeri ini – bisa jadi juga berlaku pada banyak tempat di dunia. Pendidikan telah menjelma jadi bisnis yang menggiurkan. Alasan mudahnya mungkin karena semua sepakat pendidikan itu penting – terlebih pendidikan tinggi, namun pertanyaannya pendidikan macam apa? Apakah sekedar mengejar sehelai kertas berjudul ijazah dari institusi terkemuka? Apakah cukup dengan mempunyai IPK minimal 3.5? Atau berhak mencantumkan gelar-gelar pendidikan pada awal dan akhir nama masing-masing? Itukah pendidikan?

Education = empowerment. Pendidikan, terutama pendidikan tinggi saat ini boleh dibilang telah gagal memenuhi tuntutan perkembangan zaman. Pendidikan tinggi sibuk mempersiapkan mahasiswa untuk masa lalu, bukan masa depan. Pendidikan tinggi terlatih untuk membuat dan menempatkan manusia pada kotak-kotak tertentu… yang akan segera menghilang. Dan secara umum para pelaku pendidikan semakin terputus dari ekosistem masyarakat-pendidikan-bisnis.

Tidak percaya? Laporan BCG menyebut gap 56% antara demand-supply untuk mengisi pos-pos manajemen madya di Indonesia pada tahun 2020. Laporan lain menyebut hanya 28% lulusan perguruan tinggi Indonesia masuk kategori employable (baca: bisa segera dipekerjakan). Masih banyak indikator-indikator lain namun anda juga bisa mencari tahu sendiri dengan ngobrol bareng para penggiat usaha dan pemangku organisasi tentang sulitnya mencari tenaga kerja. Ternyata lulus, punya gelar, berhasil meraih IPK tinggi TIDAK SAMA dengan punya kecakapan bekerja, berkarya dan berkreasi.

Our education nowadays is killing creativity, individuality & authenticity. Saya menduga dunia pendidikan secara sadar atau tidak telah terlampau komersial dan menjadikan proses mendidik bagaikan perdagangan komoditas. Pendidikan tidak tepat guna butuh pemikiran, penyesuaian dan pelaksanaan yang sama sekali berbeda.

Jika terus berlanjut, saya khawatir dunia pendidikan saat ini serupa dengan industri transportasi sebelum munculnya platform-platform semacam Uber, Grab dan Ojek. Atau kondisi musik saat sebelum munculnya Apple Music dan Spotify.

Saya mengandaikan pendidikan sebagai sebuah perjalanan mencari, menemukan dan menumbuhkembangkan diri sesuai kodrat melalui karya-karya. Saya membayangkan ekosistem semua murid – semua guru, saat proses pendidikan dilakukan oleh semua orang dari berbagai industri dan organisasi sepanjang masa. Semua peserta didik bisa mendesain hidup mereka sendiri dan bisa menggunakan berbagai platform untuk menjalaninya. Mimpi ini akan mulai kami wujudkan hari ini (Sabtu, 5 November 2016) saat memulai inisiatif Limitless Campus: Skills to Design Your Life. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?

Limitless Campus: Skills to Design Your Life memfokuskan diri pada 3 hal: Paham Diri, Kenal Lingkungan & Ambil Peran. Jika anda tertarik untuk tahu lebih jauh atau bahkan berniat untuk terlibat sebgai guru, mentor atau coach, silahkan berkabar melalui rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC. Let’s reimagine education together.